Mahasiswa
Sosial

Strategi Mahasiswa Rantau Unhas Atur Keuangan, dari Membagi Uang Bulanan hingga Membawa Bekal ke Kampus

Mahasiswi Agroteknologi Unhas A Nadya Nurfadilah, Nur Salsabila, Nadifa Putri Armaly. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Mengatur keuangan menjadi salah satu tantangan bagi mahasiswa perantau yang menjalani perkuliahan jauh dari keluarga.

Mulai dari kebutuhan makan, biaya tugas kuliah, hingga keperluan sehari-hari, mahasiswa dituntut mampu menyesuaikan pengeluaran dengan uang kiriman orang tua agar kebutuhan selama tinggal di perantauan tetap terpenuhi.

Hal ini turut dirasakan sejumlah mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) yang berasal dari berbagai daerah.

Meski memiliki kebiasaan pengeluaran yang berbeda, mereka menerapkan sejumlah cara untuk mengelola uang saku, mulai dari membagi anggaran berdasarkan kebutuhan hingga membeli persediaan makanan untuk mengurangi pengeluaran.

Maria Gabriela Mola Kore, mahasiswa Program Studi Kehutanan asal Maumere, mengaku lebih memilih membeli bahan makanan dalam jumlah tertentu pada awal bulan.

Persediaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan selama tinggal di kos sekaligus mengurangi kebiasaan membeli makanan di luar.

“Kalau untuk mengatur pengeluaran selama per bulan, saya kadang langsung beli di awal bulan, seperti stok makanan yang bisa bertahan lebih lama, contohnya nugget, telur, mi, dan ayam,” ujar Maria.

Menurutnya, membawa bekal dari kos ke kampus juga menjadi salah satu cara untuk menghemat pengeluaran. Ia menyarankan mahasiswa perantau agar tidak terlalu sering membeli makanan di kantin apabila masih memungkinkan untuk menyiapkan makanan sendiri.

Namun, Maria mengakui bahwa makanan tetap menjadi salah satu pengeluaran terbesarnya. Aktivitas perkuliahan yang berlangsung hingga sore hari terkadang membuatnya memilih membeli makanan karena merasa lelah untuk memasak setelah kembali ke kos.

Berbeda dengan Maria, Nurul Magfirah, mahasiswa Kehutanan asal Soppeng, memilih memisahkan uang berdasarkan jenis kebutuhan. Ia membagi pengeluaran untuk makan, tugas perkuliahan, serta keperluan lainnya agar penggunaan uang lebih terarah.

“Kalau untuk manajemen uangnya, saya biasanya pisahkan. Ini untuk makan, ini untuk tugas, dan ini untuk keperluan lain, supaya enggak keteteran,” jelas Nurul.

Meski telah membagi anggaran, Nurul mengaku pengeluaran terbesarnya masih berasal dari kebutuhan makan. Menurutnya, kebiasaan membeli makanan ketika tidak memasak di kos menjadi salah satu faktor yang memengaruhi besarnya pengeluaran sehari-hari.

Sementara itu, Anisa Yuliana Lurang, mahasiswa Kehutanan asal Maluku, mengungkapkan bahwa pengeluarannya tidak selalu sama setiap minggu.

Kebutuhan akademik yang berubah-ubah, seperti mencetak tugas, membuatnya terkadang kesulitan memperkirakan jumlah uang yang harus dikeluarkan.

“Manajemen keuanganku itu enggak pasti, karena kadang tugas tiba-tiba dikasih minggu ini dan kebanyakan ngeprint-nya, terus minggu depannya lagi tidak,” ungkap Anisa.



Mahasiswi Kehutanan Unhas, Anisa Yuliana Lurang, Maria Gabriela Mola Kore, Nurul Magfirah. (Unhas TV / Kautsar Ardiansyah)


Selain kebutuhan perkuliahan, Anisa menyebut makanan dan listrik sebagai pengeluaran yang cukup besar selama tinggal di Makassar. Penggunaan kipas angin yang hampir terus-menerus menjadi salah satu kebutuhan tambahan baginya di tengah cuaca panas Kota Makassar Akhir-akhir ini.

Cara mengelola uang saku yang beragam juga diterapkan oleh mahasiswa Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian Unhas.

A. Nadya Nurfadilah, misalnya, memilih membagi uang sakunya setiap minggu. Menurutnya, kebutuhan makanan menjadi salah satu pengeluaran yang paling dominan, sementara beberapa kebutuhan pribadi, seperti produk perawatan kulit, masih dibelikan langsung oleh orang tuanya.

Berbeda dengan Nadya, Nur Salsabila mengatur pengeluaran dalam jangka waktu bulanan. Ia memisahkan uang untuk kebutuhan sehari-hari dan uang jajan agar masing-masing dapat digunakan sesuai peruntukannya.

“Kalau saya per bulan. Atur uangnya sebenarnya dibagi, uang jajan sama uang untuk kebutuhan rumah,” kata Salsabila.

Ia mengungkapkan bahwa pengeluaran untuk jajan dapat mencapai sekitar Rp1 juta dalam satu bulan. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya kebutuhan konsumsi yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan uang saku mahasiswa.

Sementara itu, Nadifa Putri Armaly juga menerapkan pembagian anggaran bulanan. Ia mengalokasikan uang untuk keperluan kuliah, perawatan diri, serta kebutuhan pribadi lainnya.

“Kalau saya juga per bulan. Cara mengaturnya itu saya bagi-bagi, misalnya ini yang dipakai untuk kuliah, terus ini untuk kebutuhan skincare atau kebutuhan lainnya,” jelas Nadifa.

Perbedaan cara mengatur keuangan tersebut memperlihatkan bahwa setiap mahasiswa memiliki prioritas pengeluaran masing-masing. Sebagian memilih membagi uang berdasarkan waktu, sementara yang lain lebih mengutamakan pemisahan anggaran sesuai kebutuhan.

Selain persoalan keuangan, kehidupan mahasiswa perantau juga diwarnai tantangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Nadya mengaku tugas dan laporan perkuliahan menjadi salah satu kesulitan yang dihadapinya. Sementara itu, Salsabila menilai kondisi sakit ketika jauh dari keluarga merupakan pengalaman yang cukup berat karena harus mengurus kebutuhan sendiri.

“Kesulitannya itu kalau sakit, jadi tidak ada yang urus,” ungkap Salsabila, yang juga mengaku terkadang merasa rindu rumah atau homesick.

Pengalaman berbeda disampaikan Nadifa. Baginya, tinggal sendiri di kamar kos terkadang menimbulkan rasa kesepian, terutama ketika tidak ada teman untuk berbicara.

Berbagai pengalaman tersebut menggambarkan bahwa menjalani perkuliahan di perantauan tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola uang, tetapi juga kemandirian dalam menghadapi kebutuhan akademik dan kehidupan sehari-hari.

Di tengah tantangan tersebut, para mahasiswa berharap sesama anak rantau tetap memiliki semangat dalam menjalani perkuliahan.

Bagi mereka, mengatur pengeluaran, menentukan prioritas kebutuhan, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan menjadi bagian dari proses belajar hidup mandiri selama menempuh pendidikan di Universitas Hasanuddin.

(Kautsar Ardiansyah R / Unhas TV)