News

Peta: Petunjuk Orientasi dan Navigasi di Bumi dan Kehidupan

Seri Bumi dan Alquran (Hari 25 Ramadhan 1446 H) 

Adi Maulana

MAKASSAR, UNHAS.TV - Sebagian besar dari kita pasti pernah menonton film kartun Dora the Explorer. Yah, film animasi ini menceritakan tentang seorang gadis kecil petualang yang selalu ditemani oleh peta. 

Film Dora ini sangat bagus karena mengandung nilai edukasi yang penting bagi anak-anak yaitu dapat meningkatkan kecerdasan spasial-visual dengan peta sebagai alat bantu. 

Kecerdasan spasial visual adalah kemampuan untuk memahami, membayangkan, mengingat, dan berpikir dalam bentuk visual dan spasial, seperti memahami bentuk, ruang, dan hubungan antar objek.

Kecerdasan ini penting untuk dikembangkan karena berguna dalam berbagai bidang seperti navigasi, seni, dan teknologi, memungkinkan pemahaman bentuk, ruang, dan hubungan visual serta menciptakan ide-ide baru. 

Kecerdasan ini juga penting untuk membantu dalam memvisualisasikan dan memanipulasi objek dalam pikiran, sehingga memudahkan dalam memecahkan masalah yang kompleks. 

Selain itu, kecerdasan ini juga memudahkan dalam memahami diagram, peta, dan informasi visual lainnya. Profesi arsitek, desainer, fotografer, illustrator dan insinyur perancang bangunan serta pilot sangat membutuhkan kecerdasan spasial.

Saat ini kita mengetahui pentingnya kegunaan peta untuk memahami dunia di sekitar kita. Namun tanpa arah mata angin, peta akan tidak mempunyai arti karena tidak akan memberikan konteks dan informasi spasial. 

Tanpa arah mata angin, kita juga tidak akan dapat mengetahui posisi relatif kita di peta, yang nantinya akan menyebabkan kesalahan dalam menghitung jarak dan arah dari suatu objek. 

Seorang arsitek akan kesulitan dalam merancang bangunan yang baik, karena tidak punya patokan ukuran yang jelas dalam membuat rancangan bangunan. 

Kita pun akan mengalami kesulitan untuk melakukan perjalanan karena tidak ada petunjuk atau arah sebagai patokan yang benar ke suatu tujuan. Jika di darat mungkin kita bisa mencoba melakukan orientasi dalam menentukan lokasi dengan melihat bentang alam di sekitar kita seperti gunung, bukit atau Sungai. 

Namun ketika kita melakukan perjalanan di laut terbuka, dimana tidak ada landmark atau rambu-rambu untuk membantu navigasi, akan sangat sulit untuk menentukan ke arah mana kita menuju.

Selama ribuan tahun, para pelaut dapat menentukan arah tujuan dengan memanfaatkan menggunakan posisi matahari dan bintang-bintang. Di belahan bumi bagian utara, pelaut akan menggunakan Polaris – Bintang Utara – untuk mengetahui arah mana yang berada di utara untuk membantu mereka menavigasi melintasi lautan. 

Jika mereka bisa melihat Polaris, mereka tahu ke arah mana mereka menuju. Namun, dalam kondisi langit ditutupi oleh awan tebal atau pada saat terjadi badai yang menutup pandangan ke langit tentu akan sulit melakukan orientasi. 

Karena kebutuhan menentukan arah ini sangat penting, maka ditemukanlah kompas yang dapat dengan mudah menentukan arah mata angin. Dalam Bumi dan Alquran edisi 19 Ramadhan dibahas tentang medan magnet bumi yang sangat penting terutama dalam menentukan arah mata angin pada kompas. 

Saat ini, kita sangat terbantu dengan adanya Kompas sebagai penuntun arah dan peta yang akan memberikan representasi visual dari kondisi bumi, menunjukkan fitur seperti jalan, sungai, gunung, dan bentang alam lainnya. Semuanya lebih mudah dengan adanya kompas dan peta.

Ada dua bidang ilmu yang terkait erat dengan perpetaan yaitu ilmi kartografi dan geografi. Ilmu Kartografi dan geografi ini telah memainkan peran yang penting dalam membentuk pemahaman manusia tentang dunia selama ribuan tahun. 

Peta telah lama digunakan untuk menavigasi ruang fisik, memetakan batas-batas politik, dan memvisualisasikan data yang komplek yang memungkinkan manusia untuk melakukan eksplorasi dan manajemen sumber daya alam, serta melakukan komunikasi yang melintasi jarak yang luas. 

