MAKASSAR, UNHAS.TV - Lebih dari 70 peserta mengikuti kegiatan Peace Walk 2026 bertema “Walk for Peace, Act for Earth” di Kota Makassar, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian United for Peace 2026 tersebut mengajak peserta menyusuri sejumlah titik bersejarah dan ruang sosial untuk memahami pengalaman kekerasan, diskriminasi, keberagaman, hingga menerjemahkan nilai perdamaian melalui aksi menjaga lingkungan.
Sejak pagi, peserta berkumpul di Gedung Kesenian Makassar sebagai titik awal perjalanan. Tepat pukul 07.00 Wita, rombongan mulai bergerak menuju sejumlah lokasi yang telah dipilih sebagai ruang refleksi.
Berbeda dari kegiatan jalan bersama pada umumnya, Peace Walk 2026 ini dirancang sebagai perjalanan yang menghubungkan ingatan masa lalu, pembelajaran sosial, dan tindakan nyata pada masa kini.
Setiap lokasi yang dikunjungi memiliki cerita yang berkaitan dengan pengalaman masyarakat dalam menghadapi persoalan keberagaman, konflik, serta upaya membangun hubungan sosial yang lebih inklusif.
Peserta tidak hanya diajak melihat tempat, tetapi juga mendengarkan pengalaman langsung dari berbagai kelompok masyarakat.
Titik pertama perjalanan berada di Vihara Ibu Agung Bahari. Di tempat tersebut, peserta mendengarkan refleksi mengenai pengalaman komunitas Tionghoa di Makassar dalam menghadapi sejarah kekerasan dan kerusuhan sosial.
Romo Hemajayo Thio menyampaikan bahwa pengalaman pahit masa lalu perlu menjadi pelajaran untuk memperkuat kehidupan bersama yang menghargai keberagaman.
Menurut Romo Thio, kekerasan dan kebencian tidak dapat diselesaikan dengan cara yang sama. Perdamaian membutuhkan sikap terbuka untuk memutus rantai kebencian melalui kasih dan penghormatan terhadap sesama.
“Kebencian tidak bisa dibalas dengan kebencian, melainkan dengan cinta,” ujar Romo Thio.
Refleksi tersebut menjadi pintu masuk bagi peserta untuk memahami bahwa sejarah tidak hanya berbicara tentang peristiwa masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat membangun sikap pada masa kini.
.webp)
PERDAMAIAN - Peserta Peace Walk 2026 berjalan menyusuri sejumlah titik refleksi di Kota Makassar, Minggu (27/9/2026) untuk memahami nilai perdamaian dan keberagaman. Setelah berkunjung di Vihara Agung Bahari dilanjutkan ke GPIB Immanuel dan Gereja Katedral. (Dok Peace Walk 2026)
Dari Vihara Ibu Agung Bahari, perjalanan berlanjut menuju GPIB Immanuel. Di lokasi ini, peserta mendengarkan cerita mengenai pengalaman masyarakat Papua, terutama terkait stigma, stereotip, diskriminasi, serta tantangan yang dihadapi ketika menyampaikan suara di ruang publik.
Cerita tersebut disampaikan Frans, mahasiswa asal Papua yang sedang menempuh pendidikan di Makassar.
Ia mengajak peserta memahami persoalan Papua dengan melihat konteks sejarah dan pengalaman masyarakat Papua sebelum memberikan penilaian.
Pesan serupa disampaikan Lince dari Yayasan Mahasiswa Papua. Ia menekankan pentingnya membangun ruang dialog yang memungkinkan masyarakat saling mendengar pengalaman satu sama lain.
“Dengarkan saja dulu sebelum menghakimi atau menstigma segala sesuatu tentang Papua dan juga situasi Papua,” kata Lince.
Dari Konflik Sosial hingga Krisis Ekologi
Perjalanan berikutnya membawa peserta menuju Gereja Katedral Makassar. Di tempat tersebut, peserta disambut Pastor Albert Arina yang mengajak mereka merefleksikan pentingnya menghormati perbedaan dan menjaga hubungan antarumat beragama.
