Makassar

SIT Ikhtiar Bangun Generasi Hebat dengan Sertifikasi Baca Tulis Al-Qur’an

Ratusan santri SIT Ikhtiar Makassar tampil memukau dalam Imtihan dan Khotmul Qur’an di Hotel Unhas Convention, Ahad, 24 Mei 2026, menandai lahirnya generasi Qur’ani masa depan yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga dipersiapkan menjadi cahaya peradaban Islam di tengah era digital dan krisis moral global. (Foto: Dok.Pribadi). Ratusan santri SIT Ikhtiar Makassar tampil memukau dalam Imtihan dan Khotmul Qur’an di Hotel Unhas Convention, Ahad, 24 Mei 2026, menandai lahirnya generasi Qur’ani masa depan yang tidak hanya fasih membaca Al-Qur’an, tetapi juga dipersiapkan menjadi cahaya peradaban Islam di tengah era digital dan krisis moral global. (Foto: Dok.Pribadi).

MAKASSAR,UNHAS.TV — Semangat masyarakat dunia untuk memahami dan menguasai baca tulis Al-Qur’an kini mengalami peningkatan yang sangat besar seiring tumbuhnya kesadaran spiritual global di tengah krisis moral, tekanan sosial, dan disrupsi teknologi modern.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin meningkatnya jumlah lembaga pendidikan Al-Qur’an, platform digital tahfizh internasional, aplikasi pembelajaran Qur’an berbasis kecerdasan buatan, hingga bertambahnya komunitas belajar Al-Qur’an di berbagai negara termasuk di Indonesia.

Laporan sejumlah lembaga pendidikan Islam internasional menunjukkan bahwa minat generasi muda Muslim untuk mempelajari Al-Qur’an mengalami pertumbuhan signifikan pascapandemi karena banyak keluarga mulai menjadikan pendidikan ruhani sebagai fondasi utama pembentukan karakter anak.

Indonesia sendiri hingga saat ini dikenal sebagai salah satu negara dengan populasi pembelajar Al-Qur’an terbesar di dunia karena tradisi mengaji tetap hidup mulai dari masjid, pesantren, rumah tahfizh, hingga sekolah Islam terpadu yang terus berkembang di berbagai daerah.

Di tengah gelombang besar kebangkitan literasi Qur’ani tersebut, Sekolah Islam Terpadu (SIT) Ikhtiar Makassar menggelar Imtihan dan Khatmul Qur’an di Hotel Unhas, Ahad, 24 Mei 2026, dalam suasana yang penuh haru, religius, dan membangkitkan optimisme masa depan pendidikan Islam.

Kepala Seksi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama Kota Makassar menegaskan bahwa sertifikasi pendidikan Al-Qur’an di lingkungan Sekolah Islam Terpadu kini bukan lagi sekadar pelengkap administratif, melainkan kebutuhan sistemik yang sangat mendesak dalam membangun kualitas generasi Muslim masa depan.

Ia menjelaskan bahwa urgensi tersebut lahir dari kenyataan masih adanya guru agama yang berada pada level dasar membaca Al-Qur’an sehingga diperlukan standar kompetensi yang jelas demi menjaga mutu pendidikan Islam secara berkelanjutan.

Menurutnya, karakter khas Sekolah Islam Terpadu yang menjadikan Al-Qur’an sebagai ruh seluruh aktivitas pendidikan menuntut hadirnya sistem penguatan kompetensi baca tulis Al-Qur’an yang profesional, terukur, dan berorientasi pada kualitas pembinaan akhlak peserta didik.

“Ketiga hal tersebut akan mengarah pada lahirnya santri dan siswa yang benar-benar pandai membaca dan menulis Al-Qur’an,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta dan orang tua santri yang memadati lokasi kegiatan.

Ketua Yayasan SIT Ikhtiar, Prof. Dr. H. Syarifuddin Wahid, Ph.D., menegaskan bahwa eksistensi SIT Ikhtiar Makassar saat ini menjadi salah satu model pendidikan Islam modern yang mengintegrasikan pendidikan nasional dengan penguatan kompetensi Qur’ani secara sistematis.

