Pendidikan

Polipangkep Kembangkan Living Lab Karang Hias untuk Pasar Ekspor Berkelanjutan

PROGRAM BESTARI - Peneliti Polipangkep Prof Dr Mauli Kasmi SPi MSi saat menerima MoU Program Bestari (Bina Sains dan Teknologi Nusantara) 2026 dari Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Saintek Kemdiktisaintek Prof Yudi Darma MSi PhD di Makassar, Mei 2026. (Dok Mauli Kasmi)

PANGKEP, UNHAS.TV - Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan atau Polipangkep memulai Program Penelitian Bestari Saintek 2026 untuk mengembangkan model Living Lab marikultur karang hias berbasis ekonomi biru. 

Program ini diarahkan untuk memperkuat hilirisasi riset, konservasi terumbu karang, serta membangun rantai pasok ekspor yang berkelanjutan dan melibatkan masyarakat pesisir.

Pelaksanaan program diawali dengan kick-off, survei kondisi awal atau baseline survey, serta pemetaan pemangku kepentingan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan pada Mei 2026. 

Kegiatan tersebut menjadi tahap awal pengembangan “Model Living Lab Kolaboratif: Hilirisasi Riset Marikultur Karang Hias untuk Membangun Rantai Pasok Ekspor yang Berkelanjutan dan Inklusif”.

Ketua Tim Peneliti, Prof Dr Mauli Kasmi SPi MSi mengatakan program tersebut tidak hanya berfokus pada penciptaan teknologi budidaya.

Menurut dia, Polipangkep juga ingin membangun ekosistem inovasi yang menghubungkan perguruan tinggi, industri, pemerintah, masyarakat, dan komunitas lingkungan.

“Program ini merupakan implementasi nyata hilirisasi hasil penelitian,” kata Mauli dalam keterangannya ke Unhas TV.

“Kami ingin membangun Living Lab yang menjadi laboratorium terbuka bagi pengembangan teknologi marikultur karang hias sekaligus pusat pembelajaran, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan rantai pasok ekspor berbasis Blue Economy,” lanjutnya.

Mauli mengatakan pendekatan Living Lab memungkinkan teknologi diuji langsung bersama pengguna di lokasi budidaya.

Dengan metode tersebut, pengembangan inovasi tidak hanya dilakukan di laboratorium kampus, tetapi disesuaikan dengan kondisi lingkungan, kemampuan pelaku usaha, serta kebutuhan kelompok nelayan.

Tahap pertama program difokuskan pada validasi dan perancangan bersama atau co-design. Tim peneliti mengumpulkan data biofisik, sosial, ekonomi, serta kelembagaan sebagai dasar penyusunan desain teknologi dan strategi pelaksanaan program.

Dalam survei awal, tim mengidentifikasi lokasi calon Living Lab dan memetakan kondisi ekosistem terumbu karang. Peneliti juga mengukur kualitas perairan yang mencakup suhu, tingkat salinitas, derajat keasaman atau pH, oksigen terlarut, arus, dan kecerahan air.

Selain aspek lingkungan, survei mencakup inventarisasi potensi budidaya karang hias, analisis rantai pasok, identifikasi kebutuhan teknologi, serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat pesisir.

Data kelembagaan kelompok nelayan juga dihimpun untuk mengetahui kapasitas organisasi dan kebutuhan pendampingan.

Hasil survei akan digunakan untuk menentukan indikator kinerja program, merancang peralatan, serta menyusun sistem pengelolaan budidaya. Tim juga mulai menyiapkan Detailed Process Engineering Design atau DPED untuk lima teknologi utama.

Kelima teknologi itu meliputi sistem Living Lab marikultur karang hias, rak fragmentasi modular, perangkat protein skimmer untuk menjaga kualitas air, dasbor pemantauan digital, dan sistem ketertelusuran produk berbasis kode QR.

Teknologi tersebut akan melalui tahap perancangan, pembuatan purwarupa, uji pengguna, penyempurnaan, dan penerapan di lokasi budidaya.

Sistem ketertelusuran, misalnya, disiapkan untuk merekam asal-usul, proses budidaya, serta jalur distribusi karang hias.

Data tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar dan memastikan produk yang diperdagangkan berasal dari kegiatan budidaya yang legal serta memperhatikan kelestarian lingkungan.

Gandeng Dunia Industri dan Usaha

Polipangkep menggandeng PT Meydi Farm Aquamarine Sustainable sebagai mitra industri. Kerja sama juga melibatkan pemerintah daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan, pemerintah desa, kelompok nelayan, akademikus, mahasiswa, serta komunitas pemerhati lingkungan.

Setiap pihak akan mendapat peran dalam penelitian, pengembangan teknologi, pendampingan masyarakat, dan hilirisasi produk.

Pola kerja tersebut menggunakan pendekatan Quad Helix, yang mempertemukan unsur perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat dalam satu ekosistem kolaborasi.

Program Bestari Saintek diharapkan mengurangi ketergantungan pelaku usaha terhadap pengambilan karang dari alam. Melalui teknik fragmentasi dan budidaya yang terkontrol, karang hias dapat diperbanyak tanpa terus-menerus menekan ekosistem terumbu karang.

Program ini juga ditargetkan meningkatkan produktivitas pembudidaya, memperbaiki mutu produk, memperkuat daya saing ekspor, serta membuka peluang usaha bagi masyarakat pesisir.

Model ekonomi yang dibangun menempatkan keberlanjutan sumber daya laut sebagai dasar kegiatan usaha, bukan sekadar sumber eksploitasi.

Pelaksanaan program dibagi menjadi tiga fase. Fase validasi dan co-design berlangsung pada Mei-Juli 2026, meliputi survei awal, pemetaan pemangku kepentingan, serta penyusunan DPED.

Fase transfer teknologi dan implementasi dijadwalkan pada Agustus-Desember 2026, dengan agenda pembuatan purwarupa, uji pengguna, penyempurnaan teknologi, dan penerapan Living Lab.

Fase terakhir berlangsung pada Januari-April 2027. Tahap ini mencakup integrasi rantai pasok, diseminasi teknologi, penyusunan prosedur operasional standar, penguatan kemitraan, publikasi ilmiah, dan penyelesaian laporan akhir.

Melalui program tersebut, Polipangkep menargetkan penguatan posisinya sebagai pusat unggulan marikultur karang hias berbasis riset terapan.

Model Living Lab yang dihasilkan diharapkan dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia untuk mendukung konservasi laut, ekspor berkelanjutan, dan peningkatan pendapatan masyarakat. (*)