UNHAS.TV - Hal-hal besar sering datang lewat peristiwa kecil. Ada pasien yang menunggu panggilan, ada keluarga yang duduk rapat-rapat, dan ada satu bunyi yang terasa sepele tapi sebenarnya “berbahaya”: ha… ciiin!
Bersin adalah refleks. Ia datang seperti kilat, tanpa izin, tanpa bisa ditahan lama. Masalahnya bukan pada bersinnya, melainkan pada arah dan cara kita “melepaskan” kilat itu.
Bersin terjadi saat saluran hidung mendapat rangsangan. Seperti dari debu, kotoran, atau mikroorganisme, lalu tubuh menyemburkan udara bertekanan tinggi untuk membersihkan jalan napas.
Dalam satu hentakan, yang keluar bukan hanya udara: ada partikel cairan halus (droplet) yang bisa membawa kuman, dan dapat menyebar ke lingkungan sekitar.
Ilmu pengetahuan bahkan menyebut hembusan batuk-bersin bisa membentuk “awan gas turbulen” yang membawa droplet lebih jauh daripada yang selama ini dibayangkan.
Dr dr Nova AL Pieter SpTHT-BKL Subsp Onko(K) FICS, dokter spesialis THT-Bedah Kepala Leher sekaligus konsultan onkologi Fakultas Kedokteran Unhas menyebut bersin sebagai hal lumrah. Dan ia menyebut bersin berarti etika.
Bukan etika dalam arti sopan-santun semata, melainkan etika sebagai pagar kesehatan publik. Bersin sembarangan, apalagi di tempat ramai, membuka peluang penularan. Karena itu, katanya, kita perlu menutup hidung dan mulut dengan benar.
“Kalau tidak pakai masker, pakai sapu tangan. Kalau tidak ada, gunakan siku,” ujar Nova, menekankan prinsip sederhana: cegah droplet melayang bebas saat ditemui di Departemen THT RSP Unhas, Maret 2025 lalu.
Kalimat itu terdengar seperti pengulangan dari masa COVID-19—dan memang begitu. Bukan karena kita terjebak masa lalu, tetapi karena pelajaran lama itu masih relevan.
Pusat kendalinya tetap sama, sumber droplet harus dikendalikan sedekat mungkin dengan mulut dan hidung. Itu sebabnya tisu lebih dianjurkan daripada telapak tangan.
Telapak tangan adalah “alat serba guna” yang akan segera menyentuh gagang pintu, meja, ponsel, atau berjabat tangan—rute cepat memindahkan kuman dari satu permukaan ke permukaan lain.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menekankan kebiasaan menutup bersin/batuk dengan tisu atau siku, lalu mencuci tangan segera setelahnya.
Lipatan siku bagian dalam (inner elbow) jadi pilihan kedua yang lebih aman dibanding telapak tangan. Secara sederhana, siku tidak dipakai untuk memegang benda bersama.
Ia jarang “beredar” dari permukaan ke permukaan. Karena itu banyak pedoman kesehatan menyarankan: bila tak ada tisu, bersinlah ke lengan bagian atas/siku, bukan ke tangan.
Etika bersin yang baik tidak berhenti pada momen “tutup mulut-hidung”. Ada dua langkah lanjutan yang sering dilupakan—padahal justru di situlah rantai penularan suka bersembunyi.
Pertama, buang tisu bekas bersin ke tempat sampah. Kedua, bersihkan tangan setelahnya. Dalam materi edukasi “Cover Your Cough”, CDC menuliskan urutannya jelas: tutup dengan tisu/siku, buang tisu, bersihkan tangan.
Soal cuci tangan, WHO pada 2025 juga menekankan “waktu-waktu kunci” kebersihan tangan di komunitas, salah satunya setelah batuk/bersin/membuang ingus.
Sabun dan air tetap pilihan utama; bila tangan tidak terlihat kotor, pembersih berbasis alkohol (≥60%) dapat menjadi alternatif.
Dokter Nova juga mengingatkan satu hal yang sering memicu salah paham: bersin tidak perlu ditahan. Menahan bersin kadang dianggap “sopan”, padahal yang dibutuhkan adalah cara yang benar dan bertanggung jawab.
Bersin adalah mekanisme perlindungan tubuh. Yang harus diatur adalah “jalur keluarnya” agar tidak menjadi ancaman bagi orang lain.
Di ujungnya, etika bersin adalah praktik kecil dengan dampak besar. Ia seperti lampu sein di jalan: gerak sederhana yang menyelamatkan banyak orang dari tabrakan.
Kita tidak bisa menghapus bersin dari hidup—tapi kita bisa memastikan ia tidak membawa penyakit berkeliling kota.
(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)
Bersin merupakan aktivitas responsif yang harus dijaga agar tidak menularkan penyakit. (dok unhas.tv)
-300x185.webp)




-300x169.webp)