Ia menjelaskan bahwa para alumni SIT Ikhtiar akan menerima dua ijazah sekaligus, yakni ijazah berbasis kurikulum nasional dan ijazah kemampuan baca Al-Qur’an dari Kementerian Agama yang menjadi bukti kompetensi spiritual sekaligus akademik peserta didik.

Menurutnya, sistem tersebut merupakan bentuk ikhtiar untuk melahirkan generasi Muslim yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan modern, tetapi juga kuat dalam fondasi moral, spiritual, dan kemampuan memahami kitab sucinya sendiri.

Kepala Sekolah SD, Ansar, S.Pd.I., Gr., bersama Kepala SMP, Masita Dasa, S.Sos., M.Pd.I., Gr., serta Koordinator Guru Pembina Tahfizh, Muh. Ikhsan, S.H., M.Pd., menyampaikan bahwa Imtihan dan Khatmul Qur’an tahun ini berhasil mewisuda sebanyak 178 santri yang terdiri atas 114 siswa SD dan 64 siswa SMP.

Suasana acara berubah sangat emosional ketika para santri tampil menjawab berbagai materi ujian Al-Qur’an dengan sangat lancar sehingga membuat para hadirin terpukau dan meneteskan air mata haru.

Ribuan pasang mata dipenuhi haru dan kebanggaan saat ratusan santri SIT Ikhtiar Makassar mengikuti Imtihan dan Khatmul Qur’an di Hotel Unhas, Ahad, 24 Mei 2026, sebagai simbol kebangkitan generasi Qur’ani di tengah semakin besarnya minat masyarakat terhadap literasi Al-Qur’an. (Foto: Dok.Pribadi).
Ribuan pasang mata dipenuhi haru dan kebanggaan saat ratusan santri SIT Ikhtiar Makassar mengikuti Imtihan dan Khatmul Qur’an di Hotel Unhas, Ahad, 24 Mei 2026, sebagai simbol kebangkitan generasi Qur’ani di tengah semakin besarnya minat masyarakat terhadap literasi Al-Qur’an. (Foto: Dok.Pribadi).


Banyak orang tua santri bahkan langsung memberikan hadiah istimewa kepada anak-anak mereka sebagai bentuk rasa syukur sekaligus motivasi agar terus mencintai Al-Qur’an sepanjang hidup mereka.

Momentum tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan hanya proses akademik biasa, melainkan perjalanan spiritual keluarga dalam membangun generasi yang memiliki hati lembut, kecerdasan moral, dan kedekatan dengan nilai-nilai ilahiah.

Dalam Islam sendiri, membaca dan mempelajari Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat mulia sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.

Al-Qur’an juga menjadi sumber cahaya peradaban karena wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW diawali dengan perintah “Iqra” atau membaca yang menandakan bahwa tradisi ilmu pengetahuan dan literasi merupakan inti utama ajaran Islam.

Para ulama sepanjang sejarah Islam menegaskan bahwa kemampuan baca tulis Al-Qur’an bukan sekadar keterampilan teknis, tetapi jalan membangun peradaban yang beradab, berakhlak, dan memiliki orientasi hidup yang benar.

Karena itu, implementasi sertifikasi baca tulis Al-Qur’an di sekolah-sekolah Islam dinilai perlu dilakukan secara bijak, tidak terlalu birokratis, dan lebih berfokus pada proses pembinaan kompetensi daripada sekadar formalitas administrasi.

Model pendidikan Qur’ani yang terintegrasi dengan kurikulum berbasis nilai ruhiyah kini dipandang sebagai salah satu jawaban penting dalam menghadapi tantangan era digital yang sering melahirkan krisis identitas, degradasi moral, dan keterasingan spiritual pada generasi muda.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat oleh teknologi dan kecerdasan buatan, banyak kalangan meyakini bahwa kemampuan memahami Al-Qur’an akan menjadi benteng moral sekaligus sumber ketenangan jiwa bagi manusia modern di masa depan.(*)