MAKASSAR, UNHAS.TV - Dosen Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin (Unhas) sekaligus Tenaga Ahli Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI) Dr Ir Abdul Haris Bahrun MSi menilai, kelapa sawit merupakan komoditas strategis global yang menyimpan peluang besar bagi Indonesia, namun tetap memerlukan pengelolaan yang tepat agar tidak menimbulkan dampak lingkungan.
Pandangan tersebut disampaikannya dalam program Unhas TV yang digelar di Studio Unhas TV, Rabu (22/4/2026). Dalam pemaparannya, Haris menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia, dengan penguasaan lebih dari 50 persen pasar global.
"Luas perkebunan sawit nasional mencapai sekitar 16 juta hektare dengan produksi crude palm oil (CPO) yang terus menunjukkan tren stabil dalam beberapa tahun terakhir," jelasnya.
Menurutnya, kontribusi sektor sawit tidak hanya terlihat dari sisi ekspor, tetapi juga dari penyerapan tenaga kerja dalam jumlah besar. Ia menyebutkan sekitar 4 juta tenaga kerja terlibat langsung di sektor perkebunan, sementara lebih dari 12 juta lainnya terserap di sektor hilir, termasuk industri pengolahan dan turunan produk sawit.
Dari perspektif agroteknologi, Haris menilai kelapa sawit memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan tanaman penghasil minyak lainnya. Dalam satu hektare lahan, sawit mampu menghasilkan hingga empat ton minyak, jauh melampaui komoditas seperti kedelai atau bunga matahari yang produktivitasnya relatif lebih rendah.
Selain itu, kelapa sawit memiliki kemampuan adaptasi yang luas terhadap berbagai kondisi lingkungan, mulai dari tanah dengan tingkat keasaman berbeda hingga variasi iklim. Keunggulan ini membuat sawit menjadi komoditas yang fleksibel dan relatif mudah dibudidayakan di berbagai wilayah Indonesia.
Di sisi lain, isu lingkungan menjadi sorotan yang tidak terpisahkan dari perkembangan industri sawit. Haris menegaskan, anggapan yang menyebut sawit sebagai penyebab utama deforestasi perlu dilihat secara lebih komprehensif. Ia menilai permasalahan utama terletak pada aspek pengelolaan lahan, bukan pada komoditasnya.
Ia menjelaskan, pembukaan lahan sebenarnya telah diatur melalui berbagai kebijakan, termasuk penetapan kawasan budidaya dan kewajiban analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
"Penerapan standar seperti Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) juga menjadi instrumen untuk memastikan praktik perkebunan berjalan sesuai prinsip keberlanjutan," ungkap dosen Unhas tersebut.
Haris juga menyoroti, peningkatan produksi tidak harus selalu dilakukan melalui ekspansi lahan. Ia menekankan pentingnya pendekatan intensifikasi melalui penggunaan bibit unggul, pemupukan berimbang, pengendalian hama, serta penerapan teknik budidaya yang tepat.
"Saat ini, produktivitas sawit nasional berada pada kisaran 3 hingga 3,5 ton per hektare. Namun, menurutnya, angka tersebut masih dapat ditingkatkan hingga mencapai 5 sampai 6 ton per hektare dengan penerapan teknologi yang lebih optimal," terangnya.
Selain aspek produksi, kelapa sawit juga memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Haris menyinggung pemanfaatan CPO sebagai bahan baku biodiesel yang dikembangkan melalui program pencampuran bahan bakar, seperti B20 hingga rencana implementasi B50.
Dengan produksi yang mencapai puluhan juta ton per tahun, sebagian kecil dari volume ekspor dinilai sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri tanpa mengganggu kinerja ekspor.
"Dalam konteks global, posisi Indonesia sebagai produsen utama menjadikan sawit sebagai komoditas yang tidak hanya bernilai ekonomi tinggi, tetapi juga memiliki dimensi strategis dalam dinamika energi dan perdagangan internasional," tutur Tenaga Ahli Kementan RI itu.(*)
Achmad Ghiffary M (UNHAS TV)
SAWIT - Staf ahli Kementan Dr Ir Abdul Haris Bahrun MSi tampil dalam program Unhas Speak Up di Unhas TV. Abdul Haris membahas mengenai dampak ekonomi sawit. (Unhas TV/Paramitha)






 MMedEd-300x169.webp)
