Sport

Mo Salah Pilih Bungkam di Paris, Hanya Jadi Pemain Cadangan dalam Skema Arne Slot

Mo Salah hanya menjadi pemain cadangan dan tidak diturunkan saat Liverpool kalah 2-0 dari PSG di Stadion Parc de Princes, Kamis (9/4/2026) dini hari.

PARIS, UNHAS.TV - Mohamed Salah tidak mengatakan apa-apa. Di tengah kekalahan Liverpool 0-2 dari Paris Saint-Germain pada leg pertama perempat final Liga Champions, Kamis (9/4/2026) dini hari waktu setempat, diam justru menjadi sorotan.

Penyerang asal Mesir itu tak masuk susunan pemain inti. Lebih dari itu, ia juga tak dimainkan sama sekali oleh Arne Slot, meski Liverpool kesulitan membangun serangan sepanjang pertandingan.

Keputusan Slot menepikan Mo Salah menjadi bahan pembicaraan segera setelah laga usai. Bukan hanya karena status Salah sebagai salah satu ikon utama Liverpool dalam beberapa musim terakhir, melainkan juga karena minimnya ancaman yang bisa dibangun The Reds.

Liverpool kalah 0-2, gagal mencatat pengaruh berarti di lini depan, dan pulang dari Parc des Princes dengan banyak pertanyaan soal arah keputusan pelatih. Bahkan tanpa ada tembakan ke gawang lawan.

Yang membuat situasi terasa janggal, Salah sempat diperintahkan meningkatkan intensitas pemanasan di tepi lapangan. Isyarat itu biasanya berarti pemain bersangkutan segera masuk.

Namun sampai laga usai, Slot justru memilih lima pemain pengganti lain. Salah tetap di bangku cadangan. Bahkan gelandang muda berusia 18 tahun, Trey Nyoni, mendapat giliran lebih dulu.

Bagi banyak pengamat, itu bukan sekadar keputusan teknis biasa. Itu pembacaan yang keras tentang posisi Salah dalam rencana pertandingan malam itu.

Usai pertandingan, Salah berjalan ke pinggir lapangan dan menjalani pendinginan. Di sana ia sempat bersalaman dengan Steven Gerrard, Steve McManaman, dan Laura Woods yang sedang siaran langsung untuk TNT Sports.

Ia tersenyum, tetapi menolak memberikan wawancara. Salah lalu berjalan kembali ke ruang ganti tanpa mengucapkan komentar.

Sikap diam itu justru memancing tafsir. Sejumlah pendukung Liverpool di media sosial menilai Salah tampak menahan diri. Mereka menduga pemain 33 tahun itu memilih tidak berbicara agar tidak memperkeruh keadaan, terutama di tengah hasil buruk dan sorotan tajam terhadap keputusan Slot.

Reaksi semacam ini tidak muncul dari ruang kosong. Pada Desember 2025 lalu, saat sempat dicadangkan dalam lawatan ke markas Leeds, Salah pernah melontarkan kritik terbuka.

Kala itu ia mengatakan dirinya “dilempar ke bawah bus” dan menyebut tidak memiliki hubungan dengan Slot. Pengalaman itu agaknya cukup menjadi pelajaran bahwa setiap kalimat yang keluar dari mulutnya akan langsung memicu gelombang baru.

Gerrard: Andalan Tapi Tak Ada Ruang

Namun kali ini, yang terdengar justru penilaian dari orang lain. Gerrard, legenda Liverpool yang juga berada di lokasi sebagai pundit, menilai perasaan frustrasi Salah sangat bisa dipahami.

Menurut gelandang andalan Liverpool di era 2000-an, wajar bila seorang pemain dengan rekam jejak seperti Salah merasa dirinya mampu mengubah jalannya pertandingan, terutama ketika timnya tumpul dalam menyerang.

Meski begitu, Gerrard memberi kredit pada cara Salah merespons keadaan. Setelah tidak dimainkan, ia tetap menyelesaikan latihan tambahan di lapangan. Bagi Gerrard, itu menunjukkan profesionalisme dan mentalitas yang tetap terjaga.

Penilaian itu penting, sebab musim ini tidak berjalan mulus bagi Salah. Dengan torehan 10 gol di semua kompetisi, ia berada di jalur yang bisa membuat musim 2025/2026 menjadi catatan terendahnya selama berseragam Liverpool.

Di saat yang sama, masa depannya juga makin dekat ke ujung. Salah memang akan meninggalkan Anfield pada musim panas mendatang setelah ia dan klub sepakat mengakhiri kontrak bernilai besar itu setahun lebih cepat.

Jika benar demikian, maka babak akhir karier Salah di Liverpool sedang bergerak ke arah yang jauh dari gemilang.

Pemain yang selama ini menjadi simbol konsistensi, gol, dan pembeda di laga besar, kini justru duduk diam di bangku cadangan pada salah satu malam terpenting musim ini.

Slot boleh saja berdalih soal kebutuhan taktik. Tetapi ketika timnya kalah dan tak mampu memberi ancaman serius, keputusan itu otomatis berubah menjadi bahan gugatan.

Bagi Liverpool, leg kedua di Anfield masih membuka peluang. Defisit dua gol belum mustahil dibalikkan. Tetapi untuk sampai ke sana, pertanyaan paling mendesak bukan hanya soal strategi.

Pertanyaannya lebih sederhana, apakah Slot masih melihat Mo Salah sebagai jawaban, atau justru sebagai bagian dari masa lalu yang sedang disingkirkan pelan-pelan? (*)