Mahasiswa
Sosial

Management Insight Forum 2026 Soroti Krisis Ekologi dan Ancaman Greenwashing

MANAGEMENT INSIGHT - Ikatan Mahasiswa Manajemen FEB Unhas menggelar Management Insight Forum 2026 di Kampus Unhas Tamalanrea, Sabtu, 19 September 2026. Forum membahas krisis ekologi, keberlanjutan, greenwashing, serta aksi lingkungan mahasiswa secara kritis. (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Krisis ekologi dan tantangan mewujudkan pembangunan berkelanjutan menjadi sorotan dalam Management Insight Forum 2026 yang digelar Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Sabtu (19/92026).

Forum yang berlangsung di Auditorium Prof. A. Amiruddin, Fakultas Kedokteran, Kampus Unhas Tamalanrea, itu mengangkat tema “Krisis Ekologi dan Masa Depan Berkelanjutan: Antara Transformasi dan Greenwashing”.

Kegiatan menghadirkan dosen Program Studi Manajemen FEB Unhas, Dr Shinta Dewi Sugiharti Tikson, serta KEMA FEB Unhas 2023, Andy Syafaat Hidayatullah Agus. Diskusi dipandu Wakil Ketua Senat FEB Unhas 2026, Muh. Haikal Aulia Ma’ruf.

Dalam pemaparannya, Shinta menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam membangun keberlanjutan. Menurut dia, perusahaan, masyarakat, konsumen, dan pemangku kepentingan lainnya harus bekerja bersama agar kepentingan lingkungan, ekonomi, dan sosial dapat berjalan seimbang.

“Semua pihak yang terlibat perlu bekerja sama dengan baik untuk mencapai sustainability dalam jangka panjang, sehingga lingkungan bisa terjaga, perusahaan tetap bisa profit, dan social well-being juga bisa terjamin,” kata Shinta.

Ia mengatakan konsep keberlanjutan tidak semestinya hanya menjadi slogan perusahaan. Masyarakat, terutama generasi muda, perlu lebih kritis terhadap klaim produk ramah lingkungan agar tidak terjebak pada praktik *greenwashing*.

Shinta mendorong mahasiswa untuk mencari informasi lebih jauh sebelum mempercayai label atau promosi yang mengatasnamakan keberlanjutan.

“Jangan tertipu terhadap produk-produk yang menjanjikan green products. Kita juga harus proaktif mencari tahu apakah betul-betul perusahaan itu bergerak pada bidang tersebut,” ujarnya.

Menurut dia, mahasiswa juga dapat mengambil peran melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Upaya menjaga lingkungan tidak harus selalu berangkat dari tindakan berskala besar.

Langkah kecil, kata Shinta, dapat dimulai dengan mengurangi sampah plastik, membawa tumbler sendiri, serta menggunakan tas belanja yang dapat dipakai berulang kali.

Kebiasaan konsumen tersebut dinilai dapat turut mendorong perusahaan untuk menyesuaikan produk dan praktik bisnis mereka menjadi lebih ramah lingkungan.

Shinta mengatakan semakin kuat kesadaran konsumen terhadap persoalan lingkungan, semakin besar pula dorongan bagi dunia usaha untuk menghasilkan produk yang ramah lingkungan dan mudah terurai.

Melalui Management Insight Forum 2026, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami konsep keberlanjutan dari perspektif akademik dan bisnis, tetapi juga mampu melihat praktiknya secara kritis.

Forum tersebut sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai bagaimana transformasi menuju masa depan berkelanjutan dapat dilakukan tanpa terjebak pada klaim hijau yang sekadar bersifat pencitraan.

(Zahra Tsabitha Sucheng/ Unhas TV)