Econotalks
News
Program

Ancaman AI di Dunia Kerja, Guru Besar FEB Unhas Tekankan Adaptasi dan Literasi Digital

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Musran Munizu SE MSi MAP saat hadir dalam program Econotalks di Studio unhas.tv, Sabtu (31/1/2026). (unhas tv/moh resha maharam)

UNHAS.TV - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai membawa dua sisi bagi dunia kerja, yakni sebagai peluang peningkatan efisiensi sekaligus ancaman bagi tenaga kerja yang tidak mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Musran Munizu SE MSi MAP, mengatakan dari perspektif pimpinan perusahaan, kehadiran AI justru menjadi peluang strategis untuk meningkatkan efisiensi dan pencapaian target kinerja.

“Kalau dilihat dari sudut pandang pimpinan perusahaan, AI ini menjadi peluang untuk mengejar target-target efisiensi setiap tahun,” ujar Prof Musran saat diwawancarai di Studio Unhas TV, Sabtu (31/1/2026).

Namun di sisi lain, Prof Musran menilai AI juga dapat menjadi ancaman serius bagi tenaga kerja yang tidak memiliki kemampuan dan keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, pekerja yang tidak terlatih menggunakan sistem berbasis komputer, perangkat lunak, hingga AI berpotensi tersingkir dari dunia kerja.

“Bagi karyawan yang tidak mampu beradaptasi, dalam arti skill-nya tidak dilatih dengan kerja-kerja berbasis komputer, software, dan AI, ini tentu menjadi tantangan sekaligus ancaman,” jelasnya.

Ia menegaskan, tenaga kerja yang diprediksi akan tetap bertahan dan dibutuhkan di masa depan adalah mereka yang memiliki keterampilan berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), serta kemampuan digital dan pemahaman AI.

“Ke depan, tenaga kerja yang akan tetap eksis adalah yang punya skill berbasis STEM—sains, teknologi, engineering, dan matematika, yang semuanya terintegrasi dengan digitalisasi dan AI,” katanya.

Terkait peran pemerintah, Prof Musran menekankan pentingnya pembenahan sistem pendidikan sejak dini guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar tidak tertinggal oleh laju teknologi. Menurutnya, literasi digital perlu diperkenalkan sejak pendidikan dasar.

“Mulai dari SD, SMP, sampai SMA, seharusnya ada mata pelajaran yang meningkatkan literasi digital. Siswa perlu diperkenalkan dengan IT, AI, hingga machine learning,” ujarnya.



Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Dr Musran Munizu SE MSi MAP saat hadir dalam program Econotalks di Studio unhas.tv, Sabtu (31/1/2026). (unhas tv/moh resha maharam)


Ia menilai pengenalan tersebut harus berkelanjutan hingga ke jenjang perguruan tinggi, baik di universitas maupun kampus vokasi, agar kompetensi lulusan selaras dengan kebutuhan dunia kerja masa depan.

“Semua itu harus menjadi satu kompetensi yang berkesinambungan dan menyesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja,” tambahnya.

Prof Musran menekankan, pemerintah perlu membangun strategi dan kebijakan yang mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja, khususnya di bidang STEM yang berbasis teknologi informasi dan AI.

Menurutnya, jika penguatan kompetensi tersebut dilakukan secara konsisten, lulusan perguruan tinggi akan lebih cepat beradaptasi dengan dunia kerja dan memiliki produktivitas tinggi.

“Selain meningkatkan pengetahuan, skill yang dimiliki akan terkonversi menjadi tenaga kerja yang siap kerja dan berproduktivitas tinggi, yang tentu dibutuhkan perusahaan saat ini dan di masa depan,” pungkasnya.

(Achmad Ghiffary M / Moh Resha Maharam / Unhas TV)