Makassar
Sosial
Travel

Pulau Samalona masih Memesona, Kebersihan dan Fasilitas Umum Wajib Dibenahi Pengelola

Suasana Pulau Samalona di Kota Makassar pada liburan akhir pekan, Minggu (26/7/2026). (Unhas TV / Venny Septiani)

UNHAS.TV — Angin laut dari arah timur bergerak pelan di antara deretan perahu yang bersandar di tepian Pulau Samalona, Minggu, 26 Juli 2026.

Air yang bening memantulkan cahaya siang, sementara anak-anak berlari di atas pasir putih yang mulai dipenuhi jejak kaki.

Bagi sebagian pengunjung, hari itu bukan sekadar liburan. Itu adalah perjumpaan pertama dengan pulau kecil yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang lain.

Sejak pagi, perahu-perahu wisata membawa rombongan dari pesisir Makassar. Sebagian datang dengan bekal sendiri, sebagian lain berharap membeli makanan di pulau.

Di bawah teduh pohon, keluarga menggelar tikar, anak-anak bermain air, dan kelompok wisatawan menyiapkan ikan untuk dibakar.

Pemandangan itu memberi kesan akrab, tetapi juga memperlihatkan kebutuhan akan pengelolaan sampah dan fasilitas umum yang lebih teratur agar kenyamanan tidak bergantung pada improvisasi.

Wahyudin Asmar datang bersama Zulfika Taufik dan keluarga. Mereka membawa anak-anak untuk melihat langsung suasana Samalona. Kunjungan itu, kata Wahyudin, sekaligus menjadi “survei awal” sebelum kemungkinan kembali pada kesempatan lain.



Wahyudin Asmar & Zulfika Taufik, Pengunjung Pulau Samalona. (Unhas TV / Venny Septiani)


“Saya ke sini memang cuma mau lihat suasana. Katanya bagus. Kami juga bawa anak jalan-jalan, mau lihat Samalona seperti apa,” ujarnya.

Kesan pertama mereka cukup positif. Pemandangan laut, suasana pulau, dan jarak yang tidak terlalu jauh dari Kota Makassar membuat Samalona terasa mudah dijangkau.

Namun, setelah berkeliling, mereka menemukan hal yang masih perlu dibenahi. Pilihan makanan, misalnya, dinilai belum cukup beragam.

“Pertama kali lumayan. Tapi masih kurang dari segi makanan,” kata Wahyudin. Ia dan keluarganya bahkan sempat berkeliling sambil mencari tempat makan.

Bagi Zulfika, persoalan yang lebih mendesak adalah kebersihan. Sampah yang tertinggal di beberapa bagian pulau mengurangi keindahan pemandangan. Ia berharap pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati laut, tetapi juga bertanggung jawab terhadap barang yang mereka bawa.

“Setiap pengunjung yang datang dan membawa sampah seharusnya pulang juga membawa sampahnya,” kata dia. “Kalau menumpuk di sini, jadinya tidak bagus dan tidak elok dipandang.”

Di bagian lain pulau, Asriana dan Aira menikmati waktu bersama keluarga dan teman-teman. Mereka datang untuk berenang, melihat terumbu karang, dan menyantap ikan bakar.

Air Laut Jernih dan Pasir Putih

Bagi Asriana, kunjungan itu menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di Samalona. Sementara Aira sudah pernah datang dan memilih kembali karena rasa penasaran yang belum tuntas.

“Bagus. Pemandangannya bagus, airnya jernih, dan banyak terumbu karang,” ujar Asriana. Ia juga menyoroti kondisi pasir yang masih terlihat kotor di beberapa titik.

Samalona memang menawarkan pengalaman yang sederhana: laut, pasir, perahu, dan waktu yang berjalan lebih lambat.

Wisatawan dapat berenang di air dangkal, menikmati panorama bawah laut, atau duduk bersama keluarga sambil menyantap hidangan laut. Namun, pengalaman yang menyenangkan itu belum sepenuhnya ditopang fasilitas yang memadai.



Asriana & Aira, Pengunjung Pulau Samalona. (Unhas TV / Venny Septiani)


Asriana dan Aira, misalnya, berharap tersedia musala bagi pengunjung. Fasilitas tersebut dianggap penting karena wisatawan kerap menghabiskan waktu berjam-jam di pulau. Ketiadaannya membuat sebagian pengunjung kesulitan ketika waktu salat tiba.

Masukan para wisatawan memperlihatkan dua wajah Samalona. Di satu sisi, pulau ini memiliki daya tarik alam yang kuat: air jernih, terumbu karang, dan suasana tenang. Di sisi lain, kebersihan, pilihan makanan, dan fasilitas dasar masih membutuhkan perhatian.

Pulau Samalona tetap menjadi magnet wisata bahari Makassar. Namun, keindahan alam saja tidak cukup. Pengelola membutuhkan tata kelola yang rapi, fasilitas yang layak, dan aturan kebersihan yang dijalankan bersama.

Bagi pengunjung seperti Wahyudin, Zulfika, Asriana, dan Aira, Samalona meninggalkan kesan pertama yang menyenangkan, sekaligus catatan kecil yang penting.

Mereka datang karena penasaran, lalu pulang membawa cerita: tentang laut yang jernih, pasir yang indah, dan pekerjaan rumah yang belum selesai.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)