News

RIP: Sudirman Nasir

Kembali ke rewa, Sudi tidak mengartikannya secara statis. Menurutnya, rewa memang dapat diasosiasikan dengan keberanian, kekerasan, atau perilaku berisiko. Tapi sebagian pemuda yang ia wawancarai ternyata menafsirkan rewa secara berbeda. Bagi mereka, menjadi laki-laki terhormat itu berarti bekerja, memperoleh pendapatan yang halal, mandiri secara finansial, bersekolah, atau membangun karir. Di sini, norma yang sama (rewa), ternyata bisa menghasilkan perilaku yang berbeda, bergantung kepada kesempatan yang tersedia, serta bagaimana orang memaknai hidupnya.

Ekonom bisa belajar banyak dari studi-studi seperti ini. Studi Sudi menunjukkan, seorang pemuda tidak bergabung dengan sebuah geng hanya karena ia salah menghitung biaya dan manfaat. Bisa jadi, ia sedang mencari perlindungan, persahabatan, status, atau pengakuan sebagai orang yang rewa. Sebaliknya, pekerjaan dengan upah nominal yang rendah, bisa sangat berharga secara sosial, karena ia memberi alternatif dari sekedar terkunci di lorong-lorong.

Maka implikasi kebijakan dari studi-studi Sudirman Nasir jauh lebih luas daripada sekedar ‘jangan pakai narkoba’. Dalam paper pertama di atas, Sudi dan Rosenthal mengkritik pendekatan harm reduction yang terlalu menekankan perubahan perilaku individual. Mereka menunjukkan bahwa kemiskinan, pengangguran, ketimpangan sosial, normal lokal, dan dinamika geng juga perlu diperhatikan.

Dalam paper yang kedua, pesan Sudi dan kawan-kawannya lebih konstruktif: sekolah dan pekerjaan adalah bagian dari kebijakan pencegahan penggunaan narkoba. Menciptakan kesempatan kepada anak muda untuk bisa bersekolah, bekerja, dan membangun jaringan di luar lingkungan sempit, akan memudahkan mobilitas sosial dan memperkuat mereka menghadapi lingkungan yang berisiko seperti lorong-lorong itu.

Ada satu hal lain yang menyentuh dari paper-paper Sudi ini. Dalam paper lorong, Sudi mengaku, ia sendiri adalah bekas penghuni lorong. Maka orang-orang yang ia teliti datang dari dunia yang tidak asing belaka baginya. Dalam paper itu, Sudi berterima kasih kepada mereka yang telah berani membuka pengalaman hidup mereka, memberi ‘windows into their daily lives’. Sudi suka baca sastra sejak SMA. Mungkin karena itu, tulisan-tulisannya terasa sangat manusiawi.

Selamat jalan, cappo. Terima kasih sudah mengajari kami melihat lorong dan rewa dengan kacamata yang lebih tajam.(*)

Catatan: Arianto A Patunru PhD  adalah seorang peneliti dan dosen di Department of Economics, Crawfoord School of Public Policy, Australian National University. Tulisan ini atas izin dari penulis. Sumber tulisan bisa dilihat di laman ini