News
Program
Unhas Speak Up

Konflik Timur Tengah Membara, Krisis Energi Berdampak di Indonesia, Ini Penjelasan Pakar Unhas?

KRISIS ENERGI - Ketua Departemen Teknik Geologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Eng Hendra Pachri ST MEng, saat tampil dalam program Unhas Speak Up membahas dampak krisis energi akibat konflik Timur Tengah di Studio Unhas TV, Senin (6/4/2026). (Unhas TV/Paramitha)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat kini tidak lagi hanya menjadi isu regional, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan ekonomi global.

Fenomena negara-negara yang mengambil langkah ekstrem, termasuk wacana penerapan Work From Home (WFH) di Indonesia untuk menghemat bahan bakar, menjadi bukti betapa rapuhnya rantai pasok energi dunia saat ini.

Ketua Departemen Teknik Geologi Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Eng Ir Hendra Pachri ST MEng, menjelaskan bahwa faktor geologi dan posisi geografis Timur Tengah, khususnya Iran, adalah kunci di balik guncangan ini.

Menurut Hendra, posisi Iran sebagai pemegang cadangan energi terbesar ketiga di dunia didasarkan pada kondisi batuan di kawasan tersebut. 

"Secara geologi, ini sangat penting. Batuan di kawasan Iran didominasi oleh karbonat yang memungkinkan adanya jebakan minyak dan gas bumi dalam skala luar biasa," ujar Hendra.

"Peran geologi di sini sangat besar karena cadangan energi sangat bergantung pada kondisi geologi dan cekungan di daerah tersebut," jelasnya.

Kekayaan sumber daya ini menjadikan Timur Tengah sebagai pusat gravitasi geopolitik. Namun, masalah utama muncul ketika jalur distribusinya terganggu.

Salah satu titik paling krusial dalam konflik ini adalah Selat Hormuz. Hendra menyebutnya sebagai checkpoint energi terbesar di dunia. Selat ini bukan hanya soal potensi cadangan di sekitarnya, tetapi merupakan jalur transportasi utama pengangkut energi keluar dari Timur Tengah.

"Jika muncul isu penutupan Selat Hormuz, pasti ada risiko premium (kenaikan harga akibat persepsi risiko). Distribusi energi global sangat bergantung pada persepsi risiko ini. Jika Iran membatasi jalur tersebut, negara-negara lain terpaksa mencari rute dan sumber lain yang lebih jauh dan mahal," tambahnya.

Meski secara geografis Indonesia berada jauh dari pusat konflik, keterhubungan ekonomi global membuat efeknya tetap terasa seketika. Hendra menekankan bahwa harga pasar energi seperti LPG mengikuti dinamika internasional.

"Jarak geografis tidak memutus keterhubungan ekonomi. Ketika kawasan produsen terguncang, negara importir seperti Indonesia merasakan tekanan fiskal.

"Biaya distribusi naik, beban pemerintah membesar, dan meski harga BBM belum dinaikkan, masyarakat bisa merasakan dampaknya melalui kenaikan biaya logistik," ungkapnya.

Hendra juga menyoroti bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi geologi yang besar. Masalah utama Indonesia bukanlah ketiadaan sumber daya, melainkan bagaimana mengelola sumber daya tersebut menjadi sumber energi yang siap pakai melalui teknologi dan infrastruktur.

"Langkah realistis pemerintah adalah memperhatikan pengelolaan dan kebijakan ketahanan energi. Kita punya sumber daya, tapi tantangannya adalah bagaimana mengelolanya agar tidak kalah dengan lonjakan permintaan global yang tidak menentu," tegasnya.

Hendra pun kembali mengingatkan bahwa dunia energi sangat terhubung. Gangguan di satu titik akan merambat ke seluruh dunia. 

"Masyarakat perlu memaknai konflik ini bukan sekadar perang di luar negeri, tapi pengingat bahwa ketahanan energi sangat berkaitan dengan geopolitik dan geologi. Kami imbau masyarakat untuk tetap tenang dan mulai lebih bijak dalam menghemat energi," pungkasnya.

(Zulkarnaen Jumar Taufik / Unhas TV)