Karir
News

Puasa Terjaga, Pelayanan Terpelihara; Kisah Pengemudi Trans Sulsel Tetap Melayani Saat Waktu Berbuka Puasa

TRANS SULSEL - Juru Mudi Perum Damri yang mengemudikan Bus Trans Sulsel Firman AK tetap bertugas di saat momen buka puasa menjelang. (unhas tv/venny septiani)

MAKASSAR, UNHAS.TV - Menjelang senja di Terminal Trans Sulsel, di Kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Tamalanrea, suara mesin bus Koridor 5 tetap menyala.

Di balik kemudi, Firman AK menahan lapar dan dahaga. Waktu berbuka segera tiba, tetapi bus harus tetap berjalan. Penumpang yang mengisi bus tersebut menunggu diantar sampai tujuan.

Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, bagi Firman, bukan hanya soal menunaikan ibadah. Tapi ia tetap bertugas memberi layanan publik tetap berjalan sebagai mana mestinya.

Ya, selama bulan suci umat Islam ini, aktivitas transportasi di wilayah Mamminasata --singkatan dari Makassar, Maros, Sungguminasa (Gowa), dan Takalar -- berjalan normal.

Pengemudi Trans Sulsel bekerja dalam dua skema: shift pagi dan shift siang hingga malam. Pada kondisi tertentu, mereka menjalani long shift demi memastikan ritme layanan tak terputus. Jadwal padat itu menuntut disiplin ekstra—terutama saat berpuasa.

Firman telah dua setengah tahun menjadi juru mudi bus di layanan Mamminasata itu. Ia bergabung dengan Perum Damri dua bulan terakhir.

Ramadan, katanya, membawa suka dan duka. “Ada saat kami harus berbuka di jalan, meninggalkan keluarga di rumah,” ujarnya.

Namun, tugas tetap tugas. Arahan atasan harus dijalankan, fokus dan keselamatan penumpang tak boleh goyah.

Tantangan terbesar datang pada siang hari. Rasa kantuk menyerang, lalu lintas padat, kemacetan tak terelakkan. Di jam-jam itu, konsentrasi menjadi kunci.

Firman memastikan laju bus tetap stabil, pintu berhenti tepat di halte, dan penumpang merasa aman. “Yang penting penumpang nyaman dan tiba di tujuan,” katanya.

Di Koridor 5, rute ini punya peran khusus. Ia menghubungkan Kampus Unhas Tamalanrea hingga Kampus Teknik Unhas Gowa—jalur vital bagi mahasiswa.

Bagi Firman dan rekan-rekannya, profesionalisme adalah harga mati. “Meski ibadah kadang ditunda atau dilakukan di atas kendaraan, tanggung jawab harus jalan,” ujarnya. Ramadan menuntut penyesuaian; jam ibadah beradaptasi dengan ritme kerja.

Layanan Trans Sulsel melayani beberapa koridor utama. Koridor 1 menghubungkan Mall Panakkukang–Pelabuhan Galesong dengan 12 armada harian.

Koridor 2 menghubungkan stasiun kereta api di Maros ke Kampus Unhas Tamalanrea dengan tujuh armada. Salah satu jalurnya masuk ke Bandara Sultan Hasanuddin.

Koridor 5 yang diluncurkan Desember 2025 lalu, menjadi tulang punggung mobilitas mahasiswa dengan 15 armada, berkapasitas 19 penumpang duduk dan 20 berdiri.

Di tengah padatnya jadwal, berbuka sering kali sederhana: seteguk air minum dalam kemasan, beberapa butir kurma, lalu kembali menatap jalan.

Momen itu singkat, namun sarat makna. Di balik seragam dan kemudi, ada keluarga yang menunggu di rumah. Ada rindu yang ditunda demi layanan yang tak boleh berhenti.

Kehadiran pengemudi Trans Sulsel selama Ramadan memastikan denyut kota tetap bergerak. Mahasiswa berangkat kuliah, pekerja tiba di tempat kerja, dan roda ekonomi berputar.

Di senja yang merambat malam, Firman melanjutkan tugasnya—menjaga jarak aman, mengatur kecepatan, dan menuntaskan rute.

Bagi mereka, Ramadan bukan alasan untuk melambat. Justru di bulan inilah arti pelayanan diuji: menahan diri, menjaga fokus, dan tetap melayani.

Bus tiba, penumpang turun, azan berkumandang. Firman tersenyum tipis. Tugas hari ini hampir selesai, esok ia kembali mengulanginya lagi dengan komitmen yang sama.

(Venny Septiani Semuel / Unhas TV)