Subuh belum tiba. Tamalanrea masih diselimuti gelap. Di sebuah rumah panggung berdinding seng merah, seorang mahasiswa perlahan menuruni tangga kayu yang sudah reyot.
Ia berusaha agar langkahnya tidak membangunkan teman-temannya yang masih terlelap. Udara dini hari terasa dingin, sangat berbeda dengan panas menyengat yang akan memenuhi rumah itu ketika matahari mulai meninggi.
Namanya Takdir Saili. Namun, teman-teman dekatnya lebih sering memanggilnya Lairi.
Di belakang rumah panggung itu terdapat sebuah sumur kecil, diameternya hanya sekitar satu meter. Di tempat itulah para penghuni pondokan mandi, mencuci pakaian, dan mengambil air untuk keperluan sehari-hari.
Takdir membasuh wajahnya, mengambil air wudhu, lalu berjalan menuju masjid yang letaknya tidak jauh dari pondokan.
Seusai salat Subuh, ia kembali bersiap menjalani hari sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin. Dari pondokan itu, ia berjalan kaki menyusuri kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan VIII, kemudian melintasi jalan raya menuju Kampus Unhas Tamalanrea.
Pada akhir 1980-an, kawasan Tamalanrea belum seramai sekarang. Kendaraan belum sebanyak hari ini. Di sepanjang perjalanan, Takdir melewati jalanan yang masih lengang, sementara matahari perlahan muncul dari ufuk timur.
Takdir tidak sedang membayangkan dirinya menjadi rektor. Ia hanya seorang mahasiswa asal Baubau yang ingin menyelesaikan kuliah, mendapatkan pekerjaan, dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
"Saya hanya membayangkan bisa hidup cukup dan bisa mengajar," kenangnya bertahun-tahun kemudian.
Rumah panggung yang ditinggalinya itu bernama Pondok King. Letaknya di kawasan Jalan Perintis Kemerdekaan Kilometer 10, Tamalanrea, Makassar. Bangunannya sederhana, terbuat dari kayu, beratap seng, dengan dinding seng yang dicat merah.
Ketika siang tiba, panas di dalam rumah itu menyerupai oven. Namun, bagi sejumlah mahasiswa asal Buton yang merantau ke Makassar, Pondok King adalah tempat mereka berbagi kehidupan, persahabatan, dan mimpi tentang masa depan.
Penghuni Pondok King semuanya laki-laki. Di depannya terdapat pondokan lain bernama Pondok Kong, yang dihuni para mahasiswi. Dua pondokan itu menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa perantauan asal Buton yang sedang menuntut ilmu di Makassar.
Kehidupan di Pondok King jauh dari kemewahan. Untuk mandi, mencuci pakaian, atau buang air, para penghuninya harus menuruni tangga kayu menuju sumur kecil di belakang rumah.
Fasilitas yang terbatas membuat mereka terbiasa berbagi. Uang kiriman dari kampung harus dihemat, sementara mi rebus menjadi salah satu makanan yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.
Namun, dari rumah sederhana itulah tumbuh persahabatan yang bertahan hingga puluhan tahun.
Takdir datang ke Makassar pada 1987 setelah menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Baubau. Sebelumnya, ia bersekolah di SD Negeri 1 Wajo Baubau dan SMP Negeri 1 Baubau. Prestasi akademiknya membuat ia diterima di Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin melalui jalur bebas tes.
Di antara penghuni Pondok King, Takdir dikenal sebagai mahasiswa yang pintar dan tekun. Namun, ada satu kebiasaan yang membuatnya berbeda. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di kandang ternak daripada di pondokan.
Bagi mahasiswa peternakan, kandang merupakan bagian penting dari proses belajar. Di sanalah teori yang diperoleh di ruang kuliah diuji melalui praktik. Takdir termasuk mahasiswa yang menikmati kegiatan tersebut.
Kesibukannya di kandang bahkan membuat teman-temannya lebih sering menemukannya di lingkungan fakultas daripada di Pondok King.
Darwin Ismail, yang akrab dipanggil Edi, masih mengingat kemampuan akademik Takdir pada masa itu. Menurutnya, Takdir kerap membantu mahasiswa lain yang membutuhkan bimbingan.
