Internasional
Sosial

Pavel Durov Ungkit Pesan Lawas Mark Zuckerberg saat Meta Platforms Digugat soal Privasi WhatsApp

CEO Telegram Pavel Durov Mengejek Mark Zuckerberg lewat Unggahan di Platform X CEO Telegram Pavel Durov Mengejek Mark Zuckerberg lewat Unggahan di Platform X

AMERIKA SERIKAT, UNHAS.TV- Pendiri Telegram Pavel Durov kembali memicu perdebatan global tentang privasi digital setelah membagikan ulang tangkapan layar percakapan lama yang dikaitkan dengan CEO Meta Mark Zuckerberg, sebagaimana dilaporkan media bisnis teknologi Benzinga pada 3 Februari 2026.

Dalam unggahan di platform X, Durov menampilkan percakapan tahun 2004 melalui AOL Instant Messenger yang memperlihatkan Zuckerberg remaja diduga mengejek pengguna awal Facebook karena secara sukarela menyerahkan email dan foto pribadi mereka.

Percakapan tersebut, yang pertama kali muncul bertahun-tahun lalu dalam arsip media teknologi Amerika, kini digunakan Durov sebagai kritik simbolik terhadap praktik industri teknologi yang sejak awal memandang kepercayaan pengguna sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi.

Pakar Kajian Media dan Komunikasi Universitas Andalas, Muhammad Thaufan Arifuddin, menilai polemik ini bukan sekadar konflik personal atau persaingan antarplatform, melainkan cerminan logika kapitalisme digital yang menempatkan data pengguna sebagai komoditas utama.Hal itu disampaikan Thaufan saat redaksi Unhas TV menghubungi via WhatsApp (4/2/2026).

Dalam perspektif ekonomi politik media, Thaufan menjelaskan bahwa komentar lama Zuckerberg merepresentasikan logika struktural industri digital global yang menggantungkan akumulasi modal pada eksploitasi data pribadi.

Durov sendiri menyatakan bahwa satu-satunya hal yang berubah sejak 2004 hanyalah skalanya, karena jika dahulu hanya ribuan orang yang mempercayakan data mereka, kini miliaran pengguna WhatsApp berada dalam posisi serupa.

Menurut Thaufan, kritik Durov menunjukkan bahwa persoalan privasi bersifat historis dan esensinya tidak berubah, melainkan mengalami transformasi struktural dalam ruang publik digital yang kini terkolonisasi kepentingan korporasi raksasa.

Ia menuding perusahaan induk WhatsApp memanfaatkan kepercayaan publik melalui narasi keamanan total, meskipun berbagai kontroversi menunjukkan adanya celah dalam tata kelola privasi dan pengelolaan metadata.

Gugatan hukum terhadap Meta di Pengadilan Distrik Amerika Serikat di San Francisco mempertegas, menurut Thaufan, adanya asimetri informasi antara penyedia platform dan miliaran penggunanya.

Dalam gugatan tersebut, Meta dituduh menyesatkan pengguna dengan klaim enkripsi end-to-end, sementara perusahaan masih memiliki kemampuan menyimpan dan menganalisis metadata komunikasi.

Meta membantah tuduhan itu dengan menyatakan bahwa enkripsi berbasis protokol Signal mencegah perusahaan membaca isi pesan, sebuah klaim yang oleh Thaufan dipandang sebagai strategi diskursif khas industri teknologi.

Kepala WhatsApp Will Cathcart menegaskan bahwa kunci enkripsi disimpan di perangkat pengguna, meskipun kritik akademik menilai bahwa kontrol atas metadata tetap membuka ruang alienasi digital.

Kontroversi semakin meluas setelah Elon Musk menyebut WhatsApp “tidak aman,” yang oleh Thaufan dipahami sebagai bagian dari perang narasi antarelite teknologi dalam memperebutkan kepercayaan publik.

Ia menilai bahwa perdebatan tersebut bersifat simbolik karena secara struktural seluruh platform besar tetap beroperasi dalam logika akumulasi data yang sama.

Dalam pembelaannya, WhatsApp menyinggung keterkaitan firma hukum penggugat dengan NSO Group, produsen spyware Pegasus, yang menunjukkan kompleksitas ancaman privasi di era kapitalisme pengawasan.

Pada 2025, WhatsApp memenangkan gugatan senilai 168 juta dolar AS terhadap NSO Group, namun Thaufan menilai kemenangan hukum tidak otomatis menyelesaikan ketimpangan struktural penguasaan data.

Zuckerberg sendiri sebelumnya menyatakan penyesalan atas komentar masa mudanya dan menegaskan bahwa dirinya tidak seharusnya dinilai dari pernyataan ketika berusia 19 tahun.

Di pasar keuangan, saham Meta turun 1,41 persen, sebuah respons yang menurut Thaufan mencerminkan sensitivitas pasar terhadap reputasi privasi namun kerap bersifat sementara.

Ia menegaskan bahwa fluktuasi saham tidak menyentuh akar masalah utama, yakni siapa yang memiliki dan mengontrol data manusia dalam ekonomi digital global.

Muhammad Thaufan Arifuddin, M.A., Ph.D. (Cand.), Pakar Kajian Media dan Komunikasi dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, yang konsisten mengkaji relasi kuasa, kapitalisme digital, dan masa depan demokrasi di era platform global.
Muhammad Thaufan Arifuddin, M.A., Ph.D. (Cand.), Pakar Kajian Media dan Komunikasi dari Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Andalas, yang konsisten mengkaji relasi kuasa, kapitalisme digital, dan masa depan demokrasi di era platform global.


Polemik ini, menurut Thaufan, menegaskan bahwa literasi digital saja tidak cukup tanpa kedaulatan digital dan regulasi yang kuat serta transparan.

Ia menilai bahwa masa depan demokrasi digital bergantung pada penguatan agensi pengguna, transparansi algoritma, dan keberanian negara menantang dominasi korporasi teknologi.

Bagi Thaufan, polemik Durov dan Zuckerberg adalah alarm bagi peradaban digital abad ke-21 bahwa inovasi teknologi harus kembali diabdikan untuk kepentingan manusia, bukan sekadar akumulasi modal.

Ia menutup dengan menekankan bahwa menjaga privasi dan jurnalisme berkualitas adalah bagian dari perjuangan mempertahankan martabat kemanusiaan di tengah kepungan kapitalisme pengawasan global.(*)