Dalam sesi tersebut, peserta diajak melihat bahwa keberagaman tidak seharusnya menjadi sumber pertentangan.
Perbedaan dapat menjadi kekuatan sosial apabila dibangun melalui penghormatan, dialog, dan kebersamaan. Pastor Albert juga menyoroti pentingnya pengampunan dalam membangun perdamaian.
Menurutnya, proses menuju kehidupan yang damai membutuhkan keberanian untuk melepaskan luka masa lalu dan membuka ruang rekonsiliasi. “Pengampunan adalah solusi menuju perdamaian,” ujarnya.
Dari pembahasan mengenai hubungan antarmanusia, peserta kemudian bergerak menuju TPS3R Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang.
Lokasi ini menjadi titik refleksi bahwa perdamaian tidak hanya berkaitan dengan interaksi sosial, tetapi juga hubungan manusia dengan lingkungan.
Mashud Azikin dari Dewan Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa persoalan lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan keadilan sosial.
Menurut dia, masyarakat perlu mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah, mulai dari mengurangi penggunaan barang yang menghasilkan limbah, menggunakan kembali barang yang masih dapat dimanfaatkan, hingga melakukan daur ulang.
Ia menekankan bahwa pengelolaan lingkungan bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama.
“Keadilan sosial itu tidak akan terwujud ketika keadilan ekologis itu tidak tercapai,” ujar Mashud.
Sementara itu, Lurah Baru, Fajar Harianto, menyampaikan bahwa makna perdamaian perlu diperluas. Perdamaian tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarindividu, tetapi juga hubungan manusia dengan alam.
.webp)
LINGKUNGAN - Peserta Peace Walk 2026 berjalan menyusuri sejumlah titik refleksi di Kota Makassar, Minggu (27/9/2026) untuk memahami nilai perdamaian dan keberagaman. Kegiatan bertema “Walk for Peace, Act for Earth” ditutup dengan aksi lingkungan melalui eco-enzyme. (Dok Peace Walk 2026)
“Peace Day itu bukan saja damai antar sesama manusia, tapi kita juga harus damai dengan lingkungan kita,” tuturnya.
Setelah memperoleh pemahaman mengenai pengelolaan sampah, peserta melanjutkan perjalanan menuju kanal sebagai titik akhir kegiatan.
Di lokasi tersebut, Suzanna, pegiat Ego to Eco sekaligus Ketua Permabudhi Makassar, mengingatkan pentingnya mengurangi produksi sampah sejak dari sumbernya.
Menurut Suzanna, masyarakat perlu membangun kebiasaan baru agar persoalan sampah tidak semakin besar.
Ketika sampah sudah terbentuk, proses pengelolaannya membutuhkan waktu dan tahapan yang lebih panjang. “Prinsipnya adalah jangan menyampah atau kurangi menyampah,” ujarnya.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, peserta melakukan aksi menuangkan eco-enzyme ke kanal. Aksi tersebut menjadi simbol bahwa nilai perdamaian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana yang berdampak bagi lingkungan.
Melalui perjalanan dari satu titik ke titik lainnya, Peace Walk 2026 menghadirkan ruang perjumpaan antara sejarah, keberagaman, pengalaman diskriminasi, solidaritas, pengampunan, dan kepedulian ekologis.
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa perdamaian tidak berhenti pada gagasan atau pernyataan, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat melalui tindakan nyata.
Pesan utama yang dibawa peserta dalam perjalanan tersebut adalah bahwa membangun perdamaian membutuhkan tiga langkah: mengingat pengalaman masa lalu, mendengarkan berbagai perspektif, dan mengambil tindakan untuk menciptakan kehidupan bersama yang lebih baik. (*)
PERDAMAIAN - Peserta Peace Walk 2026 berjalan menyusuri sejumlah titik refleksi di Kota Makassar, Minggu (27/9/2026) untuk memahami nilai perdamaian dan keberagaman. Kegiatan bertema “Walk for Peace, Act for Earth” diawali dengan berkunjung di Vihara Agung Bahari. (Dok Peace Walk 2026)


-300x201.webp)




-300x184.webp)
