MAKASSAR, UNHAS.TV – Kawasan Untia di Kota Makassar diproyeksikan menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia timur.
Beragam proyek strategis yang tengah direncanakan, mulai dari pembangunan pelabuhan perikanan, stadion olahraga, hingga pengembangan kawasan wisata pesisir, diyakini mampu membuka ruang bagi lahirnya aktivitas ekonomi baru yang lebih produktif.
Meski demikian, keberhasilan kawasan tersebut tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Fitriwati Djaman SE MSi PhD menilai pengembangan Untia harus dibarengi dengan penciptaan iklim investasi yang sehat, tata kelola kawasan yang baik, serta pemberdayaan masyarakat lokal.
Hal itu disampaikan Fitriwati dalam program Econotalks Unhas TV. Menurut dia, sebuah kawasan baru dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi apabila memiliki sektor unggulan yang mampu menarik investasi sekaligus terhubung dengan sektor-sektor lainnya.
"Pertumbuhan ekonomi akan optimal jika ada sektor unggulan, efek penyebaran ke masyarakat, serta integrasi antar sektor seperti perikanan, UMKM, dan pariwisata," ujar Fitriwati.
Ia mengidentifikasi sedikitnya lima sektor yang berpotensi menjadi penggerak ekonomi di Untia. Pertama, sektor perikanan dan kelautan melalui aktivitas pelabuhan perikanan.
Kedua, pengembangan sport tourism yang didukung pembangunan stadion olahraga. Ketiga, wisata pesisir atau coastal tourism yang memanfaatkan potensi alam kawasan tersebut.
Selain itu, Untia dinilai memiliki peluang mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis pengolahan hasil laut, serta kawasan logistik yang didukung investasi di sektor perhotelan, restoran, dan jasa lainnya.
Namun, Fitriwati mengingatkan bahwa pembangunan infrastruktur hanya menjadi salah satu prasyarat. Faktor lain seperti regulasi yang mendukung, kemudahan investasi, konektivitas antarkawasan, dan pengelolaan yang terintegrasi justru menjadi penentu keberhasilan jangka panjang.
"Infrastruktur itu penting, tapi bukan satu-satunya. Harus ada investasi, regulasi yang mendukung, serta keterlibatan masyarakat lokal agar ekonomi benar-benar bergerak," katanya.
Menurut dia, pembangunan stadion misalnya, tidak boleh hanya memberikan manfaat ekonomi ketika berlangsung pertandingan atau kegiatan olahraga.
Keberadaan fasilitas tersebut harus mampu menciptakan aktivitas ekonomi yang berkesinambungan dengan menghidupkan sektor transportasi, perdagangan, UMKM, hingga industri perhotelan.
Warga Sebagai Pelaku Utama
Fitriwati juga menekankan pentingnya menjadikan masyarakat sekitar sebagai pelaku utama pembangunan.
Warga lokal diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat sebagai tenaga kerja maupun pelaku usaha sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung. "Keterlibatan masyarakat lokal sangat penting. Tanpa itu, investasi tidak akan bertahan lama," ujarnya.
Keberhasilan Untia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, kata Fitriwati, dapat diukur melalui sejumlah indikator.
Di antaranya meningkatnya jumlah usaha baru, bertambahnya nilai investasi, naiknya omzet UMKM, meningkatnya penyerapan tenaga kerja, serta pertumbuhan sektor pariwisata.
Selain indikator ekonomi, dampak sosial juga perlu menjadi perhatian. Peningkatan pendapatan masyarakat dan kualitas hidup dinilai menjadi ukuran penting untuk memastikan pembangunan memberikan manfaat yang inklusif.
Fitriwati menjelaskan, pembangunan kawasan ekonomi harus mampu menciptakan *multiplier effect*. Ketika pendapatan masyarakat meningkat, daya beli akan ikut bertambah sehingga mendorong peningkatan produksi barang dan jasa yang pada akhirnya memperkuat perekonomian daerah.
"Jika pendapatan masyarakat meningkat, maka konsumsi juga naik. Ini akan mendorong produksi dan pada akhirnya meningkatkan perekonomian daerah," katanya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, ia merekomendasikan pemerintah menyusun master plan yang komprehensif, membentuk badan pengelola kawasan, memperkuat kapasitas UMKM lokal, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, melindungi aktivitas ekonomi nelayan, serta memperbaiki konektivitas kawasan.
Ia juga menilai pembangunan perlu dirancang melalui tahapan jangka pendek, menengah, dan panjang yang disertai monitoring serta evaluasi berbasis data agar setiap program berjalan sesuai target.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat atau konsep quadruple helix dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan perencanaan yang matang serta sinergi berbagai pihak, kawasan Untia diharapkan tidak hanya berkembang sebagai lokasi proyek pembangunan, tetapi benar-benar tumbuh menjadi pusat ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Makassar dan kawasan Indonesia Timur.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Fitriwati Djaman SE MSi PhD. (Unhas TV/Andrea Ririn Karina)
-300x169.webp)

-300x176.webp)




 MHPE (1)-300x169.webp)