"Dia pintar. Di masa itu, sering jadi mentor anak-anak perikanan angkatan pertama Universitas Dayanu Ikhsanuddin atau Unidayan Baubau, yang saat itu konsultasi skripsi ke dosen-dosen pertanian Unhas," kenang Darwin.
Cerita Darwin memperlihatkan bahwa sejak mahasiswa, Takdir sudah terbiasa berbagi pengetahuan. Ia tidak hanya belajar untuk dirinya sendiri, tetapi juga membantu mahasiswa lain yang menghadapi persoalan akademik.
Ada pula cerita dari Ismet Karnawan, salah seorang yang mengenal Takdir sejak masa kuliah. Ismet mengingat sosok Takdir sebagai mahasiswa yang memiliki sifat kebapakan, meskipun mereka sama-sama masih muda.
"Dia juga kebapakan. Dulu awal-awal kuliah, saya belum punya KTP. Bapak kirim wesel ke Takdir Saili untuk diteruskan ke saya," kenang Ismet.
Cerita tentang wesel itu mungkin terdengar sederhana bagi generasi sekarang. Namun, pada akhir 1980-an, ketika belum ada telepon genggam, transfer perbankan digital, atau dompet elektronik, pengiriman uang melalui wesel merupakan salah satu cara orang tua membiayai kehidupan anak-anaknya yang sedang kuliah di luar daerah.
Kepercayaan ayah Ismet kepada Takdir memperlihatkan bagaimana ia dipandang sebagai sosok yang dapat diandalkan. Bahkan untuk urusan uang kiriman dari kampung, Takdir menjadi orang yang dipercaya.
Di luar kegiatan akademik, Takdir juga aktif dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Ia pernah menjadi Ketua Remaja Muslim Pondokan Tamalanrea. Bersama teman-temannya, ia sering menyelenggarakan kegiatan keagamaan di halaman depan pondokan.
Halaman yang tidak terlalu luas itu menjadi tempat berkumpul mahasiswa. Di tengah kehidupan yang serba terbatas, mereka tetap menyediakan waktu untuk kegiatan bersama.
Pondok King bukan sekadar tempat tidur setelah seharian kuliah, melainkan juga ruang pertemanan, tempat berbagi cerita, dan membangun solidaritas sesama anak rantau.
Pengalaman hidup di Pondok King tampaknya turut membentuk cara Takdir memandang kehidupan. Ia belajar tentang kesederhanaan, tanggung jawab, dan pentingnya saling membantu. Semua berlangsung secara alamiah, melalui pergaulan sehari-hari dengan sesama mahasiswa yang jauh dari keluarga.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Peternakan Unhas pada 1992, Takdir kembali ke Sulawesi Tenggara. Ia sempat bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Peternakan Sulawesi Tenggara, termasuk mendampingi peternak di kawasan transmigrasi.
Dua tahun kemudian, pada 1994, ia diterima sebagai dosen Universitas Halu Oleo. Sejak itulah perjalanan panjangnya sebagai akademisi dimulai.
Takdir melanjutkan pendidikan magister dan doktoral di Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia juga memperoleh pengalaman akademik di Jepang. Kariernya terus berkembang hingga dipercaya menduduki berbagai jabatan penting di UHO, mulai dari Kepala Laboratorium, Ketua Jurusan, Dekan Fakultas, Ketua Senat Akademik, hingga Direktur Pascasarjana.
Selama lebih dari tiga dekade, ia menjalani kehidupan sebagai dosen, peneliti, dan pengelola perguruan tinggi. Mahasiswa yang dahulu rajin menghabiskan waktu di kandang ternak kini menjadi profesor yang membimbing mahasiswa magister dan doktor.
Meski telah menjadi profesor dan menduduki berbagai jabatan penting di universitas, Takdir rupanya masih menyimpan keakraban dengan teman-teman lamanya di Pondok King.
Arsan Fitri, salah seorang juniornya di pondokan tersebut, punya cerita menarik. Pada Mei 2026, keduanya bertemu dalam sebuah kegiatan Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin (IKA Unhas). Ketika itu, nama Takdir mulai diperbincangkan sebagai salah satu calon Rektor Universitas Halu Oleo.
