Lifestyle
News

Lama Bermain Game? Ini Jenis Cedera Tendon yang Bisa Menyerangmu!

CEDERA. Bermain game telah bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi gaya hidup, bahkan profesi. Namun, di balik layar monitor dan kursi gaming, risiko cedera pada tendon. (foto: ChatGPT)

UNHAS.TV - Tahukah kamu bahwa bermain game selama berjam-jam tanpa jeda dapat menyebabkan masalah kesehatan serius?

Bukan nyeri kalah bermain, melainkan nyeri yang menetap di pergelangan tangan, siku, hingga bahu. Nyeri yang kerap diabaikan para gamer—padahal bisa menjadi tanda awal cedera tendon.

Itulah salah satu cedera tendon, yang mungkin tidak disadari namun memiliki dampak jangka panjang.

Bermain game telah bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi gaya hidup, bahkan profesi. Turnamen e-sports, streaming berjam-jam, dan sesi latihan panjang menjadi rutinitas baru.

Namun, di balik layar monitor dan kursi gaming, tubuh bekerja tanpa banyak kompromi. Postur membungkuk, pergelangan tangan menegang, jari bergerak berulang tanpa jeda. Semua itu memberi tekanan besar pada tendon.

“Tendon itu penghubung antara otot dan tulang. Kalau bebannya berlebihan, apalagi dengan otot yang tidak cukup kuat atau postur yang salah, risiko peradangan sangat tinggi,” ujar Irianto, S.Ft., Physio, M.Kes., Ketua Program Studi Profesi Fisioterapi Fakultas Keperawatan Unhas.

Irianto menjelaskan, cedera tendon bukan satu jenis penyakit tunggal. Ada istilah yang kerap disamakan, padahal berbeda: tendinitis, tendinopati, dan tendinosis. Tendinitis ditandai peradangan aktif—ada rasa panas, bengkak, kemerahan, dan nyeri.

Tendinopati, sebutan yang lebih umum, digunakan ketika penyebab pasti kerusakan tendon belum jelas. Sementara tendinosis berkaitan dengan proses degeneratif, sering dipengaruhi usia dan lambatnya regenerasi jaringan.

“Kalau tendinosis, proses penyembuhannya lebih lama karena kemampuan healing tendon sudah menurun,” katanya.



Ketua Prodi Profesi Fisioterapi Fakultas Keperawatan Unhas Irianto SFt Physio MKes. (dok unhas tv)


Pada gamer, masalah paling sering bermula dari tendinitis. Gerakan monoton—menekan tombol, menggerakkan mouse, atau menggenggam gawai—menyebabkan ketegangan berulang.

Lama-kelamaan, tendon mengalami mikro-ruptur. Awalnya hanya pegal. Lalu nyeri muncul saat digerakkan. Jika dibiarkan, kerusakan itu bisa berubah menjadi kondisi kronis.

Physio Anto—sapaan akrab Irianto—menegaskan bahwa cedera tendon bukan sekadar gangguan sementara.

“Kalau tidak ditangani dengan baik, bisa berkembang jadi tendinosis. Ini bukan lagi soal istirahat sehari dua hari,” ujarnya. Pada tahap tertentu, pemulihan membutuhkan fisioterapi intensif, bahkan intervensi medis.

Ironisnya, banyak gamer baru menyadari masalah ketika nyeri mulai mengganggu aktivitas sehari-hari: menulis, mengangkat barang, atau sekadar menggenggam ponsel.

Padahal, pencegahan relatif sederhana. Istirahat setiap satu jam bermain, diselingi peregangan ringan, sudah cukup membantu mengurangi tekanan pada tendon. Postur duduk ergonomis dan penguatan otot juga menjadi kunci.

“Tubuh itu aset jangka panjang. Skill bisa diasah, tapi kalau tendon rusak, waktu penyembuhannya tidak sebentar,” kata Anto.

Di era digital, menjaga kesehatan fisik sering kalah penting dibanding mengejar skor dan peringkat. Padahal, performa terbaik—baik di dunia game maupun kehidupan nyata—justru bertumpu pada tubuh yang sehat. Cedera tendon mungkin datang diam-diam, tapi dampaknya bisa bertahan lama.

(Venny Septiani Semuel / Unhas.TV)