Kesehatan
Pendidikan

Mata Merah hingga Luka Kornea, Dokter Unhas Ungkap Bahaya Paparan Asap Karhutla

Dokter mata konsultan pediatrik oftalmologi Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, dr Ratih Natasha Maharani SpM(K) MKes. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

MAKASSAR, UNHAS,TV – Asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla tidak hanya berdampak pada kualitas udara, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan mata.

Paparan asap dan partikel debu berisiko memicu iritasi, mata merah, hingga luka pada kornea. Masyarakat diimbau melindungi mata saat beraktivitas di luar ruangan dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan yang berat.

Dokter mata konsultan pediatrik oftalmologi Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, dr Ratih Natasha Maharani SpM(K) MKes, menjelaskan bahwa paparan asap dan debu akibat karhutla dapat menimbulkan berbagai keluhan pada mata, mulai dari rasa kering, sensasi seperti kemasukan benda asing, hingga mata merah dan nyeri.

“Jadi sekarang itu apa saja penyebab dari kebakaran hutan pada mata, itu salah satunya bisa membuat mata kita iritasi. Jadi keluhan-keluhan seperti ada rasa nyeri, mata merah itu pasti tidak akan menutup kemungkinan itu akan terjadi,” ungkap Ratih.

Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat disarankan menggunakan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan. Penggunaan topi dengan tepi lebar juga dapat membantu mengurangi paparan debu dan asap ke area mata.

Ratih menuturkan, masyarakat yang memiliki kelainan refraksi dapat menggunakan kacamata sesuai ukuran, sedangkan mereka yang tidak memiliki kelainan refraksi dapat menggunakan kacamata pelindung tanpa ukuran.

“Pakailah pelindung, misalnya kayak kacamata pelindung seperti ini atau yang framenya yang agak lebih luas, lebih lebar. Kalau misalnya yang punya kelainan refraksi bisa dengan kacamata ukuran atau kalau yang tidak punya memang kelainan refraksi bisa kacamata itu bisa dipakai yang tanpa ukuran,” tuturnya.

Selain menggunakan kacamata pelindung, Ratih mengungkapkan bahwa topi dengan tepi lebar dapat menjadi perlindungan tambahan untuk mengurangi paparan debu dan asap terhadap mata. “Itu untuk melindungi terpapar dari debu-debu atau asap-asap ke mata kita,” ungkapnya.

Jika keluhan yang muncul berupa mata kering atau sensasi berpasir, penggunaan air mata buatan dapat dipertimbangkan sesuai kondisi mata. Namun, penanganan perlu disesuaikan dengan penyebab dan tingkat keparahan keluhan yang dialami pasien.

Ratih menjelaskan, mata merah atau rasa tidak nyaman yang berat tidak boleh diabaikan. Masyarakat disarankan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis mata untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

“Jadi kalau misalnya memang sudah ada timbul mata merah atau keluhan-keluhan seperti kayak rasa berpasir atau rasa tidak nyaman yang berat, itu bisa kita segera lakukan konsultasi ke dokter spesialis mata,” jelasnya.

Selain menyebabkan iritasi, partikel debu yang terbawa asap karhutla juga dapat menimbulkan dampak lebih serius apabila mengenai permukaan mata. Ukuran partikel menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jenis cedera yang dapat terjadi.

Ratih menerangkan, partikel debu berukuran besar berisiko menyebabkan luka atau abrasi pada kornea. Sementara itu, partikel yang lebih kecil dapat memicu sensasi seperti kemasukan benda asing, mata kering, nyeri, hingga mata merah.

“Yang pertama itu kalau misalnya debunya itu agak besar, itu bisa membuat mata kita atau kornea itu bisa membuat luka atau abrasi kornea," ujarnya.

"Kalau partikelnya itu tidak terlalu berat, tidak terlalu besar, itu bisa bikin seperti kayak rasa sensasi benda asing, seperti kayak rasa-rasa seperti mata kering, ada rasa nyeri, kadang-kadang mata merah pun bisa terjadi seperti itu,” jelas Ratih.

Ia menambahkan, partikel berukuran besar perlu diwaspadai karena dapat menempel pada kornea dan menyebabkan luka pada permukaan mata.

“Hanya yang lebih penting kalau misalnya partikelnya itu agak lebih besar, itu yang berbahaya karena itu bisa akan tinggal di bola mata hitamnya kita dan bisa bikin luka di mata hitamnya kita,” ungkapnya.

Dengan demikian, perlindungan mata menjadi langkah penting di tengah risiko paparan asap karhutla. Masyarakat diharapkan tidak mengabaikan keluhan pada mata dan segera mencari pertolongan medis apabila gejala memburuk, terutama jika muncul nyeri berat atau diduga terdapat partikel asing yang melukai permukaan mata.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)