Sport

Malam Terakhir Sang Maestro, Tangis Panjang Messi di New Jersey

Lionel Messi terisak setelah kalah di final Piala Dunia melawan Spanyol. (The sun)

NEW JERSEY, UNHAS.TV - Empat hari sebelumnya, Lionel Messi menangis bahagia di Atlanta. Namun pada malam yang muram di Stadion MetLife, New Jersey, air mata itu berubah menjadi kesedihan.

Peluit panjang belum lama berbunyi ketika kapten Argentina tersebut duduk terpaku di rumput, menundukkan kepala, lalu mengusap matanya berulang kali.

Argentina kalah 0-1 dari Spanyol melalui perpanjangan waktu. Ferran Torres menjadi penentu setelah menghantam bola ke gawang Emiliano Martinez pada menit ke-106.

Gol itu seperti mengakhiri dua hal sekaligus: perjalanan Argentina di Piala Dunia dan, hampir pasti, karier Messi di turnamen terbesar sepak bola.

Kekalahan tersebut terasa lebih menyakitkan karena datang setelah permainan yang sangat berhati-hati. Sepanjang 90 menit, Argentina tidak melepaskan satu pun tembakan.

Mereka baru mencatat tiga percobaan saat laga berlanjut ke babak tambahan, tetapi tak satu pun mengarah tepat ke gawang. Sebaliknya, Spanyol membombardir pertahanan lawan dengan 20 peluang.

Di sisi lapangan, Lionel Scaloni tampak sulit menerima kenyataan. Rencana bermain konservatif yang ia susun untuk menahan Spanyol justru berbalik menjadi perangkap.

Argentina bertahan terlalu dalam, kehilangan keberanian menyerang, dan membiarkan lawan terus mengetuk pintu.

Sesaat setelah pertandingan, amarah lebih dulu muncul sebelum kesedihan mengambil alih. Leandro Paredes mendapat kartu merah langsung karena memukul wajah Gavi.

Beberapa pemain dan staf pelatih ikut terlibat dalam keributan. Scaloni pun terlihat masuk ke tengah perselisihan.



Lionel Messi, 39 tahun, terisak setelah menerima medali sebagai runner-up Piala Dunia 2026. (The Sun)


Namun emosi itu segera runtuh. Giuliano Simeone terbaring tengkurap sambil menangis. Nahuel Molina menarik kerah bajunya hingga menutupi wajah.

Para pemain lain duduk berserakan di lapangan, seperti belum siap meninggalkan malam yang menelan mimpi mereka.

Messi sempat menjabat tangan Lamine Yamal. Gestur singkat itu menjadi penutup yang hening di tengah suasana panas.

Ketika para pemain Spanyol maju menerima trofi, Messi kembali menyeka air mata. Ia menyaksikan kesempatan meraih gelar dunia kedua secara beruntun lewat begitu saja.

Simpati publik mungkin tidak datang sepenuhnya. Seusai menyingkirkan Inggris 2-1 di semifinal, beberapa pemain Argentina merayakan kemenangan secara provokatif.

Mereka juga berpose dengan bendera bertuliskan klaim bahwa Kepulauan Falkland milik Argentina, tindakan yang berpotensi memicu sanksi FIFA.

Kontroversi keputusan wasit ikut membayangi final. Gol Nico Williams dianulir karena pelanggaran yang diperdebatkan. Namun pada akhirnya, statistik sulit dibantah. Argentina terlalu pasif untuk sebuah laga penentuan.

Ia pernah membawa Argentina ke puncak dunia, tetapi malam itu panggung perpisahan tidak menawarkan keajaiban. Yang tersisa hanya sunyi, tatapan kosong, dan langkah berat menuju ruang ganti sendiri.

Di New Jersey, tangis Messi menjadi gambar terakhir. Bukan sebagai juara, melainkan sebagai legenda yang mungkin baru saja memainkan pertandingan Piala Dunia terakhirnya. (*)