Lingkungan

Polusi Udara Indonesia Kian Mengancam, Warga Kota Padat Paling Rentan Terpapar Dampaknya Setiap Hari

Dr Eng Ir Irwan Ridwan Rahim ST MEng - Dosen Teknik Lingkungan Unhas. (Unhas TV/Rahmatia)

GOWA, UNHAS.TV - Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait polusi udara. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia kerap disebut sebagai salah satu negara dengan tingkat pencemaran udara yang tinggi.

Namun, persoalan ini tidak hanya berhenti pada besarnya emisi yang dihasilkan, melainkan juga pada dampak langsung yang dirasakan masyarakat, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi.

Dosen Teknik Lingkungan Universitas Hasanuddin, Dr. Eng. Irwan Ridwan Rahim, S.T., M.Eng., mengatakan tingginya polusi udara di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan penduduk, peningkatan jumlah kendaraan bermotor, serta aktivitas industri yang terus berkembang.

Semakin besar jumlah penduduk, semakin tinggi pula aktivitas harian yang berpotensi menghasilkan emisi.

“Kalau kita bicara polusi, memang sumbernya dari kendaraan, industri, dan aktivitas masyarakat. Tapi yang paling terasa itu di daerah padat penduduk, karena dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat,” kata Irwan di Kampus Teknik Unhas, Gowa, Selasa (28/4/2026).

Menurut Irwan, indikator polusi tidak cukup hanya dilihat dari banyaknya sumber pencemar. Dampak terhadap masyarakat juga menjadi ukuran penting dalam menilai tingkat kerentanan suatu wilayah.

Karena itu, daerah dengan kepadatan penduduk tinggi biasanya mengalami tekanan lingkungan yang lebih besar dibandingkan kawasan berpenduduk rendah.

Di kawasan perkotaan, paparan polutan terjadi lebih intensif. Aktivitas kendaraan, kawasan industri, permukiman padat, hingga pembangunan infrastruktur menjadi sumber emisi yang berlangsung hampir sepanjang hari.

Kondisi tersebut membuat masyarakat kota lebih rentan mengalami gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang buruk.

Polusi udara yang terus-menerus terhirup berpotensi menurunkan kualitas hidup masyarakat. Dampaknya dapat terasa dalam bentuk gangguan pernapasan, menurunnya kenyamanan lingkungan, hingga meningkatnya risiko penyakit akibat paparan jangka panjang.

Di sisi lain, lingkungan perkotaan yang semakin padat juga membuat ruang terbuka dan area hijau semakin terbatas.

Pertumbuhan transportasi dan urbanisasi turut memperburuk situasi. Mobilitas masyarakat yang tinggi mendorong penggunaan kendaraan bermotor dalam jumlah besar.

Jika tidak diimbangi dengan pengendalian emisi dan perencanaan kota yang baik, tekanan terhadap kualitas udara akan terus meningkat.

Irwan menilai pengendalian polusi udara perlu dilakukan secara menyeluruh. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pengurangan emisi dari kendaraan dan industri, tetapi juga pada penataan kawasan perkotaan.

Perencanaan tata kota yang lebih baik dinilai penting untuk mengurangi paparan polusi terhadap masyarakat.

Dengan kondisi tersebut, kota-kota besar di Indonesia menjadi wilayah yang paling rentan terhadap dampak polusi udara. Pemerintah dan masyarakat perlu mengambil langkah konkret agar pertumbuhan kota tidak semakin memperburuk kualitas lingkungan.

(Rahmatia / Muh Resha Maharam / Unhas TV)