MAKASSAR – Transformasi digital yang melaju tanpa jeda menuntut lahirnya pemimpin kesehatan yang tidak sekadar mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki pola pikir adaptif, inovatif, dan berorientasi pada peningkatan mutu pelayanan, demikian ditegaskan Prof. Sukri Palutturi, S.K.M., M.Kes., MSc.PH., Ph.D. saat menjadi pembicara utama dalam Seminar Administrasi Kesehatan bertajuk Digital Mindset for Future Health Leaders: Generasi Prima untuk Pelayanan Bermutu dan Unggul yang diselenggarakan Program Studi Administrasi Kesehatan STIK Stella Maris Makassar, Selasa, 14 Juli 2026.
Seminar tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa dan pemerhati kesehatan untuk memahami perubahan mendasar yang tengah berlangsung di sektor kesehatan sebagai dampak percepatan perkembangan teknologi digital dan informasi.
Membangun Pemimpin Kesehatan yang Adaptif dan Berdaya Saing
Dalam pemaparannya, Prof. Sukri menegaskan bahwa digitalisasi layanan kesehatan tidak boleh dipersempit hanya sebagai penerapan aplikasi, sistem informasi, atau perangkat teknologi baru.
Menurutnya, transformasi yang sesungguhnya terletak pada kemampuan sumber daya manusia membangun digital mindset melalui kemauan belajar, kesiapan beradaptasi terhadap perubahan, kemampuan berkolaborasi, serta kecakapan memanfaatkan data dan teknologi untuk menghasilkan pelayanan yang lebih efektif dan berkualitas.
"Teknologi akan terus berkembang, tetapi kualitas pelayanan kesehatan tetap sangat ditentukan oleh manusia yang mengelolanya, karena itu generasi muda kesehatan harus memiliki pola pikir digital tanpa kehilangan integritas, empati, dan orientasi pada kebutuhan masyarakat," ujar Prof. Sukri.
Ia mengingatkan bahwa pemimpin kesehatan masa depan harus berani menghadapi perubahan dan menjadikannya sebagai peluang untuk melahirkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Prof. Sukri menyebut kemampuan berpikir kritis, komunikasi yang efektif, kerja sama profesional, literasi data, serta kreativitas dalam menciptakan solusi inovatif sebagai kompetensi utama yang wajib dimiliki calon pemimpin kesehatan di era digital.
Ia menambahkan bahwa transformasi digital harus diarahkan untuk memperkuat sistem pelayanan kesehatan sehingga mampu menghadirkan layanan yang lebih mudah diakses, lebih cepat, lebih efisien, dan semakin nyaman bagi masyarakat.

Prof. Sukri Palutturi menginspirasi Generasi Prima membangun digital mindset demi pelayanan kesehatan bermutu berkelanjutan. (Foto: Dok.Pribadi).
Generasi Prima Dipanggil Menjadi Motor Perubahan
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Sukri juga menekankan bahwa menjadi bagian dari Generasi Prima berarti memiliki keberanian menjadi agen perubahan yang mampu menjawab berbagai tantangan sistem kesehatan yang terus berkembang.
Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai kompetensi akademik, tetapi juga harus membangun karakter kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, serta kepekaan terhadap dinamika dan kebutuhan pelayanan kesehatan di masa depan.
Salah seorang mahasiswa peserta seminar mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti pemaparan tersebut seraya mengatakan, "Selama ini kami mengira transformasi digital hanya berkaitan dengan teknologi, padahal yang paling penting adalah kesiapan cara berpikir, kemampuan beradaptasi, dan komitmen untuk tetap mengutamakan pelayanan kepada masyarakat."
Menutup pemaparannya, Prof. Sukri mengajak seluruh mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam arus transformasi digital, melainkan tampil sebagai motor penggerak perubahan.
"Jadilah Generasi Prima yang membawa perubahan bagi pelayanan kesehatan," pesannya.
Ia optimistis penguatan digital mindset sejak di bangku pendidikan akan melahirkan generasi pemimpin kesehatan Indonesia yang lebih unggul, responsif, adaptif, serta mampu mewujudkan sistem pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkelanjutan.(*)
Prof. Sukri Palutturi menerima apresiasi usai menginspirasi Generasi Prima membangun digital mindset pelayanan berkualitas. (Foto: Dok.Pribadi).


 FEMG_1-300x169.webp)