Arsan yang mengenalnya sejak masih menjadi mahasiswa di Tamalanrea penasaran. Ia pun menanyakan secara langsung bagaimana peluang seniornya itu untuk menjadi rektor.
Takdir tidak menjawab dengan perhitungan suara ataupun strategi memenangkan pemilihan. Ia justru memberikan jawaban yang membuat Arsan tersenyum.
"Saya ikuti saja apa yang menjadi jalan takdir saya. Apalagi nama saya Takdir," katanya sambil tertawa.
Bagi Arsan, jawaban itu memperlihatkan sisi Takdir yang masih dikenalnya sejak masa-masa di Pondok King. Di tengah pembicaraan tentang jabatan dan persaingan menjadi rektor, Takdir masih bisa menertawakan namanya sendiri.

Lima bulan setelah pertemuan itu, tepatnya pada 13 Oktober 2026, jalan takdir yang pernah mereka bicarakan akhirnya membawa Takdir Saili ke kursi Rektor Universitas Halu Oleo.
Dalam pemilihan rektor periode 2026–2030, ia memperoleh 42 suara, mengungguli Ida Usman yang meraih 18 suara dan Herman dengan 13 suara. Dari 74 suara yang masuk, satu dinyatakan tidak sah.
Takdir pun terpilih sebagai Rektor UHO.
Kemenangan tersebut tentu menjadi pencapaian penting dalam karier akademiknya. Namun, bagi teman-teman yang mengenalnya sejak di Tamalanrea, mungkin ada kenangan lain yang lebih dekat dan personal.
Mereka pernah hidup bersama seorang mahasiswa bernama Lairi, yang tinggal di rumah kayu berdinding seng merah, mandi di sumur kecil, rajin ke kandang, dan dipercaya menerima wesel kiriman orang tua temannya.
Dalam sebuah wawancara pada Mei 2025, Takdir pernah mengungkapkan pandangannya tentang jabatan yang hendak diraihnya." Saya tidak mengejar jabatan. Saya hanya ingin memastikan kampus ini tetap menjadi tempat lahirnya ilmu, tempat bertumbuhnya manusia," ujarnya.
Ia juga tidak melupakan kampus yang membentuk dirinya. "Unhas bukan sekadar tempat kuliah. Ia mengajari saya menjadi manusia," katanya.
Kini, hampir empat dekade setelah pertama kali datang ke Makassar, Takdir Saili mendapat kepercayaan memimpin salah satu perguruan tinggi terbesar di Sulawesi Tenggara.
Barangkali tidak banyak orang yang mengetahui bahwa perjalanan menuju kursi rektor itu pernah melewati sebuah pondokan sederhana di Tamalanrea. Sebuah rumah kayu yang panas pada siang hari, dengan tangga reyot menuju sumur kecil di belakangnya.
Pondok King mungkin sudah berubah, atau bahkan tidak lagi seperti yang diingat para penghuninya. Namun, bagi mereka yang pernah tinggal di sana, kenangan tentang rumah itu tentu masih hidup. Mereka pernah berbagi kamar, makanan, sumur kecil, dan cerita tentang masa depan.
Salah seorang penghuninya kini terpilih menjadi rektor. Ia pernah menjadi mahasiswa yang turun dari rumah panggung sebelum Subuh, mengambil air wudhu di sumur kecil, lalu berjalan kaki menuju Kampus Unhas Tamalanrea. Ketika itu, cita-citanya sederhana. Ia hanya ingin hidup cukup dan menjadi pengajar.
Hampir empat dekade kemudian, jalan hidup membawanya jauh melampaui apa yang pernah dibayangkannya.
Barangkali benar apa yang dikatakannya kepada Arsan Fitri dalam pertemuan mereka beberapa bulan sebelumnya. Ia hanya mengikuti jalan takdirnya.
Namanya memang Takdir Saili. Tetapi bagi kawan-kawan lamanya di Pondok King, ia tetap Lairi.
Takdir Saili bersama rekan-rekannya di Pondok King, Tamalanrea








