Lingkungan
Makassar

Mahasiswa KKN Unhas Hadirkan Waste Care untuk Atasi Persoalan Sampah di Pajukukang

WASTE CARE - Mahasiswa KKN-T Gelombang 116 Unhas menghadirkan Waste Care untuk membantu warga memilah sampah di Desa Pajukukang, Maros, Selasa (11/8/2026). Fasilitas tersebut dilengkapi alat press botol plastik agar pengelolaan sampah lebih efektif dan lingkungan desa tetap bersih. (Dok KKN Unhas)

MAROS, UNHAS.TV - Sampah rumah tangga masih menjadi persoalan di Desa Pajukukang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

Keterbatasan tempat penampungan dan belum tersedianya sistem pemilahan membuat sebagian warga membuang sampah sembarangan atau membakarnya.

Kondisi itu mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin menghadirkan Waste Care dan alat press botol plastik, Selasa (11/8/2026). Teknologi tepat guna tersebut dirancang untuk membantu warga mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Waste Care merupakan fasilitas pemilahan sampah berdasarkan jenis. Mahasiswa menghadirkan fasilitas itu setelah menemukan pengelolaan sampah di lingkungan desa belum berjalan optimal.

Sampah yang tercampur menyulitkan proses pengelolaan dan membuat sebagian warga memilih membakar sampah untuk mengurangi tumpukan.

Persoalan lain terlihat di sekitar sungai dan sumber air. Sampah yang dibuang di lokasi tersebut berpotensi mengganggu kebersihan lingkungan dan memengaruhi kualitas sumber air yang digunakan masyarakat.

Melalui Waste Care, warga diperkenalkan pada kebiasaan memilah sampah sejak awal. Sampah yang telah dipisahkan dapat dikelola lebih lanjut sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai sampah campuran.

Mahasiswa juga menyediakan alat press botol plastik. Botol yang telah dikumpulkan dapat dipadatkan sehingga membutuhkan ruang penyimpanan lebih kecil dan lebih mudah dikelola.

Sekretaris Desa Pajukukang, Rahmat, mengatakan persoalan sampah sudah mendesak karena berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan masyarakat.

“Memang ini sangat dibutuhkan karena persoalan sampah di desa cukup mendesak. Karena tempat sampah masih terbatas dan belum ada pemilahan, masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan atau membakarnya,” kata Rahmat.

Menurut dia, keberadaan Waste Care diharapkan memberi warga tempat untuk memilah dan mengelola sampah secara lebih baik.

Mahasiswa KKN-T tidak hanya menyerahkan fasilitas. Mereka juga menyediakan panduan penggunaan dan perawatan teknologi tepat guna tersebut.

Panduan berisi tata cara menggunakan Waste Care dan alat press botol, termasuk langkah perawatan agar fasilitas tetap berfungsi setelah masa KKN berakhir.

Rahmat berharap pengelolaan fasilitas menjadi tanggung jawab bersama. Waste Care, kata dia, semestinya tidak berhenti digunakan ketika mahasiswa meninggalkan desa.

Program tersebut menjadi salah satu kerja KKN-T Gelombang 116 Unhas di Pajukukang. Fasilitas pemilahan, alat press botol plastik, serta panduan penggunaan dan perawatan disiapkan sebagai satu rangkaian untuk memperbaiki pengelolaan sampah di tingkat desa.

Keberlanjutan program kini bergantung pada kebiasaan warga: memilah sebelum membuang, mengurangi sampah yang dibakar, dan merawat fasilitas yang telah tersedia. (*)