Sport

Semenyo Antar Manchester City Juara Piala FA, Chelsea Kembali Gagal di Final Domestik

FA CUP - Manchester City mengangkat tropi FA Cup 2026 setelah mengalahkan Chelsea dengan skor 1-0 di Wembley Stadium, Minggu (17/5/2026) dini hari. Ini menjadi gelar kedua City setelah sebelumnya juara Carabao Cup. (The Sun/PA)

LONDON, UNHAS.TV - Manchester City kembali mengangkat trofi Piala FA setelah mengalahkan Chelsea 1-0 di Stadion Wembley, Minggu (17/5/2026) dini hari.

Gol tumit Antoine Semenyo menjadi pembeda dalam laga final yang berlangsung ketat dan minim peluang tersebut.

Kemenangan ini menjaga peluang City meraih treble musim ini, sekaligus memastikan gelar ganda piala domestik (Carabao Cup dan FA Cup) bagi tim asuhan Pep Guardiola.

Gol tunggal City lahir pada babak kedua. Erling Haaland bergerak di sisi pertahanan Chelsea dan mengirim umpan rendah ke depan gawang. Semenyo, yang datang dari arah tengah, menyambut bola dengan sentuhan tumit yang mengecoh kiper Robert Sanchez.

Penyelesaian itu menjadi momen paling menentukan dalam pertandingan yang lebih banyak diwarnai duel fisik, blok pertahanan, dan keluhan penalti dari pemain Chelsea.

Bagi Semenyo, gol tersebut menjadi yang ke-10 sejak bergabung dengan Manchester City dari Bournemouth pada Januari lalu.



Statistik Laga Chelsea vs Man City. (The Sun)


Pemain sayap asal Ghana itu disebut menjadi salah satu rekrutan penting Guardiola pada paruh musim, bersama Marc Guehi. Golnya di Wembley bukan hanya indah secara teknik, tapi juga bernilai besar karena mengantar City menambah koleksi trofi.

Haaland, yang belum juga mencetak gol di Wembley, tetap berperan penting dalam proses gol tersebut. Penyerang asal Norwegia itu memilih mengirim umpan ke tengah, bukan melepaskan tembakan dari sudut sempit.

Keputusan itu membuka ruang bagi Semenyo untuk menuntaskan serangan dengan cara yang sulit diantisipasi lini belakang Chelsea.

Tambahan trofi ini menjadi gelar Piala FA ketiga Guardiola bersama Manchester City. Secara keseluruhan, pelatih asal Spanyol itu kini telah mengoleksi 17 gelar mayor selama satu dekade menangani klub Etihad.

Peluang menambah gelar ke-18 masih terbuka, meski City membutuhkan Arsenal tersandung dalam persaingan kompetisi liga pada akhir musim.

Chelsea datang ke final dengan pendekatan yang berhati-hati. Pelatih sementara Callum McFarlane memasang Reece James sebagai starter untuk pertama kalinya dalam dua bulan. Kehadiran James menjadi suntikan penting, terutama karena ia diberi tugas khusus menjaga Bernardo Silva.

McFarlane menerapkan skema tiga bek yang berubah menjadi lima pemain bertahan ketika City menguasai bola. Marc Cucurella dan Malo Gusto turun lebih dalam untuk menutup sisi lapangan.

Strategi itu cukup efektif pada sebagian besar pertandingan karena City kesulitan menembus rapatnya barisan biru di depan Sanchez.

City baru mendapat peluang jelas ketika James kehilangan bola di dekat kotak penalti sendiri akibat tekanan Jeremy Doku dan Haaland. Penyerang City itu kemudian masuk ke area berbahaya, tapi sudut tembaknya terlalu sempit.

Haaland memilih menembak langsung dan bola melintas tanpa hasil, padahal Omar Marmoush berada dalam posisi yang lebih baik untuk menerima umpan.

Dua menit kemudian, Haaland sempat memasukkan bola ke gawang Chelsea. Namun gol itu dianulir karena Matheus Nunes lebih dulu berada dalam posisi offside sebelum mengirim umpan mendatar ke depan gawang. Keputusan asisten wasit dinilai tepat dan perayaan City pun terhenti.

The Blues Minim Peluang

>> Baca Selanjutnya