MAKASSAR, UNHAS.TV - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin menggelar kuliah umum yang menyoroti situasi kebahasaan di kawasan Indonesia Timur.
Diskusi akademik tersebut menyoroti tren penurunan penggunaan bahasa daerah yang dinilai semakin mengkhawatirkan dalam beberapa dekade terakhir.
Kuliah umum berlangsung di Aula Prof. Mattulada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar, Kamis (5/3/2026).
Kegiatan ini menghadirkan linguis asal Prancis, Dr Daniel Krause BA MA, peneliti dari Lattice-CNRS, ENS-PSL Paris, yang meneliti dinamika bahasa dan keberagaman linguistik di berbagai wilayah dunia.
Dalam pemaparannya, Daniel menjelaskan bahwa Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat keragaman bahasa tertinggi di dunia.
Namun kondisi tersebut kini menghadapi tantangan serius, terutama di wilayah Indonesia Timur, di mana jumlah penutur bahasa daerah terus menurun.
Menurut dia, penurunan itu dipengaruhi oleh berbagai faktor sejarah, sosial, hingga perkembangan teknologi komunikasi modern.
“Di Indonesia, khususnya di kawasan timur, sudah terjadi penurunan keberagaman bahasa daerah. Penyebabnya banyak, salah satunya penggunaan bahasa Melayu sebagai lingua franca sejak masa lampau yang menyebar luas di seluruh Nusantara,” ujar Daniel dalam kuliah umum tersebut.
Ia menjelaskan bahwa sejak masa kolonial, bahasa Melayu telah digunakan sebagai bahasa pendidikan dan administrasi.
Kondisi ini kemudian berlanjut setelah Indonesia merdeka melalui penguatan penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dalam sistem pendidikan dan pemerintahan.
Dalam perkembangan berikutnya, modernisasi dan globalisasi semakin mempercepat perubahan pola komunikasi masyarakat. Bahasa Indonesia dan bahasa asing menjadi semakin dominan, terutama di kalangan generasi muda.
Daniel menyebut generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan komunikasi digital yang serba cepat dan praktis. Hal itu membuat bahasa daerah semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
“Generasi sekarang sering disebut generasi modern atau generasi ponsel. Banyak dari mereka mulai kurang tertarik menggunakan bahasa daerah karena dianggap sebagai bahasa kampung atau bahasa kuno,” katanya.
Padahal, menurut dia, bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya masyarakat. Jika tidak dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya, banyak bahasa daerah berpotensi hilang dalam beberapa dekade mendatang.
Daniel berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mempertahankan bahasa daerah dapat terus ditingkatkan. Salah satu cara paling sederhana adalah dengan tetap menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari dan menurunkannya kepada anak-anak.
“Harapannya kesadaran terhadap masalah ini meningkat. Jika seseorang masih bisa berbahasa daerah, ia bisa meneruskannya kepada anak-anak atau menggunakan bahasa itu bersama teman-temannya. Bahasa itu bukan bahasa yang rendah, melainkan identitas,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa seseorang dapat memiliki lebih dari satu identitas bahasa sekaligus. Bahasa daerah mencerminkan identitas lokal, sementara bahasa Indonesia menjadi identitas nasional.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemitraan, Riset, Inovasi, dan Alumni Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Dr Wahyudin SS MHum, mengatakan kegiatan kuliah umum tersebut merupakan bagian dari upaya fakultas memperkaya perspektif akademik melalui kehadiran peneliti internasional.
Menurut Wahyudin, menghadirkan pakar dari luar negeri menjadi salah satu strategi fakultas untuk memperluas wawasan keilmuan mahasiswa dan dosen.
“Fakultas Ilmu Budaya berupaya menghadirkan ahli dari berbagai kampus luar negeri untuk berbagi perkembangan keilmuan. Ini juga menjadi langkah kami untuk memperkuat kerja sama dengan institusi internasional,” katanya.
Ia berharap pemaparan yang disampaikan oleh Daniel dapat membuka perspektif baru bagi civitas akademika Fakultas Ilmu Budaya, khususnya dalam kajian linguistik dan pelestarian bahasa daerah.
Selain itu, kegiatan akademik seperti ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi riset antara dosen Universitas Hasanuddin dengan peneliti internasional.
“Kami berharap setelah kegiatan ini ada dosen yang dapat menjalin kolaborasi riset dengan pemateri. Ini penting untuk meningkatkan kualitas akademik dan publikasi ilmiah di fakultas,” ujar Wahyudin.
Melalui kuliah umum tersebut, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin juga berharap kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya menjaga keberagaman bahasa daerah dapat terus meningkat.
Diskusi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya yang mencerminkan identitas dan sejarah suatu masyarakat. Jika tidak dijaga, keberagaman bahasa yang selama ini menjadi kekayaan Indonesia dapat perlahan menghilang.
(Venny Septiani Semuel / Moh. Resha Maharam / Unhas TV)
SITUASI KEBAHASAAN - Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin (FIB Unhas) menggelar kuliah umum yang menyoroti situasi kebahasaan di kawasan Indonesia Timur di Aula Prof. Mattulada FIB Unhas, Makassar, Kamis (5/3/2026). (unhas tv/moh resha maharam)






-300x206.webp)

