Sport

Suara Harry Kane Hilang di Azteca, Nyanyikan Wonderwall Bareng Fans

HABIS SUARA - Harry Kane, Declan Rice, dan pemain Inggris lainnya, bernyanyi bersama para penggemar di Stadion Azteca, Meksiko, Senin (6/7/2026) siang. Saking semangatnya menyanyi lagu OASIS, berjudul Wonderwall, Harry Kane, sampai kehabisan suara. (Screenshot The Sun)

AZTECA, UNHAS.TV - Suara Harry Kane tinggal sisa. Serak, tipis, nyaris mencicit. Kapten Inggris itu berdiri di depan kamera BBC setelah malam yang membuat dada pendukung The Three Lions naik-turun.

Tim Tiga Singa menang 3-2 atas Meksiko di Stadion Azteca, Mexico City, lalu kehilangan suara karena terlalu keras menyanyikan Wonderwall.

“Suaraku hilang,” kata Kane, dengan suara yang lebih mirip bisikan rusak ketimbang pernyataan kapten tim nasional.

“Pertandingan ini gila. Kami harus bertarung. Kami harus menemukan sesuatu. Aku baru saja bernyanyi di sana, aku benar-benar tidak bisa bicara,” lanjutnya

Di media sosial, orang-orang tertawa. Ada yang menyebut Kane berubah menjadi Mickey Mouse setelah 90 menit di Azteca. Ada pula yang menulis, “Harry Mickey Mouse Kane.”

Liam Gallagher, vokalis Oasis, ikut menimpali. Menyanyi memang kerja berat, kata dia, sambil memberi dukungan untuk Inggris dan Wonderwall.

Lagu Oasis itu berubah menjadi semacam mantra Inggris di Piala Dunia ini. Setelah peluit panjang, para pemain berlari ke arah sekitar 3.000 suporter yang datang ke Meksiko. Mereka menyanyikan Wonderwall, lalu Three Lions.

Di bawah langit Azteca, di stadion yang selama puluhan tahun menjadi panggung trauma dan legenda sepak bola, Inggris seperti menemukan lagi bahasa lamanya: menang dengan susah payah, lalu merayakannya seolah baru lolos dari lubang jarum.

Dan memang mereka nyaris tergelincir.

Inggris unggul cepat lewat dua gol Jude Bellingham. Hanya dalam rentang 98 detik pada babak pertama, gelandang Real Madrid itu membuat Meksiko terdiam.

Namun tuan rumah tidak roboh. Julian Quinones memperkecil kedudukan sebelum jeda. Stadion kembali hidup. Tekanan naik. Suhu pertandingan ikut memanas.

Lalu datang kartu merah Jarell Quansah. Inggris harus bermain sekitar 40 menit dengan sepuluh orang. Dari situ pertandingan berubah menjadi ujian mental.

Thomas Tuchel, di pinggir lapangan, melihat timnya mundur, bertahan, dan sesekali mencuri napas lewat serangan balik.

Kane kemudian mendapat panggungnya. Anthony Gordon dijatuhkan di kotak penalti. Kane maju, menendang bola ke sudut gawang, dan membawa Inggris unggul 3-1.

Itu gol keenamnya di turnamen ini. Tapi malam Kane belum selesai. Saat membantu pertahanan, ia justru melakukan pelanggaran yang berujung penalti untuk Meksiko. Raul Jimenez mencetak gol. Skor 3-2. Sisa laga berubah menjadi perang saraf.

Inggris akhirnya bertahan. Kemenangan itu terasa besar, mungkin salah satu yang paling keras mereka rebut dalam beberapa tahun terakhir. Namun pesta itu tak sepenuhnya bersih dari luka.

Cedera karena Terlalu Semangat

Jordan Henderson, yang tidak bermain satu menit pun, cedera saat selebrasi. Ia mencoba melompati papan iklan, jatuh, lalu mendapat perawatan medis.

Henderson ditandu keluar, diberi oksigen, dan dibawa ke rumah sakit. Tuchel menyebut cedera pergelangan tangannya cukup serius.

Maka malam di Azteca berakhir ganjil: Inggris menang, Kane mencetak gol, suara kaptennya hilang, dan seorang pemain cedera bukan karena tekel, melainkan karena selebrasi.

Sepak bola kadang memang begitu. Satu malam bisa memuat kepahlawanan, kelucuan, dan petaka kecil dalam satu tarikan napas. Di Azteca, Inggris mendapatkan semuanya. (*)