MAKASSAR, UNHAS.TV - Setelah mengikuti Talkshow pada Jumat (27/2/2026), para finalis Unhas TV Mencari Dai kembali mendapatkan pembekalan istimewa bertema “Retorika Dakwah”.
Kegiatan ini menghadirkan Kepala MTS Tahfidzul Quran Azhar Centre Makassar sekaligus Dosen STAI Al-Azhar Gowa, Fauziah SPd I MPd sebagai narasumber.
Dalam suasana yang hangat dan interaktif, Fauziah membuka materinya dengan penuh semangat. Ia mengapresiasi para finalis yang telah “ditemukan” sebagai dai dan da’iyah, sekaligus menegaskan bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai.
Menurutnya, dalam berdakwah, kebenaran saja tidak cukup. Cara penyampaian memiliki peran yang sama pentingnya.
“Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang buruk bisa diterima dengan buruk, meski kontennya benar. Sebaliknya, sesuatu yang kurang baik bisa diterima dengan baik karena penyampaiannya baik,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa seorang dai harus mampu menggabungkan dua kebaikan sekaligus, yaitu kebenaran isi dan kebaikan cara penyampaian.
Fauziah menjelaskan bahwa retorika berasal dari bahasa Yunani dan bermakna seni. Karena bersifat seni, retorika tidak memiliki standar baku yang sama untuk setiap orang. Setiap dai memiliki gaya dan karakter masing-masing dalam menyampaikan pesan.
“Yang A menyampaikan dengan gaya A, yang B dengan gaya B. Karena ini seni, maka semuanya bisa terlihat indah selama dilakukan dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, dakwah berasal dari bahasa Arab da’a yang berarti memanggil, mengajak, atau menyeru. Dalam konteks retorika dakwah, ajakan tersebut harus dilakukan dengan cara yang baik dan penuh hikmah.
Sebagai pembekalan yang bisa “dibawa pulang”, Fauziah menekankan dua hal penting yang wajib diperhatikan finalis saat menyampaikan nilai-nilai agama, yakni teks dan konteks.
Teks merujuk pada dalil, baik Al-Qur’an maupun hadis. Seorang dai harus memastikan setiap pesan yang disampaikan memiliki landasan yang relevan serta memahami maksud Allah dan Rasulullah dalam dalil tersebut. Jika tidak ditemukan secara langsung, maka dapat ditelusuri melalui qiyas dalam ilmu fikih.
Namun, menurutnya, teks saja tidak cukup. Konteks juga harus dipahami, baik dalam aspek kekinian maupun kedisinian. Penyesuaian dengan waktu dan tempat menjadi kunci agar pesan dakwah tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
“Islam itu rahmatan lil ‘alamin. Tetapi yang menerjemahkan nilai rahmat itu adalah para dai,” ungkapnya, menegaskan besarnya tanggung jawab yang diemban para finalis.
Pentingnya Performa dan Artikulasi
Selain penguasaan materi, Fauziah juga menyoroti pentingnya performa. Ia menjelaskan bahwa performa terdiri dari dua hal, salah satunya adalah artikulasi.
Artikulasi mencakup kejelasan lafal, pengaturan intonasi, jeda, hingga penguasaan suara. Semua itu tidak cukup hanya dipahami secara teori, tetapi harus dilatih secara konsisten.
Dalam sesi praktik, salah satu finalis, Sukma, mendapat kesempatan tampil. Fauziah memberikan apresiasi atas kepercayaan diri, cara memegang mikrofon, hingga posisi dagu yang memengaruhi vibrasi suara. Ia juga mengingatkan pentingnya jeda agar audiens tidak kehilangan fokus.
Achmad Ghiffary M (Unhas TV)
RETORIKA DAKWAH - Salah satu peserta Unhas TV Mencari Dai 2026, Sukma (kanan) mempraktikkan materi rektorika dakwah yang diberikan pemateri Fauziah SPdI MPd (kiri) di Studio Unhas TV, Makassar, Jumat (27/2/2026). (dok unhas tv)








