Mahasiswa
Sosial

Setara Vol. 2 Buka Ruang Inklusif untuk Kreativitas, Kolaborasi, dan Kepedulian Lingkungan Bersama

SETARA VOL 2 - Peserta mengikuti Setara Vol. 2 di Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan ini mengajak pemuda dan difabel belajar pengelolaan sampah melalui praktik junk journaling bersama. (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)

MAKASSAR, UNHAS.TV – Puluhan peserta dari beragam latar belakang berkumpul di Taman Inklusif Jalinan Jiwa, Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu (26/9/2026).

Mereka mengikuti Setara Volume 2, kegiatan yang mempertemukan anak muda, relawan, dan penyandang disabilitas dalam ruang belajar dan berkarya bersama.

Forum Duta Pemuda Kota Makassar menggelar kegiatan tersebut melalui kolaborasi dengan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin. Setara Volume 2 mengusung tema “Belajar, Berkarya, Berdaya Bersama” dengan menempatkan prinsip kesetaraan sebagai dasar seluruh rangkaian kegiatan.

Tidak hanya berbicara mengenai inklusivitas, panitia mengajak peserta terlibat dalam kegiatan praktis. Salah satunya pengenalan pemilahan dan pengolahan sampah, terutama sampah berbahan kertas.

Peserta mendapat penjelasan mengenai cara memisahkan material yang masih dapat dimanfaatkan dari sampah yang tidak lagi memiliki nilai guna. Materi kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi pengolahan kertas bekas menjadi produk kreatif.

Salah satu praktik yang mendapat perhatian peserta adalah junk journaling. Dalam kegiatan itu, peserta menggunakan kertas bekas, potongan bahan, serta berbagai material yang sudah tidak terpakai untuk menyusun jurnal kreatif.

Kertas yang sebelumnya dianggap sampah kemudian memperoleh fungsi baru. Peserta bebas menyusun, menempelkan, dan mengombinasikan berbagai material sesuai gagasan masing-masing.

Ketua Panitia Setara sekaligus Wakil Ketua Duta Pemuda Kota Makassar 2025, Faizah Almas Cantika Ilham, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program volunteering yang dirancang untuk membuka ruang interaksi bagi masyarakat dengan latar belakang berbeda.

“Setara merupakan salah satu kegiatan inisiatif dari kami. Kami ingin membuka ruang yang setara, sehingga semua orang mendapatkan kesempatan yang sama,” kata Faizah, yang akrab disapa Caca.

Menurut dia, Setara tidak hanya diarahkan kepada penyandang disabilitas. Program tersebut juga dirancang untuk menjangkau kelompok masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap ruang pendidikan, kreativitas, dan pengembangan diri.



SETARA VOL 2 - Peserta mengikuti Setara Vol. 2 di Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin, Makassar, Sabtu (26/9/2026). Kegiatan ini mengajak pemuda dan difabel belajar pengelolaan sampah melalui praktik junk journaling bersama. (Unhas TV / Zahra Tsabita Sucheng)


Kelompok yang dimaksud, kata Faizah, antara lain masyarakat pesisir dan kepulauan, perempuan yang memiliki keterbatasan akses pendidikan, serta kelompok marginal lainnya.

Namun pada pelaksanaan Volume 2, panitia memberikan perhatian khusus pada keterlibatan penyandang disabilitas yang berada di lingkungan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin.

Membangun Interaksi Tanpa Diskriminasi

Bagi panitia, Setara tidak berhenti pada kegiatan membuat karya. Pertemuan antarpeserta justru menjadi bagian penting dari program tersebut.

Peserta diberi ruang untuk berkomunikasi, berbagi pengalaman, dan bekerja bersama tanpa membedakan kondisi fisik maupun latar belakang sosial.

Faizah mengatakan tujuan utama kegiatan tersebut adalah menghadirkan lingkungan yang membuat setiap peserta merasa diterima.

Interaksi antara peserta disabilitas dan nondisabilitas diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mengenai keberagaman dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ingin membuat ruang yang inklusif. Kita saling mendengar cerita masing-masing dan tidak ada diskriminasi atau membedakan yang disabilitas maupun yang tidak,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, peserta juga diperkenalkan pada isu lingkungan melalui cara yang sederhana. Pemanfaatan kertas bekas dalam junk journaling, misalnya, menunjukkan bahwa material yang sudah tidak digunakan masih dapat diolah menjadi karya dengan nilai baru.

Panitia menghadirkan pemateri yang mendemonstrasikan secara langsung proses pemilahan dan pemanfaatan sampah kertas.

Cara tersebut dipilih agar peserta tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, tetapi dapat mempraktikkannya pada saat kegiatan berlangsung.

Menurut Faizah, pendekatan itu diharapkan membuat pesan mengenai pengelolaan sampah lebih mudah diterima. Peserta dapat belajar sekaligus menghasilkan karya berdasarkan kreativitas mereka sendiri.

Setara Volume 2 merupakan penyelenggaraan kedua program tersebut. Pada kegiatan sebelumnya, Forum Duta Pemuda Kota Makassar juga melibatkan peserta penyandang disabilitas.

Pada pelaksanaan tahun ini, kerja sama dilakukan langsung dengan Pusat Disabilitas Universitas Hasanuddin.

Faizah berharap Setara dapat menjadi ruang yang mendorong masyarakat semakin terbiasa berinteraksi dalam lingkungan inklusif.

Kesadaran terhadap keberadaan dan kebutuhan penyandang disabilitas, menurut dia, perlu tumbuh melalui perjumpaan dan kegiatan bersama.

Ia mengatakan peserta tidak hanya diharapkan memahami persoalan pengelolaan sampah. Panitia juga ingin peserta memiliki kesadaran yang lebih kuat bahwa masyarakat terdiri atas individu dengan kebutuhan dan pengalaman yang berbeda.

“Kami ingin menciptakan ruang yang lebih aware, bahwa kita hidup bersama dengan teman-teman difabel dan kelompok lainnya,” kata Faizah.

Setelah Setara Volume 2, Forum Duta Pemuda Kota Makassar juga menyiapkan sejumlah program lanjutan. Salah satunya Youth Creative Academy atau YCA. Forum tersebut juga merancang kegiatan bertajuk Lontara yang berfokus pada literasi keuangan.

Dalam program literasi keuangan itu, Forum Duta Pemuda berencana menghadirkan lembaga dan pemangku kepentingan di sektor keuangan, termasuk Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia, dan Lembaga Penjamin Simpanan.

Melalui rangkaian program tersebut, Forum Duta Pemuda Kota Makassar berupaya membuka lebih banyak ruang belajar bagi anak muda dan masyarakat.

Setara Volume 2 menjadi salah satu bagian dari upaya itu dengan mempertemukan isu lingkungan, kreativitas, dan inklusivitas dalam satu kegiatan.

Di Taman Inklusif Jalinan Jiwa sore itu, pesan tersebut diterjemahkan melalui kegiatan yang sederhana: duduk bersama, mengolah kertas yang tidak terpakai, menghasilkan karya, lalu berinteraksi tanpa memberi sekat pada perbedaan.