TAKALAR, UNHAS.TV – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin memulai pengabdian dengan menggelar Seminar Program Kerja di Balai Desa Sampulungan, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sabtu, 18 Juli 2026.
Kegiatan ini menjadi titik awal kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menghidupkan perpustakaan desa sebagai pusat literasi, pembelajaran, dan pemberdayaan warga.
Seminar tersebut mempertemukan berbagai pemangku kepentingan yang memiliki komitmen memperkuat budaya membaca di tingkat desa.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem literasi yang berkelanjutan dan berdampak nyata bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Kegiatan dihadiri Kepala Bidang Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Takalar St. Nurhalisah, S.Pd., M.M., Kepala Desa Sampulungan H. Sangkala Sikki, perwakilan Badan Permusyawaratan Desa, Relawan Literasi Masyarakat Takalar, Ketua Karang Taruna, para guru, serta masyarakat Desa Sampulungan.
Kehadiran seluruh unsur tersebut memperlihatkan besarnya dukungan terhadap upaya memperkuat gerakan literasi berbasis masyarakat.
Dalam seminar, mahasiswa memaparkan tujuh program kerja yang merupakan amanah langsung dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI).
Program tersebut meliputi pengelolaan perpustakaan, membaca nyaring (read aloud), cerdas mengulas buku, menulis cerita, kunjungan literasi, membuat proyek, dan apresiasi literasi.
Saat ini, penguatan literasi menjadi salah satu agenda strategis pembangunan nasional karena berkaitan erat dengan peningkatan kualitas pendidikan, inovasi, dan daya saing bangsa.
Berbagai studi juga menunjukkan bahwa perpustakaan desa yang aktif mampu menjadi ruang belajar sepanjang hayat sekaligus pusat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.
Perpusnas Titip Amanah, Mahasiswa Jadi Penggerak Literasi Desa
Kepala Bidang Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Takalar, St. Nurhalisah, menyampaikan bahwa kehadiran mahasiswa KKN-T Literasi memberikan kontribusi besar dalam memperkuat tata kelola perpustakaan desa.
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang mampu menghubungkan program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa Perpusnas RI telah menyalurkan sekitar 1.000 buku bantuan kepada sejumlah perpustakaan desa dan taman baca di Kabupaten Takalar.
Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu mengoptimalkan pemanfaatan koleksi tersebut sehingga tidak hanya tersimpan di rak, tetapi benar-benar dibaca dan dimanfaatkan masyarakat.
"Di Takalar, ada 520 perpustakaan yang terbagi atas perpustakaan desa, kelurahan, dan sekolah. Kehadiran mahasiswa KKN akan membantu membuat perpustakaan lebih hidup serta mengoptimalkan pemanfaatan buku bacaan yang telah diberikan oleh Perpusnas pada 2024," ujar Nurhalisah.

Kegiatan Seminar Program Kerja KKNT Literasi Gelombang 116 Unhas di Balai Desa Sampulungan, Sabtu (18/7). (Foto: Dok.Pribadi).
Menurutnya, perpustakaan modern tidak lagi sekadar menjadi tempat menyimpan buku, melainkan ruang kolaborasi yang mendorong kreativitas, inovasi, dan lahirnya berbagai kegiatan edukatif.
Karena itu, keterlibatan generasi muda menjadi faktor penting dalam menghidupkan budaya membaca di tengah derasnya arus informasi digital.
Nomor Pokok Perpustakaan Jadi Prioritas
Selain mendukung berbagai program literasi, Nurhalisah berharap mahasiswa membantu percepatan pendataan perpustakaan di Desa Sampulungan melalui penerbitan Nomor Pokok Perpustakaan (NPP).
Dokumen tersebut merupakan identitas resmi yang menjadi syarat penting bagi perpustakaan untuk memperoleh pembinaan dan berbagai program bantuan dari pemerintah pusat.
"Saya harap mahasiswa dapat membantu kami dalam penerbitan NPP. Data ini sangat penting karena sama seperti KTP. Semua perpustakaan harus memilikinya agar dapat memperoleh bantuan dari pusat," harap wanita kelahiran 1969 asal Campagaya tersebut.
Penerbitan NPP juga menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola perpustakaan secara nasional melalui basis data yang terintegrasi.
Dengan administrasi yang lengkap, perpustakaan desa memiliki peluang lebih besar memperoleh dukungan pengembangan koleksi, pelatihan pustakawan, hingga program transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.
Literasi Menjadi Investasi Peradaban
Melalui pelaksanaan KKN-T Literasi, Universitas Hasanuddin menegaskan komitmennya mendukung pembangunan desa melalui penguatan budaya membaca dan peningkatan kapasitas masyarakat.
Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu mengubah perpustakaan Desa Sampulungan menjadi ruang belajar yang hidup, inklusif, dan melahirkan generasi pembelajar sepanjang hayat.
Program ini juga menunjukkan bahwa pengabdian mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi gerakan nyata membangun masyarakat berbasis pengetahuan.
Ketika perpustakaan hidup, budaya literasi tumbuh, dan masyarakat semakin gemar membaca, desa akan memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan masa depan. (*)
KKN-T Literasi Unhas menghidupkan Perpustakaan Desa Sampulungan sebagai ruang belajar, kolaborasi, dan pemberdayaan masyarakat. (Ilustrasi: ChatGPT).

-300x225.webp)






