Kesehatan
News

Kurang Asupan Energi Saat Puasa, Dokter FK Unhas Jelaskan Mekanisme Tubuh yang Terjadi?

PUASA - Ilustrasi kondisi tubuh saat kekurangan asupan energi ketika menjalani puasa. (foto: ChatGPT)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Berpuasa selama kurang lebih 12–13 jam setiap hari di bulan Ramadan, membawa sejumlah perubahan fisiologis pada tubuh.

Dokter Umum di Klinik Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Hasanuddin (Unhas), dr Fadhil Kurniawan, menjelaskan bahwa saat seseorang tidak makan dan minum, tubuh secara otomatis mengalami penurunan asupan energi. 

Dalam wawancara di Klinik FK Unhas, Kamis (19/2/2026), dr Fadhil menerangkan bahwa sumber energi utama manusia berasal dari makanan. Ketika asupan tersebut berhenti sementara waktu, tubuh tidak langsung berhenti bekerja, melainkan beralih menggunakan cadangan energi yang tersimpan.

“Cadangan gula yang ada di hati dan otot akan dipecah terlebih dahulu. Setelah itu, lemak dan protein juga bisa diubah menjadi energi yang siap digunakan,” jelasnya.


Dokter Umum di Klinik Fakultas Kedokteran Unhas dr Fadhil Kurniawan. (unhas tv/moh resha maharam)


Proses ini memungkinkan tubuh tetap menjalankan fungsi normal dan aktivitas harian meski tidak ada asupan makanan selama berjam-jam.

Namun, jika kebutuhan kalori saat sahur dan berbuka tidak terpenuhi, tubuh bisa memasuki kondisi lapar berat yang berdampak pada konsentrasi dan produktivitas.

Selain penurunan energi, kondisi lain yang kerap terjadi selama puasa adalah dehidrasi ringan akibat tidak adanya asupan cairan.

Karena itu, dr. Fadhil menekankan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan minimal dua liter per hari yang dibagi antara waktu sahur, berbuka, dan malam hari.

Ia juga mengingatkan bahwa metabolisme tubuh memerlukan waktu adaptasi, terutama pada minggu pertama Ramadan. Oleh sebab itu, aktivitas fisik dan olahraga tetap diperbolehkan, namun dengan intensitas yang disesuaikan.

Waktu terbaik untuk berolahraga, menurutnya, adalah 20–30 menit sebelum berbuka agar cairan dan energi yang hilang dapat segera digantikan.

Menurut dr Fadhil, pemahaman terhadap proses biologis ini penting agar masyarakat tidak hanya menjalankan puasa sebagai kewajiban ibadah, tetapi juga sebagai momentum menjaga kesehatan secara menyeluruh.

(Achmad Ghiffary M / Moh Resha Maharam / Unhas TV)