MAKASSAR, UNHAS.TV — Kemudahan berbelanja melalui platform digital membuat keputusan membeli dapat terjadi hanya dalam hitungan detik.
Diskon, flash sale, gratis ongkir, tren media sosial, hingga kemudahan pembayaran seperti paylater menjadi sejumlah faktor yang dapat mendorong seseorang membeli barang secara spontan, bahkan ketika barang tersebut sebenarnya tidak sedang dibutuhkan.
Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam program Econotalks Unhas TV bertema “Impulse Buying: Mengapa Kita Sering Membeli Barang yang Sebenarnya Tidak Dibutuhkan?” yang tayang pada Sabtu (8/8/2026).
Pembahasan menghadirkan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (FEB Unhas), Farhanah Ramdhani Sumardi SE MM.
Farhanah menjelaskan, impulse buying merupakan pembelian yang dilakukan secara spontan, cepat, dan tanpa perencanaan matang.
Dorongan tersebut dapat berasal dari faktor internal, seperti emosi dan keinginan melakukan self-reward, maupun faktor eksternal berupa strategi pemasaran yang menciptakan rasa urgensi.
“Impulse buying itu kegiatan atau pembelian yang tidak direncanakan, spontan, cepat, tanpa mempertimbangkan asas kebutuhan atau manfaat,” jelasnya.
Menurut Farhanah, strategi seperti diskon, stok terbatas, beli satu gratis satu, hingga batas waktu checkout dapat mempercepat keputusan konsumen.
Di era digital, dorongan tersebut semakin kuat karena konsumen terus terpapar iklan, tren, konten influencer, dan rekomendasi produk melalui algoritma media sosial.
Paparan yang berulang dapat membuat konsumen merasa membutuhkan produk yang sebelumnya tidak dicari. Kondisi ini juga dapat diperkuat oleh Fear of Missing Out atau FOMO, terutama ketika suatu produk sedang viral dan digunakan banyak orang.
“Awalnya mungkin kita cuma iseng, tapi lama-lama kayaknya cantik. Brand satu muncul, brand kedua muncul lagi. Lama-lama kayaknya saya butuh, kayaknya harus saya beli,” jelasnya ketika menggambarkan bagaimana paparan berulang dapat memengaruhi keputusan konsumen.
Sistem Pembayaran yang Memudahkan
Selain media sosial, kemudahan sistem pembayaran juga perlu diperhatikan. Farhanah menyinggung penelitian tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di lingkungan FEB Unhas yang mengkaji hubungan antara persepsi risiko, impulse buying, dan paylater. Menurutnya, kemudahan paylater dapat ikut mendorong perilaku pembelian impulsif.
Risiko utama dari perilaku tersebut berkaitan dengan kondisi keuangan. Pembelian spontan umumnya tidak masuk dalam perencanaan anggaran sehingga pengeluaran dapat bertambah di luar pos yang telah ditentukan.
Barang yang dibeli pun berpotensi tidak digunakan dan akhirnya menimbulkan penyesalan atau buyer’s remorse.
Karena itu, Farhanah menekankan pentingnya membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum bertransaksi. Konsumen juga perlu menentukan skala prioritas, menyusun anggaran, serta memberi jeda sebelum membeli barang yang tidak mendesak.
“Cobalah tunda seminggu misalnya sebelum membeli. Kadang kalau kita memberi waktu untuk berpikir, kita akhirnya bisa lebih rasional dalam mengambil tindakan,” katanya.
Ia juga menyarankan konsumen menetapkan anggaran sejak awal, termasuk memisahkan kebutuhan primer dan pengeluaran untuk hiburan.
Menurutnya, batas anggaran yang jelas dapat membantu konsumen mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan finansial, bukan semata-mata dorongan sesaat.
Farhanah menegaskan bahwa mengendalikan impulse buying bukan berarti berhenti berbelanja, melainkan membangun kebiasaan membeli secara lebih sadar.
Konsumen perlu mengenali perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, mempertimbangkan manfaat barang, serta tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena diskon, tren, FOMO, atau kemudahan paylater.
Dengan demikian, jeda sebelum membeli menjadi langkah sederhana untuk mengembalikan keputusan belanja pada pertimbangan yang lebih rasional dan sesuai dengan kondisi keuangan.
(Mustika Syaharuddin / Unhas TV)
Dosen FEB Unhas, Farhanah Ramdhani Sumardi SE MM saat tampil dalam program Econotalks di Studio Unhas TV. (Dok Unhas TV/ Mustika Syaharuddin)
-300x169.webp)



 Universitas Hasanuddin (Unhas), Romi Setiawan SE MSM-300x154.webp)



