Sport

Sejarah Buruk Tendangan Penalti, Midtjylland Buang Peluang dengan Tiga Penalti Gagal Beruntun

GAGAL PENALTI - Aral Simsir menjadi pemain Midtjylland yang gagal menembak penalti. (Screenshot The Sun/Getty)

HERNING, UNHAS.TV - Selama 210 menit, FC Midtjylland masih tampak pantas bertahan di Liga Europa. Mereka memenangi leg pertama, bertarung keras di kandang sendiri, lalu memaksa Nottingham Forest bermain sampai adu penalti.

Namun semua daya juang itu runtuh dalam hitungan beberapa menit. Tiga algojo Midtjylland gagal seluruhnya, tanpa satu pun tendangan mengarah ke gawang, dan klub Denmark itu tersingkir dengan cara yang sulit dibela bahkan oleh pendukungnya sendiri.

Nottingham Forest kemudian menang 3-0 dalam adu penalti setelah laga berakhir 2-1 untuk tim Inggris dan agregat imbang 2-2.

Bagaimana proses kegagalan itu? Kegagalan Midtjylland dalam adu penalti dimulai dari Cho Gue-sung, yang sepekan lalu menjadi penentu kemenangan timnya pada leg pertama. Ia maju sebagai penendang pertama. Bola tendangannya menghantam tiang.

Penendang kedua, Aral Simsir, mengirim bola ke sisi yang sama dan kembali membentur tiang seperti sepakan Cho Gue-sung.

Ketika peluang terakhir datang kepada Edward Chilufya, tekanan tampak terlalu besar untuk ditanggung. Ia terpeleset saat menendang dan mengangkat bola jauh di atas mistar.

Tiga penendang, tiga kegagalan, nol gol. Bukan kiper lawan yang menggagalkan Midtjylland, melainkan kecemasan mereka sendiri.

Yang membuat kegagalan itu terasa lebih pahit ialah konteks pertandingan sebelumnya. Midtjylland datang ke leg kedua dengan keunggulan 1-0 dari Nottingham.

Tetapi Forest membalikkan keadaan lewat gol Nicolás Domínguez dan Ryan Yates, sebelum Martin Erlic mencetak gol yang menghidupkan kembali tuan rumah dan menyamakan agregat.

Sampai titik itu, Midtjylland masih terlihat mampu menjaga saraf. Mereka bertahan, memaksa laga masuk perpanjangan waktu, lalu berdiri hanya beberapa tendangan dari tiket perempat final. Justru di momen paling sederhana—11 meter dari gawang—mereka ambruk total.

Sebaliknya, Nottingham Forest memperlihatkan ketenangan yang nyaris klinis. Morgan Gibbs-White membuka adu penalti dengan tenang. Ibrahim Sangaré menyusul tanpa beban. Neco Williams kemudian menutupnya, setelah Chilufya lebih dulu mengirim bola entah ke mana.

Perbandingannya jelas, Forest mengeksekusi tiga penalti seperti rutinitas latihan, Midtjylland menendangnya seperti sedang mencoba membuang rasa takut.

Hasilnya bukan sekadar kekalahan, melainkan sebuah kolaps yang menghapus seluruh kerja keras mereka sepanjang laga. Forest pun lolos ke perempat final dan akan menghadapi FC Porto.

Ryan Yates, gelandang sekaligus kapten Forest, mengakui bahwa adu penalti selalu menyimpan ketegangan. “Penalties are always nervy,” kata dia kepada TNT Sports setelah pertandingan.

Namun justru dalam situasi itulah perbedaan kedua tim terlihat jelas. Forest memiliki penendang yang melangkah maju dan menuntaskan tugas.

Midtjylland memiliki tiga kesempatan untuk bertahan hidup, tetapi gagal mengubah satu pun menjadi ancaman. Dalam pertandingan gugur Eropa, selisih itu terlalu besar untuk diabaikan.

Bagi Midtjylland, tersingkir bukan cerita paling menyakitkan malam itu. Yang lebih membebani adalah cara mereka tersingkir. Tim ini tidak kalah karena dibombardir, tidak pula tersapu oleh permainan brilian lawan.

Mereka kalah karena di ujung pertandingan, ketika ruang, waktu, dan tugas sudah disederhanakan menjadi satu tendangan, mereka tak mampu menjaga akurasi paling dasar.

Dua kali mengenai tiang, sekali melambung setelah terpeleset. Itu bukan cuma statistik buruk, melainkan rangkuman tentang gugup yang mengambil alih sebuah tim.

Di Liga Europa musim ini, mungkin tak ada babak adu penalti yang lebih buruk dari memperlihatkan rapuhnya mental sebuah klub selain yang dialami Midtjylland di Herning. (*)