
BENTROK - Fans Glasgow Rangers dan Glasgow Celtic bentrok usai laga perempat final Piala Skotlandia, Minggu (8/3/2026). (the sun)
Kepala Kepolisian wilayah tersebut, Kate Stephen, mengecam keras perilaku para suporter yang terlibat kerusuhan.
Ia menyebut tindakan tersebut sebagai perilaku memalukan yang tidak dapat diterima dalam dunia sepak bola maupun masyarakat luas. Pihaknya akan menelusuri aktor pelaku kerusuhan.
“Perilaku sejumlah pendukung dalam pertandingan perempat final Piala Skotlandia antara Rangers dan Celtic hari ini sangat memalukan. Hal ini harus dikutuk oleh semua pihak yang terlibat dalam sepak bola dan masyarakat secara luas,” ujar Stephen dalam pernyataan resminya.
Menurutnya, polisi telah melakukan sejumlah penangkapan terkait insiden tersebut. Pihak kepolisian juga akan bekerja sama dengan kedua klub serta Scottish Football Association untuk melakukan penyelidikan menyeluruh.
Stephen menambahkan bahwa petugas keamanan menghadapi permusuhan dan kekerasan yang cukup ekstrem selama insiden berlangsung. Beberapa orang, termasuk petugas dan warga sipil, dilaporkan mengalami luka-luka.
Penyelidikan juga akan mencakup insiden sebelum pertandingan dimulai. Kepolisian mencatat adanya sejumlah pendukung yang mencoba masuk ke tribun tanpa tiket, sehingga memaksa petugas menutup pintu masuk stadion untuk sementara waktu.
Sementara itu, Scottish Football Association menyatakan akan segera membuka investigasi resmi terhadap insiden yang terjadi setelah pertandingan.
Dalam pernyataan singkatnya, badan sepak bola Skotlandia itu menegaskan bahwa mereka mengecam perilaku suporter yang memasuki lapangan setelah pertandingan.
Insiden tersebut terjadi pada derby “Old Firm” pertama sejak 2018 yang memungkinkan Celtic membawa jumlah besar pendukung ke stadion Ibrox.
Dalam laga ini sekitar 7.500 suporter Celtic diizinkan hadir di tribun tandang, sesuai aturan kuota 20 persen tiket bagi tim tamu dalam pertandingan Piala Skotlandia.
Namun kerusuhan yang terjadi justru memunculkan kekhawatiran baru terkait kebijakan tersebut. Banyak pihak menilai insiden ini dapat mempersulit upaya mengembalikan kuota besar suporter tandang dalam derby antara dua klub terbesar di Glasgow itu.
Pertandingan yang semula berlangsung sengit dan menarik akhirnya tercoreng oleh aksi kekerasan para suporter, meninggalkan catatan kelam bagi salah satu rivalitas paling panas dalam sepak bola Eropa. (*)








