Lifestyle
News

Skandal di Balik Maestro: Pengakuan Mantan Kekasih Seret Dimitri Payet

Dmitri Payet menghadapi tuduhan kekerasan dari mantan kekasihnya Larissa Ferrari. (the sun)

UNHAS.TV - Nama Dimitri Payet pernah identik dengan gol indah, umpan presisi, dan sorak-sorai stadion. Di West Ham United, ia dipuja sebagai maestro lapangan tengah; di tim nasional Prancis, ia menjadi simbol kreativitas generasi emas.

Namun, di luar gemerlap kariernya, sebuah kisah gelap kini mencuat ke ruang publik—kisah yang masih dipenuhi klaim, bantahan, dan luka personal.

Larissa Ferrari, seorang pengacara asal Brasil berusia 29 tahun, menuduh mantan bintang West Ham itu telah melakukan “penyiksaan psikologis” selama 12 jam dalam hubungan yang ia sebut abusif dan penuh kontrol.

Dalam pengakuannya, Larissa menyatakan Payet menggunakan status dan pengaruhnya untuk “menjebak” dirinya dalam relasi yang merusak, diwarnai permainan mental, penghinaan, dan tindakan yang ia anggap merendahkan martabat.

Menurut Larissa, hubungan itu bermula dari perkenalan via Instagram pada Agustus 2023. Ia mengaku mengetahui Payet—yang telah menikah dan memiliki empat anak—berstatus suami orang.

Awalnya, kata Larissa, relasi tersebut terasa “manis”. Namun suasana berubah drastis. Ia menggambarkan hubungan itu sebagai “permainan mengerikan” yang membuatnya merasa tak berdaya, bahkan sempat mempertimbangkan bunuh diri.

Tuduhan Larissa mencakup klaim bahwa Payet sering melontarkan hinaan, menyebutnya “tidak berharga”, dan membanggakan telah tidur dengan ratusan perempuan—angka yang disebut mencapai 300.

Ia juga menuding adanya “hukuman” untuk mengontrol setiap geraknya, termasuk tindakan seksual yang menurutnya merendahkan.

Larissa mengklaim tubuhnya kerap memar setelah berhubungan intim, serta menyebut Payet menakut-nakutinya dengan klaim memiliki “koneksi mafia”.

Salah satu tuduhan paling serius adalah peristiwa pada Januari 2025, yang disebut Larissa sebagai puncak penderitaan.

Ia mengaku setengah hari berhubungan dan itu sebagai “siksaan”. Larissa merasa dipaksa melakukan tindakan merendahkan di depan kamera agar situasi berhenti. Ia juga menyatakan sempat hamil dan kemudian mengalami keguguran.

Payet, kini berusia 38 tahun, dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut. Pihak perwakilannya telah dihubungi untuk memberikan pernyataan resmi.

Sebelumnya, pada April tahun 2025 lalu, media Inggris melaporkan bahwa Larissa telah melaporkan Payet kepada kepolisian di Brasil—sebuah langkah yang menempatkan perkara ini dalam ranah hukum, meski proses dan hasilnya belum diumumkan ke publik.

Karier Payet menanjak tajam saat membela West Ham United pada 2015–2017. Meski hanya 18 bulan di London Timur, pengaruhnya begitu besar hingga Olympique Marseille menebusnya dengan nilai sekitar £25 juta.

Di Prancis, Payet kembali menjadi pusat permainan. Namun pada 2023, ia memilih tantangan baru dengan hijrah ke Brasil, bergabung dengan Vasco da Gama di Rio de Janeiro. Petualangan itu berumur pendek; Payet dilepas klub pada musim panas berikutnya.

Kini, cerita tentang Payet tak lagi semata soal sepak bola. Tuduhan serius ini menyorot sisi lain kehidupan atlet papan atas—tentang relasi kuasa, privasi, dan batas-batas yang kerap kabur di balik ketenaran.

Seperti banyak kasus serupa, kebenaran akan diuji oleh proses hukum. Sementara itu, publik dihadapkan pada satu pengingat pahit: reputasi di lapangan tak selalu sejalan dengan kisah di luar stadion. (*)