Mahasiswa
Sulsel

Meja Jemur Portable Karya Mahasiswa Unhas Bikin Kopi Bantaeng Lebih Berkualitas dan Bernilai

MEJA JEMUR - Mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 116 membuat meja penjemuran kopi portable di Desa Pattaneteang, Bantaeng, Minggu (2/8/2026). Jemuran ini untuk meningkatkan mutu pascapanen melalui demonstrasi bersama petani setempat secara langsung. (Dok KKN-T Unhas)

BANTAENG, UNHAS.TV - Mahasiswa Universitas Hasanuddin yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Gelombang 116 memperkenalkan meja penjemuran kopi portable kepada petani di Desa Pattaneteang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Bantaeng, Minggu (2/8/2026).

Program ini dirancang untuk memperbaiki penanganan pascapanen sekaligus meningkatkan mutu dan nilai jual kopi lokal.

Gagasan tersebut muncul setelah mahasiswa melakukan observasi di sejumlah kebun kopi dan berdiskusi dengan petani setempat.

Dari pengamatan itu, sebagian petani masih menjemur biji kopi langsung di atas terpal atau lantai. Cara tersebut dinilai berisiko membuat kopi terkontaminasi debu, tanah, dan kotoran lain.

Penjemuran di permukaan yang tertutup juga dinilai menghambat sirkulasi udara. Akibatnya, proses pengeringan berpotensi tidak merata dan memengaruhi kualitas akhir biji kopi sebelum disimpan atau dipasarkan.

Kondisi pengeringan yang kurang baik dapat membuat hasil panen sulit mencapai mutu yang seragam.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan seminar program kerja yang melibatkan pemerintah desa, kepala dusun, kelompok tani, penyuluh pertanian, dan tokoh masyarakat.

Forum itu digunakan untuk menjelaskan tujuan program sekaligus menghimpun masukan agar teknologi yang diperkenalkan sesuai dengan kebutuhan petani.

Meja penjemuran dibuat dari bahan yang mudah diperoleh dengan biaya relatif terjangkau. Konstruksinya dirancang agar mudah dipindahkan, menjaga biji kopi tetap bersih, dan membantu aliran udara selama proses pengeringan.



MEJA JEMUR - Mahasiswa KKN-T Unhas Gelombang 116 membuat meja penjemuran kopi portable di Desa Pattaneteang, Bantaeng, Minggu (2/8/2026). Jemuran ini untuk meningkatkan mutu pascapanen melalui demonstrasi bersama petani setempat secara langsung. (Dok KKN-T Unhas)


Bentuk portable memungkinkan petani memindahkan meja ketika cuaca berubah atau saat lokasi penjemuran harus disesuaikan.

Selain membuat meja, mahasiswa memberikan edukasi mengenai teknik penjemuran yang baik, kebersihan selama penanganan pascapanen, serta cara mengenali tingkat kekeringan biji kopi sebelum masuk tahap penyimpanan.

Materi tersebut disampaikan melalui penjelasan, demonstrasi pembuatan, dan praktik penggunaan bersama petani.

Pendampingan langsung diharapkan memudahkan masyarakat memahami fungsi meja penjemuran dan mendorong penggunaannya secara berkelanjutan.

Teknologi sederhana itu juga diharapkan dapat diterapkan secara mandiri oleh kelompok tani dengan menyesuaikan ukuran dan bahan yang tersedia.

Penggunaan meja tersebut menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan penanganan kopi yang lebih bersih, tertata, dan konsisten di kawasan sentra produksi tersebut, sekaligus memperkuat daya saing komoditas kopi desa di pasar lokal.

Mahasiswa KKN-T Pemberdayaan Desa Gelombang 116 berharap inovasi tersebut memberi dampak nyata bagi petani Pattaneteang.

“Semoga program ini dapat meningkatkan mutu pascapanen, kualitas, dan nilai jual kopi lokal, sekaligus mendukung kesejahteraan petani,” kata Andika, perwakilan mahasiswa pada akhir kegiatan. (*)