Lingkungan
Sosial

Mata Perih, Napas Terganggu, Pengemudi Ojol Tetap Memburu Orderan di Jalanan

Ridwan dan Ilham, Pengemudi Ojek Online di Kota Makassar. (Unhas TV / Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menambah risiko kesehatan bagi pengemudi ojek online yang setiap hari bekerja di jalanan.

Gangguan pernapasan, iritasi mata, hingga batuk menjadi keluhan yang mereka rasakan. Namun, tuntutan memenuhi kebutuhan hidup membuat mereka tetap bekerja di tengah paparan asap dan cuaca panas.

Ridwan, salah seorang pengemudi ojek online di Makassar, mengatakan asap mengganggu kenyamanannya saat berkendara.

Ia merasakan pernapasannya tidak leluasa, matanya perih, dan tenggorokannya mengalami iritasi hingga memicu batuk. Kondisi tersebut semakin berat ketika harus bekerja di bawah terik matahari.

“Agak menghambat, terutama untuk pernapasan. Mata juga agak terasa perih, efek asap,” kata Ridwan saat diwawancarai Unhas TV, Sabtu (17/10/2026).

Bagi Ridwan, risiko itu sulit dihindari karena pekerjaannya menuntut mobilitas tinggi dan mengharuskannya menghabiskan banyak waktu di luar ruangan. Meski merasakan gangguan kesehatan, ia tetap melanjutkan aktivitas untuk memperoleh penghasilan harian.

Sebagai langkah perlindungan, Ridwan menyiapkan masker dan menggunakan helm berkaca yang memenuhi standar Standar Nasional Indonesia (SNI).

Menurut dia, perlengkapan tersebut dapat membantu mengurangi paparan asap dan debu selama berkendara, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko kesehatan.

Ridwan juga mengungkapkan bahwa jarak pandang sempat terganggu beberapa hari sebelumnya. Saat itu, pandangan di jalan hanya mencapai ratusan meter. Kondisi tersebut, menurut dia, mulai membaik ketika diwawancarai.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kualitas udara di Makassar berada dalam kategori tidak sehat. Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 155,5 mikrogram per meter kubik. Kondisi itu diperkirakan mengalami peningkatan pada waktu tertentu.

Berdasarkan data prediksi BMKG Wilayah IV Makassar, kualitas udara dapat memburuk terutama pada pagi dan malam hari. Pada pukul 09.00 WITA, kategori kualitas udara diprediksi meningkat menjadi sangat tidak sehat.

Prakirawan BMKG Makassar, Nurahmi, mengatakan peningkatan konsentrasi partikulat tersebut terpantau pada 14 Oktober 2026. Menurut dia, perubahan kualitas udara cenderung terjadi pada waktu tertentu dalam sehari.

Perubahan kondisi udara tidak serta-merta menghilangkan kekhawatirannya. Ridwan menilai kebakaran hutan yang berulang di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan dan Sumatra, seharusnya mendorong pemerintah memperkuat langkah pencegahan sebelum dampaknya meluas.

“Untuk ke depannya, mungkin bisa dipertimbangkan menyediakan antisipasi sebelumnya. Kebakaran hutan di Kalimantan sama Sumatra itu bukan satu dua tahun,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Ilham, pengemudi ojek online lainnya. Ia menganggap bekerja di tengah kabut asap menambah ketidaknyamanan, terutama ketika harus berkendara dengan kondisi penglihatan yang terganggu.

Menurut dia, penggunaan masker perlu menjadi perhatian karena paparan asap menambah risiko yang sudah dihadapi pengemudi di jalan.

“Menyiksa sekali. Tanpa ada kabut asap, pasti kita pakai masker. Apalagi ada kabut asap, kalau perlu dua lapis masker,” kata Ilham.

Meski demikian, Ilham tidak menyebutkan gangguan kesehatan tertentu yang secara khusus dialaminya.

Ia mengatakan dampak yang paling terasa adalah ketidaknyamanan pada penglihatan. Kondisi tersebut tetap menjadi persoalan bagi pengemudi yang harus menjaga konsentrasi selama perjalanan.

Ilham berharap pemerintah memberikan perhatian lebih serius terhadap penanganan kabut asap. Ia meminta instansi terkait, termasuk kementerian yang membidangi lingkungan hidup dan kehutanan, memperkuat koordinasi serta mengambil langkah yang lebih efektif untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Menurut Ilham, penanganan tidak seharusnya hanya dilakukan setelah asap menyebar dan mengganggu aktivitas masyarakat. Pencegahan perlu diperkuat agar dampak kebakaran tidak terus berulang dan membebani kelompok yang pekerjaannya bergantung pada aktivitas di luar ruangan.

Bagi pengemudi ojek online, mengurangi aktivitas di jalan bukan perkara sederhana. Pendapatan mereka berkaitan langsung dengan pekerjaan yang diselesaikan setiap hari.

Ketika kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi, risiko paparan asap menjadi persoalan yang harus mereka hadapi sembari mencari nafkah.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu mengurangi paparan polusi, menggunakan masker yang sesuai, serta memantau informasi kualitas udara. Keluhan seperti sesak napas atau gangguan kesehatan yang memburuk perlu segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Di tengah kabut asap, perjuangan para pengemudi ojek online memperlihatkan persoalan yang lebih luas. Ketika pencemaran udara mengancam kesehatan, kelompok pekerja yang bergantung pada mobilitas harian memiliki ruang terbatas untuk menghindari paparan.

Karena itu, perlindungan masyarakat tidak cukup bertumpu pada upaya individu, tetapi juga memerlukan pencegahan kebakaran dan penanganan pencemaran udara yang konsisten dari pemerintah.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)