Ekonomi

Rupiah Makin Lemah, Tembus 1 Dollar Setara Rp 17.500

undefined

MAKASSAR, UNHAS.TV - Nilai tukar mata uang Rupiah melemah tajam pada perdagangan awal Asia Selasa, Selasa (12/5/2026), yang mencapai Rp 17.512 per dolar sebelum berfluktuasi di sekitar 17.505.

Keadaan ini mengonfirmasi titik terendah sepanjang masa pada 12 Mei di tengah penguatan dolar AS dan tekanan domestik seperti arus keluar modal dan kekhawatiran fiskal di bawah Presiden Prabowo Subianto. 

Bank Indonesia sudah berusaha meningkatkan intervensi, termasuk pertahanan pasar dan pembatasan pembelian dolar, sambil bersiap menaikkan suku bunga jika diperlukan.

Pelemahan nilai tukar Ruiah ini terjadi di tengah klaim pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi tumbuh solid sebesar 5,6% pada kuartal pertama yang kemudian mendukung Rupiah menjadi undervalued. 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan, pelemahan nilai tukar Rupiah ini adalah dampak dari konflik di Timur Tengah sehingga mendorong naiknya harga minyak mentah dunia dan ketidakpastian global. Selain itu, juga karena permintaan yang begitu tinggi terhadap Dollar AS.

"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik," ujar Destry kepada media, sebagaimana dikutip dari CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).

Destry yakin, nilai tukar Rupiah akan kembali ke levell fundamentalnya jika tekanan musiman tersebut cepat mereda. Hal itu juga ditopang oleh ketersediaan likuiditas valuta asing di pasar domestik yang cukup tinggi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga valuta asing di akhir Maret yang mencapai 10,9 persen year to date (YTD).(*)