Mahasiswa
Sosial

“Ruang Teduh” Hadir di Unhas, Sediakan Ruang Aman untuk Cerita dan Pulih

RUANG TEDUH - Lingkar Bertahan Pusat Disabilitas Unhas menggelar kegiatan Ruang Teduh di Taman Inklusif Jalinan Jiwa, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu (20/5/2026) sore. (Unhas TV/Zahra Tsabita)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Lingkar Bertahan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin menggelar kegiatan “Ruang Teduh” di Taman Inklusif Jalinan Jiwa, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu (20/5/2026) sore.

Kegiatan bertema “Capek Itu Wajar” ini menjadi ruang aman bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk berbagi cerita, beristirahat sejenak dari tekanan hidup, dan mendapatkan dukungan psikologis.

Kegiatan ini digelar sebagai respons atas banyaknya orang yang memendam rasa lelah, bingung, dan tertekan seorang diri.

Melalui “Ruang Teduh”, peserta diajak berhenti sejenak dari kesibukan, mendengar kembali suara dari dalam diri, serta menyadari bahwa kelelahan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Koordinator Lingkar Bertahan, Muh. Dedy Sasmita, mengatakan “Ruang Teduh” hadir sebagai tempat jeda bagi mereka yang sedang tidak baik-baik saja. Menurut dia, setiap orang membutuhkan ruang untuk didengar tanpa merasa dihakimi.

“Kalau teman-teman sedang berjalan lalu menemukan pepohonan yang teduh, itu bisa menjadi ruang istirahat. Begitu juga Ruang Teduh. Kami ingin menghadirkan ruang jeda bagi teman-teman yang sedang capek atau punya problem,” kata Dedy.

Dedy menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa Unhas. Masyarakat umum juga dapat datang dan mengikuti kegiatan tersebut. Ia menegaskan, peserta tidak wajib langsung bercerita. Mereka dapat datang, duduk, diam, dan merasakan suasana yang aman.

“Ruang Teduh hadir untuk mendengarkan cerita teman-teman tanpa dihakimi. Di sini, teman-teman tidak harus aktif bercerita. Datang, duduk, diam pun tidak apa-apa,” ujarnya.

Lingkar Bertahan merupakan forum pendampingan di lingkungan Universitas Hasanuddin. Forum ini menyediakan ruang dukungan bagi dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa yang mengalami tekanan mental atau depresi.

Forum tersebut berupaya membuka akses pendampingan yang lebih dekat, hangat, dan mudah dijangkau.

Saat ini, “Ruang Teduh” didukung oleh 18 konselor terlatih. Para konselor tersebut siap memberikan pendampingan psikologis secara gratis kepada peserta yang membutuhkan.

Jika kondisi peserta memerlukan penanganan lanjutan, mereka dapat dirujuk ke psikolog atau layanan rumah sakit.

Selain menjadi ruang berbagi, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental.

Penyelenggara berharap “Ruang Teduh” dapat mengurangi stigma terhadap orang yang mengalami tekanan batin, kelelahan emosional, atau masalah psikologis.

Kegiatan “Ruang Teduh” dijadwalkan berlangsung setiap Rabu mulai pukul 16.00 Wita hingga selesai. Dengan suasana terbuka dan penuh penerimaan, kegiatan ini diharapkan menjadi ruang kecil yang membantu peserta merasa lebih tenang, didengar, dan tidak sendirian.

Bagi Lingkar Bertahan, kepedulian terhadap kesehatan mental tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, ia cukup dimulai dari ruang sederhana tempat seseorang bisa duduk, diam, lalu perlahan merasa aman untuk bercerita.

(Zahra Tsabitha Sucheng / Unhas TV)