Mahasiswa
Sulsel

Mahasiswa KKN-T Unhas Bekali Warga Pattaneteang Strategi Branding dan Pemasaran Digital

PEMASARAN DIGITAL - Mahasiswa KKN-T Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menjalankan Program Kerja Individu Sosialisasi branding dan pemasaran digital bagi masyarakat Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Selasa (4/8/2026). (Dok KKN-T Unhas)

BANTAENG, UNHAS.TV - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik atau KKN-T Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menggelar sosialisasi branding dan pemasaran digital bagi masyarakat Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Selasa (4/8/2026).

Kegiatan ini diarahkan untuk meningkatkan nilai jual komoditas unggulan desa, terutama kopi, cengkeh, dan porang.

Program bertajuk “Sosialisasi Peningkatan Nilai Jual Komoditas Unggulan Desa melalui Branding dan Pemasaran Digital” itu digagas Ksatria Matahari, mahasiswa Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.

Ksatria mengatakan kegiatan tersebut disusun berdasarkan hasil observasi lapangan dan diskusi bersama pemerintah desa, kelompok tani, serta masyarakat.

Dari pengamatan itu, mahasiswa anggota KKN Unhas, Nadia, menemukan bahwa Pattaneteang memiliki potensi pertanian cukup besar. Namun, sebagian hasil panen masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah kepada pengepul.

Pola pemasaran tersebut membuat nilai tambah yang diterima petani belum optimal. Di sisi lain, pengetahuan masyarakat mengenai identitas merek, desain kemasan, promosi produk, dan pemanfaatan media digital masih terbatas.

Dalam sosialisasi, peserta mendapat materi mengenai pentingnya membangun identitas produk melalui pemberian nama merek yang mudah dikenali. Mahasiswa juga menjelaskan fungsi kemasan sebagai pelindung produk sekaligus sarana komunikasi kepada konsumen.

Materi pemasaran digital difokuskan pada penggunaan platform yang dekat dengan masyarakat, seperti WhatsApp Business dan media sosial. Peserta diperkenalkan dengan cara membuat katalog produk, mencantumkan informasi harga, serta menyusun pesan promosi secara ringkas dan menarik.

Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Peserta juga mengikuti praktik penyusunan identitas produk, pembuatan contoh kemasan sederhana, pengambilan foto menggunakan telepon genggam, dan penulisan kalimat promosi.

Melalui praktik tersebut, masyarakat diperlihatkan bahwa pemasaran produk secara profesional dapat dimulai dengan peralatan sederhana dan biaya terjangkau. Foto yang terang, latar yang bersih, serta informasi produk yang jelas dinilai dapat membantu meningkatkan kepercayaan calon pembeli.

Pelaksanaan kegiatan berlangsung interaktif. Masyarakat menyampaikan sejumlah kendala yang selama ini mereka hadapi, antara lain keterbatasan akses pasar, ketergantungan kepada pengepul, minimnya jaringan pemasaran, dan fluktuasi harga hasil pertanian.

Diskusi itu kemudian diarahkan untuk mencari strategi yang sesuai dengan kondisi desa. Salah satunya adalah memasarkan produk secara bertahap melalui jaringan pertemanan, komunitas, dan media sosial sebelum menjangkau pasar yang lebih luas.

Ksatria berharap masyarakat tidak hanya menghasilkan komoditas berkualitas, tetapi juga mampu mengolah, mengemas, dan memasarkannya dengan lebih baik.

Dengan penguatan branding dan pemasaran digital, kopi, cengkeh, dan porang asal Pattaneteang diharapkan memiliki nilai jual lebih tinggi, menjangkau lebih banyak konsumen, serta memperkuat perekonomian desa secara berkelanjutan. (*)