Sport

Murid Melawan Guru, Saat Arteta Tantang Guardiola di Final Carabao Cup

FINAL. Mikel Arteta dan Pep Guardiola bakal berduel dalam final Carabao cup. (foto: Getty Images)

UNHAS.TV - Bulan Maret 2026 mendatang, Stadion Wembley akan menjadi panggung pertemuan yang sarat simbol dan emosi.

Arsenal dan Manchester City saling berhadapan di final Carabao Cup, mempertemukan dua pelatih asal Spanyol dengan ikatan masa lalu yang kuat: Mikel Arteta dan Pep Guardiola.

Ini bukan sekadar partai perebutan trofi domestik, melainkan duel murid melawan guru—apakah sang murid kini telah melampaui gurunya?

Arteta, 43 tahun --yang kini melatih Arsenal, pernah menjadi tangan kanan Guardiola selama tiga musim di Manchester City.

Ia ikut merasakan bagaimana Guardiola membangun mesin sepak bola nyaris sempurna di Etihad, memenangi berbagai gelar, termasuk Carabao Cup 2018—ironisnya dengan menyingkirkan Arsenal di final.

Dari sanalah Arteta menyerap filosofi, detail taktik, dan obsesi akan kontrol permainan yang kini menjadi ciri khas Arsenal.

Setelah meninggalkan City pada 2019 untuk mengambil alih kursi pelatih Arsenal, perjalanan Arteta tidak langsung mulus.

Sedangkan Guardiola terus mengoleksi trofi, bahkan dua kali menyalip Arsenal dalam perburuan gelar Liga Inggris pada 2023 dan 2024.


Head to Head pertemuan antara Mikel Arteta vs Pep Guardiola. (the sun)


Namun, dinamika mulai berubah. Musim lalu, Arsenal finis di atas City—meski masih di bawah Liverpool—dan musim ini The Gunners unggul enam poin atas tim Guardiola dalam persaingan juara.

Menariknya, Arteta justru mencatat kemenangan besar atas Guardiola di awal kariernya sebagai pelatih kepala.

Pada semifinal Piala FA 2020, ia mengejutkan City dengan skema tiga bek, menundukkan Guardiola 2-0 di laga tanpa penonton akibat pandemi. Arsenal kemudian menjuarai Piala FA—trofi mayor pertama Arteta sebagai manajer.

Hanya Menang Sekali dari 9 Laga

Namun kemenangan itu lama menjadi pengecualian. Dalam sembilan pertemuan awal mereka, Arteta hanya sekali menang dan delapan kali kalah.

Kekalahan-kekalahan itu brutal dan membekas: dibantai 5-0 di Etihad pada Agustus 2021, lalu dihancurkan 4-1 pada April 2023—laga yang praktis meruntuhkan mimpi juara Arsenal musim tersebut.

Yang menarik, kekalahan 4-1 itu menjadi kemenangan terakhir Guardiola atas Arteta. Sejak saat itu, peta kekuatan bergeser. Dalam enam pertemuan terakhir, Arsenal memenangi tiga laga dan tiga lainnya berakhir imbang.


Statistik pertemuan Mikel Arteta vs Pep Guardiola. (the sun)


Rangkaian ini dimulai dari kemenangan 5-2 Arsenal di Community Shield 2023. Meski sering dianggap sekadar laga pemanasan, pertandingan itu menjadi penanda psikologis bahwa Arsenal tak lagi inferior di hadapan City.

Dua bulan kemudian, Arsenal sukses menang 1-0 atas City di Liga Inggris, disusul hasil imbang 0-0 di Etihad.

Pada September 2024, City harus menunggu gol menit ke-98 John Stones untuk memaksakan hasil imbang 2-2, dalam laga di mana Arsenal bermain dengan 10 orang sepanjang babak kedua akibat kartu merah Leandro Trossard.

Puncaknya datang pada Februari tahun lalu. Di Emirates Stadium, Arsenal menggulung City 5-1 dalam sebuah penampilan dominan yang sulit dilupakan pendukung Meriam London.

Musim ini, duel yang berlangsung di London Utara kembali berakhir imbang 1-1, dengan gol penyeimbang Gabriel Martinelli pada menit ke-93 membatalkan gol Erling Haaland.

Hasil itu mencatatkan sejarah, Arteta menjadi manajer pertama yang tak terkalahkan dalam lima laga liga beruntun melawan Guardiola.

Statistik laga tersebut berbicara lantang. City hanya menguasai bola 32,8 persen—angka terendah sepanjang karier Guardiola di liga domestik. Arteta menyebut timnya “sepenuhnya mendominasi” pertandingan.

“City mencetak gol lalu tak melakukan apa-apa. Kami mengontrol dan mendominasi permainan,” kata Arteta kala itu, dengan nada bangga bercampur frustrasi.

Meski begitu, satu fakta masih menghantui: Arteta belum mengangkat trofi mayor sejak Piala FA 2020. Community Shield kerap dianggap pemanis, bukan tolok ukur kejayaan.

Karena itu, final Carabao Cup, 23 Maret mendatang, memiliki makna lebih besar. Kemenangan bisa membuka kran trofi yang lama tersumbat, sekaligus menjadi pernyataan bahwa dominasi Guardiola—setidaknya atas Arsenal—telah berakhir.

Namun sepak bola jarang tunduk pada narasi yang rapi. Guardiola tetap Guardiola, dengan pengalaman final dan insting juara yang teruji.

Stadion Wembley akan menjawab satu pertanyaan besar, apakah sang murid benar-benar telah melampaui gurunya, atau justru sang maestro kembali menunjukkan siapa yang masih memegang kendali. (*)