Kartografi telah berevolusi dari yang mulanya hanya berisi tanda-tanda sederhana ditulis di atas tanah sampai aplikasi canggih yang memanfaatkan teknologi seperti citra satelit dan GPS (global Positioning System). 

Konsep tradisional dalam suatu peta seperti skala, proyeksi, dan simbolisasi tetap merupakan bagian integral dari kartografi, sementara kemajuan modern telah memperluas ruang lingkupnya untuk mencakup aspek sosial dan budaya.

Dalam peradaban manusia, peta telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Sejarah peta dimulai dari sketsa dan ukiran di atas sebuah batu sekitar 30.000 SM, kemudian berkembang menjadi peta dunia pertama oleh Anaximander di Yunani Kuno, dan terus maju hingga peta modern yang kita kenal sekarang. 

Salah satu peta kuno yang diketahui sekarang adalah sebuah media berbentuk seperti tablet yang terbuat dari tanah liat yang dibuat sekitar 700 sampai 500 SM di Mesopotamia. Peta ini menggambarkan Babilonia di bagian Tengah yang di apit oleh Sungai Efrat dan dikelilingi oleh laut. 

Peta tersebut tidak memiliki banyak informasi yang detail, walaupun ada beberapa nama lokasi seperti Asyria, tetapi peta itu tidak diperuntukkan untuk keperluan navigasi. Kegunaannya lebih untuk memperkuat eksistensi bangsa Babilonia sebagai pusat peradaban dunia pada saat itu. 

Saat ini, penggunaan peta sudah sangat massif dan menyentuh hampir semua lapisan masyarakat. Peta secara otomatis telah tertanam di alat komunikasi berupa mobile phone yang kita gunakan sehari-hari. Sebagian besar kendaraan modern sekarang sudah dilengkapi dengan fasilitas peta digital atau GPS. 

Peta mengalami perkembangan sesuai dengan keperluan manusia. Sekian lama peta dijumpai dalam bentuk yang konvensional sampai kemudian peta dibuat menjadi yang lebih informatif dan menarik. 

Kita dapat mengetahui di mana kita berada, kemana kita harus mengambil jalan yang cepat jika ingin menuju suatu tempat, bahkan kita dapat dengan mudah mencari titik di muka bumi ini secara akurat, cepat, dan hemat. 

Perkembangan perpetaan tidak bisa dilepaskan dari pengaruh zaman Keemasan Islam yang terjadi di bawah Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258). Para pemimpin Islam di zaman ini mendorong penyelidikan ilmiah dan menugaskan untuk menterjemahkan teks-teks ilmiah dan medis dari bahasa Yunani dan Sansekerta ke dalam bahasa Arab sebagai bahan kajian ilmiah. 

Ilmu geografi dan kartografi ala Arab-Islam kemudian muncul dan berkembang di bawah salah satu khalifah dari dinasti Abbasiyah yaitu Khalifah Ma'mun (786-833). Di bawah khalifah Ma’mun Sekolah Geografi modern pertama di dunia didirikan di Baghdad selama paruh pertama abad ke-10. Sekolah ini didirikan oleh filsuf Persia, ahli geografi, matematikawan, astronom, dan sarjana Sunni, Ahmad Ibn Sahl al-Balkhi (850-934).

Adalah seorang ilmuan muslim yang bernama Muhammad Al-Idrisi, ahli geografi abad pertengahan terkemuka, yang secara signifikan berkontribusi pada bidang ilmu geografi dan kartografi dengan membuat peta lebih detail dan terperinci. 

Muhammad ibn Muhammad al-Idrisi dilahirkan sekitar tahun 1100 – 1166 di Maroko, Afrika Utara dari garis keturunan bangsawan di daerah Sabtah, dan menghabiskan waktunya untuk belajar di Cordoba. Al-Idrisi melakukan perjalanan di wilayah pesisir Mediterania dan Atlantik, termasuk Afrika Utara, Spanyol, Anatolia, pantai barat laut Semenanjung Iberia, dan garis pantai Prancis. 

Keahliannya kemudian mendapatkan perhatian khusus dari Norman Raja Roger II (yang berkuasa 1130–54) dari Sisilia, yang menugaskan al-Idrisi untuk menghasilkan karya agungnya Nuzhat al-mushtaq fi ikhtiaq al-afaq, juga dikenal sebagai Tabula Rogeriana. Inilah publikasi bidang geografi deskriptif pertama berbentuk peta yang menggambarkan lokasi pusat-pusat peradaban utama dunia.

