Kesehatan
Program
Unhas Health

Setetes Darah, Sejuta Nyawa: Urgensi Donor Darah di Balik Krisis Stok

Dokter Spesialis Patologi Klinik, Dr dr Yuyun Widaningsih MKes SpPK Subsp NR(K) MHPE saat tampil dalam program Unhas Health di Studio Unhas TV, Juni 2026. (Unhas TV / Salman Iskandar)

MAKASSAR, UNHAS.TV — Ketersediaan darah menjadi salah satu faktor krusial dalam sistem layanan kesehatan. Setiap hari, rumah sakit membutuhkan stok darah untuk menangani pasien dalam kondisi darurat, operasi, hingga penyakit kronis.

Dalam rangka memperingati Hari Donor Darah Sedunia 2026, pentingnya donor darah kembali menjadi sorotan.

Dokter Spesialis Patologi Klinik, Dr dr Yuyun Widaningsih MKes SpPK Subsp NR(K) MHPE, menegaskan bahwa kebutuhan darah di rumah sakit bersifat sangat mendesak dan harus tersedia setiap saat.

“Kebutuhan darah di rumah sakit itu sangat urgen. Banyak kondisi kritis seperti kecelakaan, operasi, hingga penyakit kronis yang membutuhkan transfusi darah,” ujarnya dalam program Unhas Health.

Menurutnya, rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin, terus berupaya menjaga ketersediaan stok darah melalui bank darah. Namun, tantangan kerap muncul ketika jumlah donor tidak sebanding dengan kebutuhan pasien.

“Kebutuhan darah itu setiap hari harus ada. Kadang menjadi kendala ketika stok sangat kurang,” jelasnya.

Secara umum, golongan darah O dan A menjadi yang paling banyak dibutuhkan, sementara golongan AB tergolong paling jarang tersedia. Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan donor darah secara rutin.

Tidak hanya pasien darurat, sejumlah penyakit seperti talasemia, leukemia, dan penyakit kronis lainnya juga memerlukan transfusi darah secara berkala sebagai bagian dari terapi. Bahkan, beberapa pasien membutuhkan transfusi setiap bulan.

Jika suatu daerah mengalami kekurangan stok darah, dampaknya bisa sangat fatal. Keterlambatan atau ketiadaan darah dapat mengancam keselamatan pasien.

“Kita tentu tidak ingin mendengar ada pasien yang tidak tertolong hanya karena tidak tersedia darah,” tegas dokter Yuyun.

Ia juga menekankan bahwa donor darah bukan sekadar kegiatan sosial, tetapi kebutuhan kemanusiaan yang berkelanjutan.

Untuk menjadi pendonor, seseorang harus memenuhi sejumlah syarat seperti sehat jasmani, berat badan minimal 45 kilogram, kadar hemoglobin normal, serta tekanan darah dalam batas normal.

Selain itu, proses donor darah juga melalui tahapan ketat, mulai dari pengambilan darah, pemisahan komponen, hingga uji kelayakan untuk memastikan darah bebas dari penyakit menular seperti hepatitis B, hepatitis C, HIV, dan sifilis.

Menjawab kekhawatiran masyarakat, dr. Yuyun menjelaskan bahwa donor darah tidak menyebabkan ketergantungan atau dampak negatif bagi kesehatan. Sebaliknya, tubuh memiliki kemampuan untuk memproduksi kembali sel darah dengan cepat.

“Setelah donor, tubuh akan membentuk sel darah baru yang justru membuat badan lebih bugar,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengakui masih banyak masyarakat yang ragu untuk donor darah karena takut jarum suntik atau khawatir kondisi tubuh menjadi lemah. Padahal, hal tersebut sebagian besar hanyalah mitos.

Untuk itu, edukasi dan peningkatan kesadaran menjadi kunci dalam meningkatkan jumlah pendonor. Peran anak muda dinilai sangat strategis, mengingat mereka memiliki kondisi fisik yang baik serta pengaruh besar melalui media sosial.

“Kalau donor darah bisa menjadi tren positif di kalangan anak muda, ini akan sangat membantu ketersediaan stok darah,” tambahnya.

Dalam momentum Hari Donor Darah Sedunia 2026, dr. Yuyun mengajak seluruh masyarakat, khususnya civitas akademika Universitas Hasanuddin, untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan donor darah.

“Setetes darah yang kita berikan bisa menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan. Ini adalah bentuk kepedulian yang sangat berarti,” pungkasnya.

(Andrea Ririn Karina / Unhas TV)