Saintek

Ramai Pertalite Dioplos Pertamax, Perbedaan RON Kunci Performa Mesin Kendaraan

MAKASSAR, UNHAS.TV - Kasus pencampuran bahan bakar Pertamax dengan Pertalite oleh Pertamina --yang baru-baru ini mencuat, telah menimbulkan keresahan di masyarakat.

Pasalnya, Pertamax yang seharusnya memiliki nilai oktan atau Research Octane Number (RON) 92, justru ditemukan hanya memiliki RON 90, setara dengan Pertalite.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai perbedaan utama antara kedua jenis bahan bakar tersebut serta dampaknya terhadap performa kendaraan.

Para pakar pun angkat bicara untuk memberikan penjelasan ilmiah mengenai pentingnya nilai oktan dalam menentukan kualitas bahan bakar.

Menurut Ir. Machmud Syam, DEA, pakar Konversi Energi Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, secara fisik Pertalite dan Pertamax dapat dibedakan melalui warnanya.

Pertalite memiliki warna hijau, sedangkan Pertamax berwarna biru. Namun, perbedaan ini bukanlah faktor utama karena warna tersebut berasal dari proses pewarnaan buatan saat produksi.

Perbedaan yang lebih substansial terletak pada nilai oktan, yang menentukan ketahanan bahan bakar terhadap tekanan sebelum terbakar secara spontan.

Secara teknis, Pertalite memiliki RON 90, sedangkan Pertamax memiliki RON 92. Meski selisihnya tampak kecil, tapi perbedaan ini sangat berpengaruh terhadap kinerja mesin kendaraan.

"Semakin tinggi nilai oktan, semakin lambat bahan bakar terbakar, yang berarti proses pembakaran berlangsung lebih stabil dan minim residu," ujarnya.

"Hal ini sangat penting terutama untuk mesin kendaraan dengan rasio kompresi tinggi, seperti kendaraan modern yang menggunakan sistem pembakaran efisien," tambah Machmud Syam.

Lebih lanjut, dosen Teknik Mesin Unhas itu mengatakan, nilai oktan berperan dalam mencegah knocking atau detonasi, yaitu kondisi di mana bahan bakar terbakar sebelum waktunya akibat tekanan tinggi di dalam ruang bakar mesin.

Knocking dapat menyebabkan peningkatan temperatur dan tekanan secara berlebihan, yang dalam jangka panjang berpotensi merusak komponen mesin.

Oleh karena itu, kendaraan dengan mesin berkompresi tinggi membutuhkan bahan bakar dengan RON yang lebih tinggi agar proses pembakaran lebih optimal dan efisien.

Namun, penggunaan Pertamax pada kendaraan dengan rasio kompresi rendah tidak memberikan manfaat signifikan. Kendaraan tersebut tetap dapat beroperasi dengan baik menggunakan Pertalite tanpa efek negatif yang berarti.

Sebaliknya, jika kendaraan dengan mesin berkompresi tinggi menggunakan bahan bakar beroktan lebih rendah, risiko knocking meningkat, yang dapat menyebabkan penurunan performa, peningkatan konsumsi bahan bakar, dan potensi kerusakan mesin.

Meski kasus pencampuran Pertalite dengan Pertamax merugikan secara finansial bagi konsumen, dampaknya terhadap kinerja kendaraan tidak selalu signifikan, terutama bagi mesin dengan rasio kompresi rendah hingga menengah.

Namun, bagi kendaraan yang dirancang untuk menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan tinggi, pemakaian BBM oplosan ini dapat berdampak negatif terhadap efisiensi pembakaran dan umur mesin.

Oleh karena itu, penting bagi pengguna kendaraan untuk memahami spesifikasi mesin mereka dan memilih bahan bakar yang sesuai guna menjaga performa dan ketahanan mesin dalam jangka panjang. (*)


(Iffa Aisyah Rahman/ Andrea Ririn Karina/ Unhas.TV)