Pendidikan
Program
Unhas Speak Up

Lalat Buah Jadi Alternatif Riset Biomedis dan Obat yang Murah di Indonesia

Prof Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD - Ketua Unhas Fly Research Group. (Unhas TV)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Keterbatasan anggaran penelitian tidak menghentikan langkah akademisi Indonesia untuk mencari terobosan. Beragam model dan metode dilakukan.

Di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, sekelompok peneliti memanfaatkan lalat buah atau Drosophila melanogaster sebagai model penelitian biomedis dan pengembangan obat. Hewan kecil ini dinilai lebih murah, cepat, dan menjawab isu etika dalam penggunaan hewan coba.

Inovasi tersebut dikembangkan oleh Unhas Fly Research Group. Kelompok riset ini menjadikan lalat buah sebagai alternatif dari hewan coba mamalia seperti tikus dan mencit, yang selama ini banyak digunakan dalam penelitian farmasi, biomedis, dan pengujian kandidat obat.

Ketua Unhas Fly Research Group, Prof Firzan Nainu SSi MBiomedSc PhD mengatakan penggunaan lalat buah dapat menekan biaya penelitian secara signifikan.

Menurut dia, penelitian dengan tikus atau mencit membutuhkan anggaran besar, mulai dari pengadaan hewan, pakan, kandang, hingga perawatan laboratorium.

“Kalau kita menggunakan tikus, biayanya bisa ratusan ribu per ekor. Tapi kalau lalat buah, bahkan di bawah seribu rupiah kita sudah bisa gunakan untuk penelitian,” kata Firzan di Studio Unhas TV, Makassar, Selasa (5/5/2026).

Firzan menuturkan, biaya yang lebih rendah memungkinkan mahasiswa dan peneliti melakukan lebih banyak percobaan dengan dana terbatas.

Dengan cara itu, peluang menghasilkan data ilmiah dan publikasi berkualitas tetap terbuka, meski fasilitas dan pembiayaan riset belum sebesar negara maju.

Selain aspek efisiensi, penggunaan lalat buah juga dianggap lebih sejalan dengan perhatian global terhadap kesejahteraan hewan dalam penelitian ilmiah. Firzan mengatakan, dunia riset kini semakin mempertimbangkan prinsip etika dalam penggunaan hewan coba.

“Sekarang juga ada perhatian besar terhadap kesejahteraan hewan. Jadi penggunaan lalat buah ini bisa menjadi salah satu alternatif yang lebih etis dibandingkan hewan coba lain,” ujar Firzan.

Secara ilmiah, lalat buah memiliki sejumlah keunggulan. Hewan ini memiliki kesamaan genetik dengan manusia sekitar 60 hingga 75 persen. Karena itu, Drosophila melanogaster dapat digunakan untuk mempelajari berbagai penyakit, seperti diabetes, infeksi, hingga kanker.

Keunggulan lain terletak pada siklus hidupnya yang singkat. Penelitian yang menggunakan lalat buah dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan penelitian berbasis hewan mamalia. Hal ini membuat proses pengamatan, pengujian, dan analisis dapat dilakukan dalam waktu yang lebih efisien.

Bagi dunia akademik, pendekatan ini dinilai strategis untuk memperluas akses riset. Mahasiswa, dosen, dan peneliti muda dapat mengembangkan penelitian biomedis tanpa selalu bergantung pada model hewan coba yang mahal.

Penggunaan lalat buah juga membuka peluang pengembangan obat yang lebih terjangkau. Melalui model ini, kandidat obat dapat diuji pada tahap awal sebelum masuk ke penelitian lanjutan.

Dengan demikian, riset dapat berjalan lebih hemat, etis, dan tetap relevan bagi kebutuhan kesehatan masyarakat.

(Rahmatia Ardi / Unhas TV)