MAKASSAR, UNHAS.TV – Memasuki tahun 2026, tren resolusi masyarakat mulai bergeser ke arah perawatan diri secara psikologis. Salah satu metode yang kini naik daun adalah journaling.
Namun, praktik ini ternyata bukan sekadar kegiatan curhat atau menulis harian biasa, melainkan sebuah instrumen penting dalam menjaga kesehatan mental.
Seorang pakar psikologi Alifia Ainun Rizky SPsi MPsi Psikolog menjelaskan bahwa journaling merupakan kegiatan menuangkan perasaan, emosi, atau pengalaman secara rutin ke dalam tulisan sebagai bentuk refleksi diri.
Menurutnya, aktivitas ini memberikan ruang aman yang tidak ditemukan dalam interaksi sosial biasa.
"Proses kita menulis dalam journaling ini membantu kesehatan mental karena kita tidak perlu takut untuk dihakimi orang," ujarnya.
"Journaling merupakan ruang aman untuk kita menuliskan perasaan-perasaan negatif atau emosi-emosi negatif," ujar Alifia saat diwawancarai terkait tren kesehatan mental tahun ini.
Lebih lanjut, Alifia memaparkan bahwa sejumlah penelitian telah membuktikan efektivitas menulis harian dalam mengelola kondisi psikologis seseorang. Menulis memungkinkan seseorang untuk membedah kerumitan emosi yang sedang dirasakan.
"Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa melakukan journaling membantu kita dalam meregulasi emosi," kata Alifia.
"Kita bisa memproses emosi apa yang sedang dirasakan dan langkah apa yang harus dilakukan. Selain itu, dampak positif lainnya adalah kita menjadi lebih mengenal dan aware terhadap diri sendiri," tambahnya.
Melalui journaling, terjadi dialog internal yang jujur antara seseorang dengan dirinya sendiri. Hal ini membantu individu untuk mengidentifikasi perasaan secara spesifik, baik itu marah, sedih, maupun bahagia.
Dengan mengenali emosi tersebut, seseorang tidak lagi merasa terasing dari dirinya sendiri, sehingga kesehatan mental tetap terjaga di tengah dinamika kehidupan yang cepat.
(Amina Rahma Ahmad / Unhas.TV)
pakar psikologi Alifia Ainun Rizky SPsi MPsi Psikolog. (unhas tv/amina rahma ahmad)



-300x200.webp)




