MAKASSAR, UNHAS.TV - Kasus dugaan korupsi pengadaan ompreng atau wadah makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi perhatian. Praktik ini dinilai mengganggu distribusi program serta berpotensi merugikan masyarakat luas.
Ompreng sebagai wadah makanan memiliki peran penting dalam mendukung kelancaran distribusi MBG kepada penerima manfaat, khususnya anak-anak. Namun, dugaan penyelewengan dalam pengadaannya menyebabkan anggaran tidak digunakan sebagaimana mestinya.
Akibatnya, dana yang seharusnya beredar di masyarakat menjadi terhambat dan tidak memberikan dampak ekonomi secara optimal.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Sanusi Fattah SE MSi CSF CWM, menjelaskan bahwa program MBG sejatinya memiliki efek berganda atau multiplier effect yang besar jika dijalankan dengan baik.
“Korupsi itu kan sebenarnya mengambil yang bukan haknya. Dalam konteks MBG, program ini seharusnya memberikan multiplier effect yang luar biasa. Ketika pemerintah menjalankan MBG, ada kebutuhan bahan baku seperti beras, daging, telur, susu, dan buah," ujar Sanusi.
"Jika berjalan baik, petani, peternak, hingga pedagang akan mendapatkan keuntungan. Selain itu, gizi anak-anak juga akan meningkat karena mendapat makanan bergizi,” jelasnya.
Sanusi menambahkan, ketika program berjalan optimal, seluruh rantai ekonomi akan ikut merasakan manfaat, mulai dari sektor pertanian hingga perdagangan.
Namun, jika anggaran diselewengkan, dampaknya akan signifikan. Target program yang semula dirancang maksimal bisa menurun drastis dan tidak tercapai secara optimal.
Dari sisi negara, kondisi ini juga berdampak pada terganggunya pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Dalam satu unit pelaksana program saja, dapat menyerap puluhan tenaga kerja dari berbagai bidang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa korupsi tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga memutus rantai ekonomi serta menghambat kesejahteraan masyarakat.
(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin, Dr Sanusi Fattah SE MSi CSF CWM. (Unhas TV / Andrea Ririn Karina)

-300x169.webp)


 Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Nur Alamzah SE MSi-300x163.webp)
 dan Yus Iranna-300x169.webp)


