 AUFO-K.webp)
Dokter Spesialis Bedah Anak RSUP Wahidin Makassar Dr dr Sulmiati SpBA SubspUA(K) AUFO-K. (dok Unhas.tv)
Meskipun teratoma sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, keberadaannya bisa menimbulkan komplikasi serius jika tidak segera ditangani.
Beberapa kasus menunjukkan bahwa tumor ini dapat membesar dan menekan organ-organ di sekitarnya, menyebabkan rasa nyeri, gangguan fungsi organ, bahkan komplikasi yang mengancam nyawa.
"Langkah utama dalam penanganan teratoma adalah deteksi dini melalui pemeriksaan medis. Teknologi seperti ultrasonografi (USG), CT scan, dan MRI dapat membantu dokter dalam menganalisis karakteristik tumor," ujar dokter Sulmiati yang tergabung dalam Perkumpulan Spesialis Bedah Anak Indonesia (PERBANI).
Jika teratoma terdeteksi dalam ukuran kecil dan masih bersifat jinak, prosedur pembedahan menjadi solusi terbaik untuk mengangkatnya sebelum berkembang lebih lanjut.
Pada kasus yang lebih serius, terutama jika teratoma bersifat ganas, kombinasi pembedahan dan terapi tambahan seperti kemoterapi mungkin diperlukan untuk mencegah penyebaran sel kanker.
Oleh karena itu, memahami pentingnya pemeriksaan rutin dapat menjadi langkah krusial dalam pencegahan komplikasi lebih lanjut.
Seiring berkembangnya teknologi medis, masyarakat perlu mengubah cara pandang mereka terhadap penyakit ini.
Mitos yang mengaitkan teratoma dengan hal-hal mistis justru dapat menghambat pasien dalam mendapatkan perawatan yang tepat.
Pendidikan kesehatan menjadi kunci utama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa tumor ini hanyalah fenomena biologis yang dapat dijelaskan secara ilmiah.
Menyadari gejala sejak dini, mencari informasi dari sumber yang terpercaya, dan berkonsultasi dengan tenaga medis adalah langkah terbaik dalam menghadapi penyakit ini.
Karena pada akhirnya, bukan mitos yang menyelamatkan, melainkan ilmu pengetahuan yang membawa solusi nyata bagi kesehatan manusia. (*)
(Venny Septiani Semuel | Unhas.TV)