Di dalam Alquran, konsep perpetaan (geografi dan kartografi) tertera di beberapa surah, di antaranya dalam surah Al-Kahfi ayat 17: "Engkau akan melihat matahari yang ketika terbit condong ke sebelah kanan dari gua mereka dan yang ketika terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri, sedang mereka berada di tempat yang luas di dalamnya (gua itu). Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Siapa yang Allah memberinya petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk. Siapa yang Dia sesatkan, engkau tidak akan menemukan seorang penolong pun yang dapat memberinya petunjuk". 

Sebelum kompas dan peta digunakan untuk navigasi dan orientasi di dunia modern, 1.400 tahun yang lalu Rasulullah telah menuliskan wahyu yang dia terima yang mengandung konsep dasar perpetaan, yaitu orientasi dengan memperhatikan tanda-tanda alam (kecondongan sinar matahari) atau landmark di sekitar kita. Surah ini juga mengandung informasi petunjuk tentang arah yaitu kanan dan kiri dan dengan kata syamal yang diartikan sebagai arah utara. 

Dalam surah Al-Baqarah ayat 144 disebutkan: "Sungguh, Kami melihat wajahmu (Nabi Muhammad) sering menengadah ke langit. Maka, pasti akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau sukai. Lalu, hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Di mana pun kamu sekalian berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kitab benar-benar mengetahui bahwa (pemindahan kiblat ke Masjidilharam) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." 

Ayat ini menerangkan bahwa Umat muslim di dunia diperintahkan untuk menghadap ke Mesjidil Haram (kiblat) jika melakukan sholat. Hal ini membutuhkan perhitungan geografis dan mengarah pada pengembangan peta Islam karena umat muslim yang jauh dari Makkah memerlukan panduan untuk arah kiblat, yang kemudian mempengaruhi perkembangan ilmu kartografi secara global.

Secara tersirat, Alquran juga mengandung ayat yang berhubungan erat dengan konsep dasar kartografi lainnya yaitu jarak dan lokasi. Surah Ar-rum ayat 1-2 berbunyi: "Bangsa Romawi telah dikalahkan, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang". 

Istilah "tanah terdekat " dalam ayat di atas mengacu kepada lokasi geografis tertentu, menyiratkan bahwa orang-orang di era itu memiliki pemahaman tentang berbagai daerah dan jarak yang merupakan konsep dasar dalam kartografi.

Dalam surah An-Nahl ayat 15 – 16 juga disebutkan beberapa hal yang terkait dengan konsep perpetaan yaitu: "Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk. (Dia juga menciptakan) tanda-tanda. Dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk. Ayat ini berbicara tentang fitur alam berupa topografi (gunung, sungai, jalan) yang berfungsi sebagai landmark alami, dan sangat penting untuk pembuatan peta dan navigasi. Penyebutan bintang sebagai petunjuk berkaitan dengan kegiatan navigasi yang digunakan dalam geografi.

Alquran ternyata telah mengabarkan tentang perpetaan ini dan mendorong lahirnya modernisasi dalam navigasi untuk memahami bumi beserta isinya. Para pemikir Islam telah terinspirasi dari Alquran dalam mengembangkan ilmu geografi karena beberapa permasalahan ritual peribadatan termasuk yang utama sholat membutuhkan orientasi atau arah kiblat sebagai patokan. 

Perkembangan dalam ilmu perpetaan terus berlanjut karena kebutuhan dan aktifitas manusia dizaman modern yang sudah tidak terbatas ruang dan waktu. Dari navigasi hingga edukasi, informasi hingga inovasi teknologi, peta membantu kita memahami dan berinteraksi dengan dunia di sekitar kita.


Seperti biasa, saya tertegun sambil terus memperhatikan ayat-ayat tentang perpetaan di mushaf. Manusia juga perlu peta. Bukan hanya peta yang berfungsi sebagai petunjuk geografis, namun juga peta yang pada hakikatnya melambangkan kejelasan dan arah bagi kita dalam mengarungi hidup. 

Yah.... Manusia membutuhkan peta spiritual agar jalan hidupnya bisa terarah Kembali ketujuan semula dia diciptakan, yaitu beribadah kepada sang Pencipta Bumi beserta isinya. Sudahkah kita melihat dan mencermati peta spiritual di dalam hati kita? 

Waalahualam Bisshawab