Kesehatan
Pendidikan
Sosial

MCU Goes to FK Unhas, Sasar Dosen dan Tendik untuk Deteksi Dini Penyakit

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Prof Dr dr Haerani Rasyid MKes SpGK SpPD-KGH FINASIM. (Unhas TV/Venny Septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Program medical check up atau MCU kembali digelar di lingkungan Universitas Hasanuddin melalui program Unhas Sehat.

Pada Senin (20/4/2026) itu, layanan pemeriksaan kesehatan itu menyasar civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin dan dipusatkan di International Building FK Unhas, Makassar.

Kegiatan bertajuk MCU Goes to Unit itu diikuti dosen dan tenaga kependidikan Fakultas Kedokteran. Sejak pagi, peserta mendatangi lokasi pemeriksaan untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang disediakan kampus.

Program ini menjadi bagian dari upaya pencegahan sekaligus penguatan kesadaran pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin di kalangan sivitas akademika.

Dalam kegiatan tersebut, peserta menjalani sejumlah tahapan pemeriksaan dasar. Paket layanan itu dirancang untuk memotret kondisi kesehatan fisik sekaligus mental peserta.

Layanan yang tersedia meliputi pengukuran tinggi dan berat badan, pemeriksaan tekanan darah, pengambilan sampel darah dan urin, pemeriksaan mata, serta tes MMPI atau Minnesota Multiphasic Personality Inventory. 

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Prof Dr dr Haerani Rasyid MKes SpGK SpPD-KGH FINASIM, mengatakan kegiatan MCU sangat bermanfaat bagi dosen.

Menurut dia, berbagai masalah kesehatan yang dialami tenaga pendidik semestinya dapat diketahui sejak dini, sebelum berkembang menjadi gangguan yang lebih berat.

Ia menilai pemeriksaan kesehatan menyeluruh penting untuk mendeteksi kemungkinan adanya penyakit tertentu pada dosen.



MCU - Dosen dan tenaga pendidik di lingkungan Fakultas Kedokteran Unhas menjalani Medical Check Up (MCU) di FK Unhas, Makassar, Senin (20/4/2026). (Unhas TV/Venny Septiani)


Deteksi dini, kata dia, bukan hanya berkaitan dengan keselamatan individu, melainkan juga berhubungan dengan kualitas kinerja dosen dalam menjalankan tugas-tugas akademik.

“Performa dosen yang sehat tentunya akan menampilkan output yang luar biasa bagi dosen tersebut dalam Tridharma Perguruan Tinggi,” ujar Prof Haerani.

Pernyataan itu menegaskan bahwa kesehatan dosen tidak bisa dipisahkan dari kualitas pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam konteks perguruan tinggi, dosen menjadi salah satu aktor utama yang menentukan mutu proses akademik. Karena itu, menjaga kesehatan mereka dipandang sebagai investasi kelembagaan.

Tak hanya menyoroti kesehatan fisik, Prof Haerani juga memberi perhatian pada kondisi mental dosen. Menurut dia, tekanan pekerjaan di lingkungan akademik kerap memunculkan stres, kelelahan, hingga gangguan kecemasan.

Tuntutan menyiapkan perkuliahan, menyelesaikan penelitian, serta menjalankan pengabdian masyarakat menjadi beban yang tidak ringan.

Ia berharap pemeriksaan seperti MCU dapat membantu memetakan kondisi psikologis dosen sejak awal. Dengan begitu, masalah kesehatan mental yang sering luput dari perhatian bisa diidentifikasi lebih cepat dan ditangani secara tepat.

Melalui kegiatan ini, Universitas Hasanuddin tampak ingin menempatkan kesehatan dosen dan tenaga kependidikan sebagai bagian dari agenda penting institusi. Pemeriksaan tidak lagi dipahami semata sebagai respons saat sakit, melainkan langkah preventif yang dilakukan secara berkala.

Bagi peserta, kehadiran layanan yang langsung masuk ke unit kerja memudahkan akses pemeriksaan tanpa harus meninggalkan lingkungan kampus dalam waktu lama.

Skema ini juga memungkinkan partisipasi lebih luas karena layanan hadir dekat dengan tempat aktivitas mereka sehari-hari.

Ke depan, program MCU diharapkan dapat terus berlanjut secara rutin di berbagai unit kerja di Universitas Hasanuddin.

Selain mempertahankan layanan dasar, kampus juga didorong menambah jenis pemeriksaan agar pemetaan kondisi kesehatan sivitas akademika menjadi lebih komprehensif.

Dengan cara itu, upaya membangun lingkungan kampus yang sehat tidak berhenti sebagai program seremonial, melainkan menjadi kebiasaan yang terukur dan berkelanjutan.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)