Pendidikan
Saintek

Pengalaman Riset dan Studi Doktoral di Taiwan, Dosen FKG Unhas Sorot Budaya Kolaborasi dan Teknologi

Dosen Fakultas Kedokteran Gigi Unhas Sitti Raoda Juanita Ramadhan, saat mempresentasikan penelitiannya saat menempuh studi doktoral sekaligus melakukan riset di Taiwan. (dok Sitti Raoda Juanita)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Dosen Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hasanuddin (Unhas), Sitti Raoda Juanita Ramadhan, membagikan pengalamannya menempuh studi doktoral sekaligus melakukan riset di Taiwan.

Saat ini, ia tercatat sebagai mahasiswa doktoral di China Medical University (CMU), Taiwan, dengan fokus keilmuan pada bidang periodontal dan rekayasa biomaterial.

Sitti Raoda menjelaskan bahwa riset yang ia jalani merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya di Indonesia, yang berfokus pada pengembangan biomaterial, khususnya perancah tulang untuk jaringan pendukung gigi.

“Keahlian saya di periodontal, jaringan pendukung gigi, dan riset saya lebih berfokus pada rekayasa biomaterial, dalam hal ini perancah tulang,” ujarnya saat ditemui di FKG pada Senin (26/1/2026).

Ia menuturkan, riset yang dilakukan bertujuan mengembangkan material yang lebih biokompatibel, sehingga mampu beradaptasi dan bekerja sama dengan sel hidup.

Penelitian tersebut masih berada pada tahap pra-klinik dan pengujian dasar, sebelum nantinya masuk ke tahap klinis.

“Saat ini masih tahap pengujian dasar, bagaimana material itu dianalisis kualitasnya, apakah bisa lanjut ke tahap berikutnya,” katanya.

Memasuki tahun kedua studi doktoralnya, Sitti Raoda mulai lebih banyak mengikuti pelatihan analisis material. Menurutnya, pengembangan biomaterial memerlukan serangkaian uji laboratorium lintas bidang untuk memastikan kualitas dan keamanannya.

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu keunggulan sistem riset di Taiwan adalah budaya kerja yang tinggi serta kolaborasi antardisiplin ilmu yang berjalan secara terintegrasi.

“Di Taiwan, riset kolaboratif itu betul-betul berjalan. Antardepartemen dan keahlian bisa bekerja bersama dengan sangat baik,” jelasnya.

Menurutnya, integrasi antarbidang memungkinkan peneliti untuk melakukan berbagai pengujian di laboratorium berbeda, seperti biomaterial, patologi, hingga mikrobiologi.

“Ketika saya ingin melakukan analisa di berbagai lab yang masih satu tim riset dengan supervisor, saya tidak perlu memikirkan pembiayaan. Saya bagian dari universitas,” ujarnya.

Ia membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia yang dinilainya sebenarnya memiliki fasilitas riset yang lengkap, namun belum sepenuhnya terintegrasi. Hal ini kerap memengaruhi efektivitas kolaborasi lintas bidang.

“Bukan berarti di sini kurang, sebenarnya lengkap. Tapi kita belum terintegrasi dengan baik,” katanya.

Selain pengalaman akademik, Sitti Raoda juga berbagi tantangan adaptasi selama tinggal di Taiwan. Salah satunya adalah perbedaan budaya makanan yang cenderung lebih sehat dengan kadar garam, gula, dan minyak yang rendah.

“Adaptasi awal itu di makanan. Orang Taiwan sangat terkontrol pola makannya, berbeda dengan kita di Makassar,” tuturnya.

Tantangan lain datang dari bahasa. Meski demikian, China Medical University menyediakan pelatihan bahasa Mandarin gratis bagi mahasiswa internasional.

Ia juga memanfaatkan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), untuk membantu memahami materi pelatihan dan instruksi laboratorium.

“Sekarang dengan perkembangan teknologi dan AI, masalah bahasa sudah tidak terlalu sulit lagi,” ujarnya.

Sitti Raoda mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan studi di Taiwan karena membuka peluang kolaborasi internasional yang luas.

Melalui supervisornya, ia berkesempatan terhubung dengan peneliti dari berbagai negara, seperti Jepang, Italia, dan Australia.

“Kesempatan ini membuka jaringan riset internasional yang mungkin tidak saya dapatkan di tempat lain,” katanya.

Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi pembelajaran berharga untuk pengembangan riset kolaboratif di Indonesia ke depan, khususnya dalam mengintegrasikan berbagai bidang keilmuan guna menghasilkan penelitian yang lebih komprehensif.

(Achmad Ghiffary M / Moh Resha Maharam / Unhas TV)