Sport

Mo Salah Bangkit dari Gagal Penalti, Liverpool Tantang PSG Lagi di Perempatfinal




PENALTI - Sempat gagal penalti, Mo Salah mencetak gol yang indah dan memberikan assist yang luar biasa. (Screenshot The Sun/Getty)


Namun yang terjadi justru sebaliknya. Eksekusi penalti model Panenka yang dicobanya terlalu lemah, nyaris bergulir datar, sehingga Cakir dengan mudah menghalaunya sambil menjatuhkan diri ke kiri. Anfield terdiam sesaat. Untuk ukuran Salah, itu jenis kegagalan yang jarang terlihat.

Untung bagi Liverpool, momen itu tak mengubah arah pertandingan. Seusai jeda, mereka menghantam lawan dengan dua gol dalam tempo dua menit. Gol pertama lahir dari serangan yang sangat sederhana, tetapi mematikan.

Mac Allister melepaskan umpan pertama ke kanan, menemukan Salah dalam posisi onside. Tanpa banyak sentuhan, Salah mengirim bola ke tengah. Ekitike, berdiri bebas, tinggal menyelesaikan ke gawang kosong.

Belum sempat Galatasaray memulihkan bentuk pertahanan, Liverpool kembali mencetak gol. Kali ini Wirtz mengirim Salah berlari ke area penalti.

Tembakan penyerang Mesir itu memang masih bisa ditepis Cakir, tetapi bola liar jatuh tepat ke jalur Ryan Gravenberch. Sepakan gelandang Belanda itu tidak bersih, namun cukup terarah dan bertenaga untuk masuk ke sudut bawah gawang.

Baru setelah itu Salah benar-benar mendapatkan penebusannya. Ia bertukar umpan dengan Wirtz, bergerak masuk ke ruang tembak, lalu melepaskan sepakan kaki kiri dari tepi kotak penalti. Bola melengkung tinggi ke pojok gawang—jenis penyelesaian yang sejak awal terasa tak mungkin gagal.

Gol itu bukan hanya memperbesar keunggulan Liverpool, melainkan juga mengantar Salah mencatat tonggak baru: menjadi pemain Afrika pertama yang mencapai 50 gol di Liga Champions, sekaligus masuk daftar 12 pemain tersubur dalam sejarah kompetisi tersebut.

Catatan itu datang hanya beberapa menit setelah Harry Kane mencapai angka serupa. Namun malam di Anfield tetap milik Salah.

Ia sempat nyaris menambah gol lagi ketika tembakannya membentur mistar. Ekitike dan Mac Allister juga masih memiliki peluang, tetapi skor besar yang sudah tercipta membuat semuanya tak lagi terlalu penting.

Galatasaray, tanpa dukungan suporter tandang di Anfield, terlihat kehilangan keyakinan sepenuhnya. Setelah tertinggal jauh, mereka nyaris tak menunjukkan tanda-tanda bisa bangkit.

Liverpool menguasai ritme, mengontrol ruang, dan menutup pertandingan jauh sebelum peluit panjang berbunyi. Laga yang tadinya sempat menyisakan satu noda akibat penalti gagal, berubah menjadi malam yang bersih dan menenteramkan bagi Slot.

Di ujung laga, Salah ditarik keluar dan mendapat standing ovation dari penonton Anfield. Musim ini, jumlah golnya mungkin belum tampak seganas musim-musim terbaiknya. Tetapi bagi publik Merseyside, ia tetap raja mereka.

Dan bagi Slot, kemenangan ini lebih dari sekadar tiket ke fase berikutnya. Ini adalah malam yang memberinya ruang bernapas, tepat sebelum tantangan yang sesungguhnya dimulai.

Liverpool kini akan kembali berhadapan dengan PSG, juara bertahan sekaligus lawan yang pernah menyingkirkan mereka. Selepas itu, Real Madrid atau Bayern Munchen telah menunggu di jalur berikutnya, sementara Arsenal difavoritkan berada di sisi lain bagan menuju Budapest.

Jalan Liverpool masih panjang dan jauh lebih berat. Namun setidaknya, untuk satu malam, mereka telah mengingat kembali bagaimana rasanya melaju dengan keyakinan penuh. (*)