Budaya
News

Sebagaimana Turki dan Mesir, Kesultanan Buton juga Membunyikan Meriam Ramadhan



Ilustrasi sejumlah anak di depan Masjid Keraton Buton

Di Nusantara, komunikasi Ramadan melalui bunyi juga hadir dalam berbagai bentuk. Tabuhan bedug di Jawa, seperti di Masjid Agung Demak, menjadi penanda waktu salat dan berbuka. Di Pontianak, meriam karbit menyemarakkan malam Ramadan.

Namun Tembaana Bula memiliki kekhasan tersendiri. Ia bukan sekadar bunyi perayaan, melainkan simbol keputusan resmi kesultanan. Ramadan dimulai bukan hanya karena hilal terlihat, tetapi karena otoritas tertinggi negeri telah menetapkannya.

Gema yang Tersisa

Tembaana Bula menyimpan pesan yang lebih dalam daripada sekadar dentuman meriam. Di masa lalu, Kesultanan Buton menempatkan Ramadan sebagai urusan kenegaraan, sebuah momentum yang menyatukan struktur politik, otoritas agama, dan kehidupan sosial dalam satu simpul waktu yang sakral.

Ramadan bukan sekadar kewajiban individual. Ia adalah peristiwa kolektif. Pasar menyesuaikan aktivitas; pelabuhan mengatur ritme; rumah-rumah menata sahur dan berbuka. Negeri bergerak dalam satu irama.

Kini, penetapan awal Ramadan mengikuti mekanisme modern. Meriam di benteng lebih sering menjadi saksi wisatawan daripada saksi hilal. Namun pelajaran dari Tembaana Bula tetap hidup: bahwa spiritualitas dapat memperkuat tata negara, dan tata negara dapat menjaga kehormatan spiritualitas.

Sebagaimana kata Jalaluddin Rumi, “Apa yang kau cari sedang mencarimu.” Ramadan adalah pencarian itu. Dentuman meriam mungkin telah lama berhenti, tetapi kerinduan kolektif untuk menyambut bulan suci, dengan tertib, dengan hormat, dengan kebersamaan, akan selalu menemukan jalannya kembali.


*Penulis adalah blogger, peneliti, dan digital strategist. Lulus di Unhas, UI, dan Ohio University. Kini tiinggal di Bogor, Jawa Barat